Pages

14/03/11

GONG (JADE PALACE LOCKHEART) EPISODE 2


Qing Chuan menampar Yinsi. Yinsi terlihat sangat marah, Qing Chuan jadi sedikit takut, ia berkata gerakannya terlalu cepat, sehingga Yinsi tidak sempat menghindar. Ia kemudian memberitahunya bahwa sebenarnya ia tidak ingin menikah dengan Tai Zi, tapi Tai Zi tetap menyiapkan pesta pernikahan walaupun ia tidak mau, oleh karena itu ia menyelinap pergi. Ia bertanya pada Yinsi apa yang dapat dilakukan oleh gadis yang lemah? Yinsi kemudian mengangkatnya dan memanggulnya di pundaknya, keduanya pergi keluar dengan naik kuda. Mereka berhenti disebuah hutan. Qing Chuan yang merasa takut minta diturunkan. Yinsi menurunkannya dan berkata, jika ia tidak ingin menikah, sebaiknya ia segera lari, itu pun kalau ia punya keberanian. Tanpa diberitahu dua kali, Qing Chuan segera berlari, tapi ia teringat bubuk mesiu yang ditemukannya. Hati nuraninya tidak tega, ia tidak bisa membiarkan orang yang tidak bersalah terluka. Qing Chuan berbalik, meminta Yinsi untuk membawanya kembali ke istana. Yinsi tertawa dan memanggilnya materialistis.

Qing Chuan berkata ia tidak peduli apa anggapan Yinsi kepadanya, tapi ia harus membawanya kembali ke istana. Yinsi menyebutnya tidak tahu malu, ketika Qing Chuan akan memukulnya, saat ini ia siap, ia menahan tangan Qing Chuan dan memintanya untuk berhenti menggunakan kekerasan. Ia menambahkan bahwa ia tidak suka memukul wanita, tapi kesabarannya juga terbatas. Qing Chuan memohon padanya untuk membawanya kembali atau orang yang tidak bersalah akan mati. Yinsi berkata apakah Qing Chuan mencoba membodohinya? Yinsi menyuruhnya untuk pulang sendiri dengan berjalan kaki, ia kembali menaiki kudanya dan meninggalkan Qing Chuan sendiri. Qing Chuan berkari mengejarnya sambil berteriak orang yang tidak bersalah akan mati. Yinsi tidak peduli.

Kembali ke istana, para penari berlatih untuk pesta pernikahan. Su Yan mencoba berpikir bagaimana cara meletakkan bubuk mesiu untuk membunuh Putra Mahkota di kamar pengantinnya, ketika seorang pelayan pria dan pangeran ke 18 muncul. Pangeran  ke 18 (putra Kang Xi, berumur 12 an tahun) sangat bosan, ia meminta penari untuk menarikan tarian “Malapetaka di Surga”. Pelayan Yinreng, memberitahunya bahwa sangat tidak sopan untuk menarikan tarian tersebut sebelum pernikahan. Su Yan keluar dari barisannya, ia menarikan tarian seperti silat. Ini menyenangkan  pangeran kecil yang ditinggalkan dalam pengawasan Su Yan dan penari yang lain, sedangkan pelayan tersebut kembali mempersiapkan pesta. Pangeran kecil meminta Su Yan untuk mengajari gerakan tariannya, tapi Su Yan memberitahunya bahwa ia tidak dapat mempelajarinya. Ia mengusulkan untuk bermain petak umpet. Ketika pangeran menutup matanya, Su Yan segera berlari ke kamar pengantin dan menyebarkan bubuk mesiu. Ia tertangkap oleh seorang pelayan pria dan ia memberitahunya bahwa ia sedang bermain petak umpet dengan pangeran ke 18. Pangeran kecil datang dan memberitahu bahwa mereka sedang bermain petak umpet.

Pangeran ke 18 menyuruh pelayan itu pergi dan bersembunyi di bawah bangku untuk menggoda pengantin nanti. Di saat yang sama, Putra Mahkota kecewa karena sang dewi telah menghilang. Yinreng ingin tahu dimana ia berada, tapi para pelayan tidak ada yang tahu juga. Ketika mereka akan membantunya berganti pakaian, ia telah menghilang. Mereka tidak mengawasinya karena Yinreng sendiri yang melarang. Seorang pelayan mengatakan bahwa Pangeran ke 8 membawa seorang wanita pergi dan wanita itu mirip dengan sang dewi. Yinreng kecewa, Yinsi mengambil dewi darinya dan memanggil pengawalnya untuk mencari sang dewi.
Malam tiba, pesta akan segera dimulai. Tamu dari istana heran kenapa pangeran dan pengantinnya belum datang, mereka diberitahu bahwa mereka sedang berada di kamar pengantin dan sebentar lagi keluar. Mendengar hal ini, Su Yan menyalakan kembang api di panggung dan percikan apinya menyalakan api di kamar pengantin. Pengawal kerajaan berusaha mematikan api, tapi pangeran kecil kita terjebak didalam kamar yang terbakar.


