Pages

23/03/11

GONG (JADE PALACE LOCKHEART) EPISODE 4



Kaisar memuji Yinzhen, Yinzhen merasa senang. Consort De dan Yinzheng meninggalkan istana Qian Qing. Consort De memperingatkan Yinzhen tentang ambisinya menjadi kaisar, menasehatinya bahwa ia tidak dapat memaksakan sesuatu yang bukan haknya. Yinzhen heran kenapa ia tidak seperti ibu-ibu yang lain, mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Padahal ia mempunyai kemampuan yang lebih baik daripada Yinreng. Apakah ibunya masih menyimpan dendam masa lalu?

Flashback
Consort De dan pelayannya sedang berjalan di taman. Ia ingin bertemu dengan Yinzhen yang diangkat anak oleh Consort Tong Jia ( Consort Tong Jia saat itu sebagai pengganti Permaisuri, mengurus istana dalam, jabatan yang sekarang dipegang oleh Consort De). Ketika Yinzhen datang ia memberi salam dan memanggilnya Consort De. Consort De bertanya kenapa ia memanggilnya seperti itu, padahal ia adalah ibu kandungnya. Tapi Yinzhen kecil berkata kalau ibunya adalah Consort Tong Jia. Tiba-tiba Consort Tong Jia datang, Yinzhen berlari ke arahnya dan menyebutnya ibu. Mereka pergi, Yinzhen mengejek Consort De.
Yinzhen berkata saat itu ia masih kecil belum tahu apa-apa, bukankah ia kembali padanya ketika Consort Tong Jia meninggal. Consort De berkata bahwa ia hanya mengikuti peraturan istana. Yinzhen adalah anak kandungnya tentu saja ia menyayanginya. Yinzhen bertanya apakah sikapnya akan sama jika yang dipuji Kaisar adalah adiknya Yinthi. Consort De menjelaskan bahwa ia lebih perhatian ke Yinthi karena ia jauh dari rumah sedangkan Yinzhen selalu ada didekatnya. Yinzhen terdiam.
Yinzhen (v/o): “Jika yang ibu katakan benar, kenapa aku tidak merasakan kehangatan? Yang kuperoleh hanyalah rasa sungkan dan ketenangan. Sangat sungkan, sangat dingin.”

Qing Chuan mencari Xin Lian, salah satu pelayan mengatakan bahwa Jin Momo mencarinya dan menyuruhnya membuatkan teh kesehatan untuk Kaisar, padahal sekarang Kaisar telah tiba. Pelayan itu menyuruh Qing Chuan beristirahat, ia akan membantunya membuat teh itu. 

Di istana Chu Xiu, Kaisar sedang bersama dengan selir Xi. Qing Chuan datang membawakan teh kesehatan. Selir Xi bertanya kenapa ia lama sekali, sebelum Qing Chuan sempat menjawab, Selir Xi mengambil teh dari tangannya. Wajah Kaisar mengernyit ketika meminum teh itu, Selir Xi pun ikut meminumnya. Ternyata itu hanya air putih. Kaisar hanya tertawa dan kembali ke istana Qian Qing. Selir Xi memarahi Qing Chuan dan menghukumnya berlutut di atas rantai besi di depan istana Chu Xiu sampai matahari terbenam.

Saat Qing Chuan menjalani hukumannya, sekelompok pelayan lewat, Su Yan berhenti, tidak berani mendekat, ia teringat perintah Yinzhen. Tiba-tiba Yinsi datang, ia menertawakan Qing Chuan. Qing Chuan bertanya kenapa ia tertawa.
Yinsi: “Aku tertawa melihat dirimu yang telah membantunya. Kau membuatku marah karena dirinya. Kamu telah disekap, dipukul dan sekarang berlutut diatas rantai besi, apa yang dia lakukan untukmu? Ia bahkan tidak berani mendekat, setidaknya untuk menghiburmu.”
Qing Chuan menyuruh Su Yan supaya ia tidak mendekat, ia takut Yinsi juga akan membuatnya tersiksa. Yinsi terkesan, tapi Qing Chuan berkata bahwa ia tidak menyesali perbuatannya. Yinsi berkata bahwa ia akan menyesalinya.