Kaisar sangat marah terhadap Yinreng dan menendang putranya, ingin tahu apa yang terjadi. Yinzheng disana juga, mencoba membantu Yinreng. Kang Xi bertanya bagaimana pangeran 18 bisa berada dalam kamar Yinreng dan yang bisa Yinreng katakan hanya menikahi seorang selir. Ini membuat Kaisar kecewa karena Yinreng tidak meminta persetujuannya terlebih dahulu, bahkan Yinreng berniat menceraikan istrinya yang pertama. Kang Xi bertanya apakah Yinreng minta hukuman karena telah berbohong pada Kaisar. Kang Xi tertawa dan memarahi putranya karena mengabaikan peraturan kerajaan. 


Kang Xi mengambil pedangnya dan berkata pada Yinreng untuk bersiap mati. Yinzheng memohon pada ayahnya untuk tidak membunuh Yinreng dengan tergesa-gesa (Aku tidak yakin apakah Yinzheng tulus membantu kakaknya atau ini juga masuk dalam rencananya). Kaisar memperingatkan Yinzheng hukuman yang sama bisa juga ia dapatkan, jika ia berkeras untuk melindungi Yinreng. Yinzheng berkata bahwa mereka adalah saudara, ia harus melindungi kakaknya. Kaisar tersentuh dengan perkataan Yinzheng dan ia menyesalkan andai saja Yinreng mempunyai perasaan yang sama kepada saudaranya yang sekarat dalam kebakaran. Yinzheng berkata bahwa Pangeran ke 18 mungkin masih hidup. Tapi Kasim Li datang dan memberi kabar bahwa pangeran ke 18 telah meninggal. Setelah mendengar ini, Kang Xi memberitahu kasim Li untuk menerbitkan keputusan untuk mencopot jabatan Tai Zi Yinreng dan memasukkannya dalam penjara. Yinreng menangis dan meminta ampun pada ayahnya, tapi Kang Xi tidak mau mendengarkan.


Qing Chuan akhirnya sampai di pintu gerbang istana dan memaki betapa jahatnya Yinsi. Ia mendengar tentang kebakaran dan kematian pangeran ke 18. Ia sedih karena telah terlambat. Ketika melihat Yinreng dan istrinya sedang dikawal oleh pengawal bersenjata, ia segera bersembunyi, takut dilibatkan dalam masalah ini.


Su Yan yang merasa menyesal berada dipinggir sungai sambil menangis, melempar uang kertas ke sungai untuk menghormati  kematian pangeran ke 18. Yinzheng datang dan memegang sebuah payung untuknya. Su Yan memberitahu Yinzheng ia sangat berharap ia tidak pernah melakukan ini karena pangeran ke 18 sangat manis, lucu dan tidak bersalah. Ia merasa pangeran ke 18 tidak layak mendapat nasib seperti itu. Yinzheng berusaha menenangkannya dan memberitahunya bahwa itu semua adalah takdir langit atas keberadaan pangeran 18 disana dan penderitaannya. Yinzheng ternyata ga punya hati ya, adik sendiri yang mati, kok ga sedih. Su Yan berdiri dan menyuruh Yinzheng menyalahkannya. Yinzheng memeluknya dan berkata ialah yang seharusnya disalahkan. Su Yan berkata bahwa mereka  berdua seharusnya pergi ke neraka untuk apa yang mereka lakukan.


Yinzheng berkata tidak, untuk bertobat atas apa yang mereka lakukan, mereka harus terus maju, hidup dengan baik, dan memberikan kehidupan yang baik bagi rakyat. Su Yan bertanya apakah ini dirinya yang sebenarnya dan Yinzheng menjawab bahwa dirinya yang sebenarnya adalah dirinya yng berada di hati Su Yan. Ia juga memberitahunya untuk melihat dirinya yang sebenarnya, ia harus melewati jalan yang sulit. Su Yan takut ia tidak dapat meneruskan, tapi Yinzheng memberitahunya untuk terus, karena sudah tidak ada jalan kembali, jika ia tidak ingin meneruskan, nasibnya seperti pangeran ke 18. Su Yan semakin terbebani. Yinzheng berkata bahwa lebih baik pangeran 18 meninggal sekarang daripada terlahir sebagai pangeran dari ibu kalangan biasa bukan bangsawan yang mempunyai nasib yang menyedihkan. Tidak ada yang mencintai mereka dan hidupnya selalu dalam bahaya. Lebih baik segera berinkarnasi dan memperoleh keluarga lain, hidup dengan lebih baik dan lebih bahagia. Ia menambahkan bahwa ia seperti adiknya, tapi ia ingin merubah nasibnya. Ia kemudian menjatuhkan payungnya dan melemparkan uang kertas yang tersisa sambil memanggil nama adiknya.


Qing Chuan berjalan sendirian dikota dan kelaparan. Ia mencium bau bakpao dan mencari sumber bau itu. Pemilik toko bertanya padanya apakah ia ingin bakpao, tapi ketika ia berkata bahwa ia tidak punya uang, ia segera mengusirnya. Ia berkata bahwa ia bisa bekerja untuk mendapatkan makanan, tapi pemilik toko menolak dan berkata bahwa hasil menjual bakpao inipun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kemudian seorang laki-laki yang baik hati memberinya makanan.


Qing Chuan segera memakannya dan laki-laki itu bertanya apakah ia tidak takut kalau ia seorang yang jahat? Qing Chuan menggelengkan kepalanya dan kembali mendorong makanan itu ke mulutnya. Laki-laki itu memberikan makanannya yang tersisa dan berkata bahwa ia dalam perjalanan bisnis dan ini bekalnya yang tersisa, jadi ia akan pulang. Qing Chuan mengejarnya dan memintanya memberi pekerjaan. Ia mengarang cerita kalau ia hidup sendirian dan ia datang ke ibukota untuk mencari saudaranya, tapi ternyata mereka semua sudah tidak ada. Laki-laki yang baik hati itu membawanya pergi.
Mereka tiba di sebuah toko dan ia memperkenalkannya pada ibunya. Ia menceritakan kisah hidup Qing Chuan (yang dikarangnya) dan berkata ia ingin mempekerjakannya. Ibunya bertanya apakah ia telah menjual baju di Cheng De. Laki-laki itu hanya diam. Ibunya kemudian mengatakan toko mereka tidak berjalan dengan baik dan ia masih ingin membantu orang lain? Dengan keadaan bisnis yang sekarang mereka tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka apalagi ditambah satu orang lagi. Qing Chuan berkata bahwa baju-baju ini sangat indah, bagaimana mungkin Xiao Chun tidak bisa menjualnya. Ibu Xiao Chun bercerita, selain membuat pakaian jadi, Xiao Chun juga ingin membuat baju rancangannya sendiri yang tidak begitu bagus hasilnya. Xiao Chun memberitahu ibunya bahwa mereka tidak bisa menjual baju dengal model yang lama terus dan memakai baju yang modelnya sama terus akan membosankan. Ibu Xiao Chun memberitahu Qing Chuan untuk mencari kerja ditempat lain jadi ia tidak menjadi miskin seperti mereka. Qing Chuan berkata bahwa ia tidak akan pergi, ia akan menghasilkan banyak uang.


Qing Chuan menyewa beberapa gadis sebagai model dan membuat sebuah fashion show di depan toko. Fashion Show itu dilihat bayak orang, Nyonya Gu (Ibu Xiao Chun) kaget dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan. Qing Chuan mulai menawarkan baju-baju tersebut bahkan memberi diskon, orang pun mulai membeli.


Seorang wanita kaya melihat kerumunan dan berhenti, melihat ke toko itu. Qing Chuan melihatnya dan berusaha untuk menawarkan baju-baju itu. Wanita itu berkomentar jika tidak ada yang melihatnya untuk apa untungnya membeli baju? Qing Chuan berpikir bahwa itu bukan tujuan membeli baju. Tapi tiba-tiba ia ingat, suami seorang wanita adalah yang paling penting. Qing Chuan kemudian berkata bahwa baju dapat membantu kita memperoleh perhatian dari suami. Wanita itu menjawab, suaminya bahkan tidak mau melihatnya, bagaimana ia akan mengagumi baju yang dikenakannya? Qing Chuan menduga kalau wanita itu tidak dicintai suaminya, Qing Chuan memberitahunya bahwa ia harus memikirkan suatu rencana bukan hanya pasrah pada nasibnya. Perkataannya membuat wanita itu tertarik dan Qing Chuan memberitahunya bahwa toko Gu ini tidak populer, bahkan nyaris bangkrut, tapi sejak ia datang, toko ini menjadi laris. Wanita itu tersenyum dan berkata jika ada gadis yang pandai seperti Qing Chuan di sisinya, pasti sangat menyenangkan. Ia pun pergi tanpa membeli satu baju pun.