Malam pun tiba, Qing Chuan pergi ke ruang makan, tapi ternyata nasinya habis. Jin Momo berkata bahwa ia terlambat jadi mereka telah menghabiskan nasinya. Qing Chuan kesal, ia kembali ke kamarnya. Ia duduk dan menuangkan air minum, ternyata airnya habis. Ia tambah kesal dan memutuskan untuk tidur. Ketika ia membuka selimutnya, kasurnya penuh dengan ular. Ia berkata bahwa ini sudah cukup, ia berlari keluar (mungkin ingin melabrak Yinsi), ketika membuka pintu, sebuah ember mengguyurkan air ke badannya. Ia marah dan berteriak-teriak pada pelayan-pelayan yang mengerjainya. Mereka bubar. Su Yan datang dan menarik tangan Qing Chuan ke taman.
Su Yan: “Aku tidak punya kekuasaan dan tidak bisa banyak membantumu. Aku hanya bisa membantu sedikit, tolong jangan salahkan aku.”

Su Yan memberikan sebuah bakpao. Qing Chuan memakannya sambil menangis dan memaki Yinsi keras-keras. Tiba-tiba Yinzhen datang dan menyuruhnya untuk tidak ribut. Ia memberitahu kalau Qing Chuan sedang sedih, sebaiknya ia menyimpannya dalam hati. Semakin banyak orang yang menyakitinya, ia harus hidup menjadi lebih baik. Qing Chuan kaget. Yinzhen bertanya apakah Qing Chuan mengenalnya? Dengan polos, Qing Chuan mengira ia seorang pengawal kerajaan dan memintanya mengajari beladiri supaya ia tidak ditindas lagi.

Yinzhen berkata ia harus menguatkan hatinya dan bertanya apakah ia pernah sakit hati. Qing Chuan mengiyakan. Yinzhen mengajarinya cara untuk mengurangi sakit hati. Ia membuka sepatunya dan berjalan ditempat yang penuh batu.
Yinzhen: “Jika kakimu sakit, maka sakit hatimu akan berkurang.”
Qing Chuan mengikutinya. Ketika Yinzhen bertanya apakah ia sanggup terus hidup di istana, Qing Chuan menjawab bahwa ia bisa.

Di kamar Qing Chuan, Xin Lian dan pelayan lain sedang mengambil selimutnya. Qing Chuan bertanya kenapa mereka mengambilnya? Xin Lian beralasan mereka menangkap ular yang berada di kasurnya, mereka harus menggunakan selimut karena takut digigit ular itu. Mereka pergi. Qing Chuan tidur tanpa memakai selimut.

Paginya Qing Chuan berjalan di lorong sambil membawa kue untuk Selir Xi. Tiba-tiba sebuah panah melesat dan menancap di hiasan rambutnya. Yinsi datang dan tertawa. Qing Chuan berteriak bahwa ia bisa membunuh seseorang. Yinsi menenangkan, kemampuan memanahnya selalu akurat.
Qing Chuan: “Bagaimana jika kau membunuhku?”
Yinsi: “Jika kau mati, tidak akan apa-apa. Aku akan mengarang cerita kalau kau berbuat jahat dan aku menghukummu.”

Qing Chuan berpikir bahwa Yinsi adalah seorang pangeran sedangkan ia hanya pelayan biasa, bila ia melawannya, ia akan kalah. Qing Chuan pun pergi. Yinsi menghentikannya dan memberitahunya bahwa ia punya 2 kabar untuknya kabar buruk dan kabar baik. Kabar baiknya, ia mengakui ketangguhannya, kabar buruknya ia akan mengerjainya dua kali lipat. Qing Chuan menyebutnya bodoh, ia adalah pangeran, bukan gangster, kenapa ia begitu jahat?

Qing Chuan makan sangat banyak, sampai semua memandangnya dengan mulut ternganga. Setelah itu ia berlatih kekuatan, berlari bolak-balik di lorong. Ia mempersiapkan dirinya supaya dapat menghadapi Yinsi.

Malamnya, pelayan lain telah mengambil selimut dan kasurnya, mereka ingin tahu apakah Qing Chuan bisa tidur. Ternyata, Qing Chuan membuat tempat tidur gantung di depan kamarnya dan ia telah tertidur pulas. Pelayan yang lain menyerah.

Paginya, Yinsi terlihat melamun di ruang belajar mereka. Yintang dan Yin’e menduga kalau Yinsi sedang memikirkan Qing Chuan atau telah jatuh cinta padanya? Yinsi berkata ia tidak mungkin suka pada gadis seperti Qing Chuan.