Di istana, Kaisar bangun dan heran karena tidak seorang pun di dekatnya. Ia pun keluar kamar, ia melihat seorang kasim yang sedang mencatat semua tingkah lakunya. Kaisar bertanya siapa yang menyuruhnya melakukan ini. Kasim itu berkata bahwa ia melakukan atas inisiatifnya sendiri. Kasim Li melihatnya, segera datang dan berlutut di depan kaisar. Kaisar bertanya apakah Li ada dibalik semua ini? Kasim Li berkata bahwa kasim itu adalah Xiao Shun’Zi (anak angkatnya) mempunyai ingatan yang buruk dan tidak dapat mengingat hal-hal yang disukai kaisar. Li kemudian memberitahu anaknya untuk menggunakan kepalanya untuk mencari cara yang baik untuk melayani Kaisar, apa yang dilakukannya sekarang sangat bodoh. Kaisar membiarkan keduanya pergi, tapi ia masih curiga, kenapa semua gerakannya dicatat. Li membawa anaknya untuk dipukul sebagai hukuman. Ketika hukumannya selesai dilaksanakan dan pengawal telah pergi, Li kemudian memarahinya karena ketahuan sedang mencatat. Sun’Zi bertanya apakah ia harus terus mencatat dan Li memberitahunya untuk berhati-hati jangan sampai ada orang yang tahu. Di istana dinding-dinding pun punya telinga. Sebenarnya untuk siapa Li melakukan ini? Yinzhengkah? Politik istana memang membingungkan.


Yinzheng pergi ke istana dan bertemu dengan kasim Li yang bertanya kenapa ia datang pagi-pagi. Yinzheng mendengar bahwa ayahnya sering batuk jadi ia datang sambil membawa obat herbal. Li berkata bahwa batuk kaisar sudah ditangani oleh tabib kerajaan dan sudah hampir sembuh. Hal ini mengagetkan Yinzheng, Li kemudian menceritakan kejadian yang terjadi tadi pagi dan itu menyebabkan kesehatan kaisar memburuk, jadi tabib datang untuk memeriksanya. Kasim Li memperingatkan Yinzheng bahwa mereka tidak bisa terlihat bersama karena akan menimbulkan kecurigaan kaisar. Li memberitahunya bahwa ada perekrutan pelayan di istana. Yinzheng terlihat senang mendengar perekrutan ini. Kita bisa menebak kenapa.


Malam itu Su Yan bertemu Yinzheng di hutan yang dipenuhi dengan lampion merah khas cina. Yinzheng sedang memainkan seruling. Yinzheng bertanya, hari apakah ini? Su Yan tidak tahu, ia kemudian menambahkan bahwa hari ini adalah hari ulangtahun Su Yan. Mereka telah saling mengenal selama 3 tahun, dan mereka jarang bertemu. Yinzheng kemudian bertanya apakah Su Yan ingin lebih sering bertemu dengannya? Tentu saja Su Yan mengiyakan. Yinzheng memberitahunya bahwa di istana sedang diadakan perekrutan pelayan, ia akan membuat status manchuria untuknya dan mencarikannya guru agar ia  dididik dengan baik. Ia berharap Su Yan dapat dipilih untuk melayani Kaisar dan dapat membantu dirinya.


Yinzheng bertanya apakah Su Yan mau melakukannya? Su Yan menjawab bahwa ia tidak punya pilihan, Yinzheng memberitahunya bahwa ia bisa menolak permintaannya.  Su Yan memberitahunya bahwa ia bisa berbohong padanya, mengatakan kepadanya untuk  melayani Kaisar, membantunya menjadi Putra Mahkota dan mereka berdua bisa bersama. Yinzheng berkata bahwa ia tidak dapat berbohong, ia berharap suatu saat Su Yan mendapatkan kebahagiaannya. Ia pun segera pergi. Heran, Su Yan kok bisa cinta mati sama orang yang hanya memanfaatkannya saja.


Pagi hari, Qing Chuan sedang memasang mannequin di depan toko. Xiao Chun bertanya apa yang ia lakukan, Qing Chuan menjawab bahwa mereka harus memamerkan baju buatannya, sehingga orang tau kalau toko ini toko baju. Xiao Chun mengerti, tapi ia tidak berpikir kalau Qing Chuan harus melakukan semua pekerjaan berat itu. Qing Chuan menjawab, ia adalah karyawan, jadi ia lah yang harus melakukan semua pekerjaan itu agar memperoleh penghasilan. Xiao Chun bergumam, ia tidak pernah menganggap Qing Chuan adalah karyawannya.


Pembicaraan mereka terganggu dengan datangnya iring-iringan gadis yang akan menjadi pelayan di istana. Qing Chuan sangat kagum melihat pakaian yang dikenakan para pelayan itu. Ia berharap dapat bertemu dengan idolanya, calon Kaisar Yong Zhen. Andai saja ia tahu siapa Yong Zhen itu sebenarnya.


Saat ujian menjadi pelayan, Su Yan bisa melakukan semuanya dengan mengagumkan.
Dua gadis ingin mengganggunya dengan mengalihkan perhatian Su Yan dan memasukkan sesuatu yang tidak enak ke dalam masakan Su Yan. 


Ketika Kasim Li akan mengetest calon pelayan, Shun’Zi  memberikan selembar kertas dengan nama Su Yan di arasnya. Ia memanggil Su Yan, ia mencoba masakannya dan mengatakan Su Yan harus belajar memasak. Su Yan heran, sedangkan dua pelakunya tertawa cekikikan.


Kembali ke kota, Xiao Chun membuat design baru yang cantik, ibunya ingin memajangnya di depan toko, tapi Xiao Chun berkata bahwa ia tidak akan menjualnya.. Nyonya Gu sadar bahwa putranya sedang jatuh cinta. Ia bertanya gadis mana yang ingin dinikahinya? Xiao Chun melihat keluar jendela dimana Qing Chuan berada. Ibunya sadar bahwa Xiao Chun mencintai Qing Chuan dan ia berjanji pada putranya untuk membicarakannya dengan Qing Chuan. 


Nyonya Gu mengajak Qing Chuan mengobrol, ia meminta Qing Chuan menikahi putranya. Qing Chuan meolak karena ia akan pulang ke kampung halamannya cepat atau lambat. Xiao Chun mendengar jawaban Qing Chuan, ia menjatuhkan gaunnya dan lari. Qing Chuan mengejarnya.


Ketika ia bisa menangkap Xiao Chun, Qing Chuan menjelaskan pada Xiao Chun bahwa ia menganggapnya sebagai kakak. Xiao Chun menjawab yang menentukan pernikahan adalah orang tua, mereka harus patuh. Qing Chuan menjawab, mungkin disini memang begitu adatnya, tapi di tempatnya tidak. Xiao Chun berkeras ingin menikahinya, tapi Qing Chuan tetap menolaknya. Xiao Chun pun melangkah pergi. Qing Chuan bertanya apakah ia baik-baik saja, Xiao Chun menjawab bahwa ia tidak akan menyerah dan akan membuatnya jatuh cinta suatu saat nanti. 


Qing Chuan pun berjalan mengikutinya kembali ke toko, tapi ia diserang oleh seseorang dari belakang.


Ketika Qing Chuan sadar, ia berada di ruangan yang mewah dan memakai seragam pelayan. Ia mengenali wanita kaya yang dulu datang ke toko. Ia bertanya siapa dirinya. Seorang kepala pelayan memarahinya karena kasar terhadap selir istana Xi, ia memaksa Qing Chuan untuk berlutut. Qing Chuan kaget. Xi memberitahu Qing Chuan bahwa ia dalam perjalanan pulang dari rumah kakaknya yang telah menang dalam peperangan saat ia bertemu dengan Qing Chuan. Dengan susah payah ia dapat memasukkan Qing Chuan ke dalam istana. Qing Chuan bertanya kenapa ia ingin membawanya masuk kedalam istana? Xi mengingatkan Qing Chuan tentang trik untuk mendapatkan perhatian Kaisar, ia harus membantunya membuat rencana agar ia diperhatikan lagi oleh Kaisar saat ulang tahun Kaisar beberapa hari lagi. 


Qing Chuan bertanya apa yang terjadi jika ia tidak dapat memikirkan sesuatu, Xi menjawab bahwa ia tinggal memanggil nama Jin Momo dan ia akan menyiksanya sampai mati. Qing Chuan langsung menjawab bahwa ia akan membantunya asalkan ia membiarkannya hidup. Xi berkata bila Qing Chuan berhasil, ia akan hidup dengan baik tapi bila tidak akan hidup sengsara. Qing Chuan tidak punya pilihan. Ia harus berpikir keras.




Source: (thanks and credits)
www.asianaddictsannonymous.blogspot.com.
www.viki.com

0 comments:

Posting Komentar