Seorang kasim datang, ia mengantarkan teh untuk Yinsi. Setelah Yinsi meminumnya, kasim itu berteriak, “Kena kau!” Ternyata ia Qing Chuan. Ia menakut-nakuti Yinsi bahwa ia telah menaruh racun mematikan dalam teh itu. Yintang dan Yin’e panik, mereka segera memanggil tabib istana. Qing Chuan berkata bahwa ia ingin mengajarinya mereka untuk tidak mempermainkan hidup orang lain. 

Yintang ingin membunuh Qing Chuan, tapi Yinsi menghentikannya.
Yinsi: “Jika aku mati dalam satu jam, aku tidak akan menyakitimu dan membiarkanmu pergi dari istana dalam keadaan hidup. Jika kamu hanya mempermainkanku, aku akan membuat hidupmu lebih sengsara lagi!”

Qing Chuan mengaku kalau ia tidak menaruh racun. Ia hanya ingin mengajarinya arti kata-kata : apa yang kau lakukan pada orang lain pasti akan dilakukan orang lain kepadamu.
Qing Chuan: “Pangeran ke 8, 9 dan 10, aku memohon padamu, aku hanyalah pelayan rendahan. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dalam istana ini. Tapi kamu pasti tidak akan membiarkanku hidup tenang. Jadi aku bermain kasar padamu. Coba lihat, apakah statusmu dapat menutupi segalanya.”

Qing Chuan diajak Jin Momo untuk membeli obat di luar istana. Qing Chuan berterima kasih karena sangat sulit keluar dari istana. Jin Momo menyuruhnya untuk membeli sulaman yang bagus untuknya dan ia akan membeli obat sendirian. 
Ketika ia mencari kain bersulam, beberapa orang pria mengikutinya. Qing Chuan takut, ia berusaha melarikan diri, tapi di tempat sepi, pria-pria itu berhasil mengejarnya dan menyerangnya. Qing Chuan berteriak meminta tolong, untunglah Yinzhen ada didekat situ, ia segera menolong Qing Chuan. Ia menghajar pria-pria itu, kemudian menunjukkan tanda pengenalnya, melihat ia seorang pangeran, pria-pria itu lari. 

Qing Chuan menangis ketakutan. Yinzhen bertanya apakah ia baik-baik saja.
Yinzhen: “Dulu sewaktu aku masih kecil, ketika aku ingin menangis, aku akan menengadahkan mukaku ke langit, ingin tahu apakah air mata akan kembali masuk ke dalam mataku.”
Qing Chuan: “Apakah berhasil?”
Yinzhen: “Berhasil jika kau mau.”
Qing Chuan berterima kasih karena Yinzhen telah menyelamatkannya. Yinzhen hanya berkata bahwa ia tidak tahan melihat seorang wanita diganggu oleh dua orang pria.

Di tempat latihan beladiri, seorang pria melapor pada Yintang, ia meminta maaf karena tidak dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya karena tiba-tiba Yinzhen datang. Yintang heran kenapa Yinzhen turut campur. Tiba-tiba Yinsi datang, Yin’e bercerita bahwa Yintang menyuruh seseorang untuk memperkosa Qing Chuan, karena merasa Qing Chuan sudah keterlaluan. 

Yinsi marah mendengar adiknya melakukan hal yang rendah. Yintang heran kenapa Yinsi kasihan  pada Qing Chuan, padahal biasanya  mereka bisa mengerjai orang sampai mati. Ia bertanya apakah Yinsi menyukai Qing Chuan. Yinsi berkata bahwa ia tidak mau melakukan hal yang rendah pada wanita. Yintang berjanji tidak akan menyentuh Qing Chuan lagi

Selesai latihan mereka kembali ke kediaman mereka. Tiba-tiba Qing Chuan datang. Ia sangat marah. Ia mengira kalau Yinsi yang menyuruh orang untuk memperkosanya. Ia bukan seperti pelayan lainnya yang hanya menerima saja perlakuan mereka, kecuali kalau ia mati. Qing Chuan pun segera pergi.

Setelah pergi, Qing Chuan merasa takut, ia heran kenapa ia berani memarahi Yinsi, padahal ini adalah istana. Bisa-bisa ia akan dihukum mati. Tapi ia tidak peduli, karena Yinsi sangat jahat padanya.

Qing Chuan mengantarkan makanan pencuci mulut untuk selir Xi. Ia berpikir apakah ia bisa bertemu dengan Yinzhen lagi. Disaat yang sama Yinzhen sedang bermain guqin (seperti kecapi), ia teringat kata-kata yang di ucapkan kaisar padanya. Qing Chuan mendengar permainannya dan mendekatinya. Yinzhen menghentikan permainannya. Qing Chuan memujinya, tapi Yinzhen berkata bahwa ia tidak akan memainkannya lagi. Qing Chuan bertanya apa dia mengganggunya, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongannya kemarin. Yinzhen tidak mendengarkannya, ia segera pergi.

Yinsi sedang melamun. Ia teringat kata-kata Qing Chuan padanya. Ia heran kenapa ia tidak marah atas perlakuan Qing Chuan yang kasar padanya, apakah ia.......Romance in the air......

Qing Chuan sedang berjalan menuju kamarnya, ia sangat capek. Tiba-tiba ada beberapa oarng yang menyeretnya ke suatu tempat.
Ia bertanya siapa mereka. Mereka hanya berkata bahwa mereka bertugas untuk memandikan dan mendandaninya. Qing Chuan segera diseret ke bak mandi, seluruh tubuhnya diperiksa. Ia  dirawat dari ujung rambut ke ujung kaki. Tapi jangan dibayangkan seperti kalau kita perawatan di salon. Perawatan jaman dahulu sangat kasar, dan benar-benar memakai bahan-bahan alami seperti telur dsb. Setelah selesai mandi, ia didandani dan diberi baju yang indah. Kemudian disuruh masuk ke suatu ruangan. Seseorangnya menunggunya disana.

Orang itu ternyata Yinsi. Qing Chuan bertanya apa lagi yang ia inginkan darinya. Yinsi berkata bahwa ia menyukainya dan ingin menjadikannya selir. Qing Chuan bertanya dia dapat ide dari mana, apa yang ingin dia lakukan? Yinsi berkeras bahwa ia serius dengan perkataannya.
Yinsi: “Aku telah memikirkannya. Aku tidak pernah bertemu wanita yang begitu bebas di depanku. Aku tidak pernah bertemu wanita sepertimu, yang membuatku selalu berpikir tentangmu. Karena kita cocok satu sama lain, aku akan membiarkanmu berada disisiku.”

Mendengar pengakuan  Yinsi, Qing Chuan malah mengucapkan selamat tinggal dan pergi. Yinsi menghentikannya, ia bertanya apa ia tidak cukup baik untuknya, padahal ia putra kaisar.
Qing Chuan: “Aku juga tahu, tapi tidak semua wanita berpikiran dangkal seperti yang kau pikir.Banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang dan kekuasaan.”
Yinsi: “Apa itu?”
Qing Chuan: "Cinta sejati."
Yinsi: “Apa itu cinta sejati?”
Qing Chuan: “Lihat, kamu sangat bodoh, bahkan kamu tidak tahu cinta sejati itu apa. Sia-sia berbicara denganmu.”

Qing Chuan pun pergi. Yinsi mengikutinya. Qing Chuan berkata bahwa hanya ada dua kemungkinan yang terjadi diantara mereka, pertama, sebagai Pangeran Yinsi akan membunuhnya atau mengusirnya keluar istana dan yang kedua ia akan memukul Yinsi.

Qing Chuan kembali ke kamarnya. Xin Lian dan temannya melihatnya. Mereka heran kenapa Qing Chuan memakai baju yang bagus dan berdandan cantik. Mereka bertanya apakah Kaisar menjadikannya selir? Qing Chuan menjawab bahwa Yinsilah yang ingin menjadikannya selir, tapi ia menolaknya. Ia tidak ingin menikahi orang bodoh seperti dirinya. Qing Chuan pun masuk kamar. Teman-temannya heran kenapa Yinsi menyukai Qing Chuan. Mereka merasa dunia ini tidak adil. Mereka berebutan sepatu yang tadi dilemparkan Qing Chuan.



Source: thanks for the video
www.viki.com



2 comments:

danamumania mengatakan...

akhirnyaaa....X3

ayo mb lanjutin lagi,lucu banget e...hihihi

Nkz mengatakan...

Lucuuuu...

Posting Komentar