Pages

27/05/11

CITY HUNTER EPISODE 1



Scene dimulai dengan kunjungan Presiden Korea Selatan ke Musoleum Martir, Rangoon Birma pada tanggal 9 Oktober 1983. Saat mereka tiba, sebuah bom meledak, menewaskan 16 orang dan menghancurkan tempat itu.


Dua agen yang selamat dari bom itu, Lee Jin Pyo dan Park Mu Yeol, mereka bersahabat dan mata-mata dari unit anti Korea Utara. Dalam kengerian itu, mereka melihat rekan senegaranya dibantai.



Di Seoul, sebuah dewan rahasia yang terdiri dari 5 pejabat tinggi pemerintahan Korsel menerima laporan bahwa Korut ikut bertanggungjawab atas pengeboman itu. Mereka membicarakan tindakan yang akan mereka lakukan. Orang yang paling berpengaruh diantara mereka adalah Choi Eung Chan yang memimpin dewan itu menganggapnya sebagai isyarat perang sehingga mereka harus membalasnya.
Tapi karena alasan politik yang berpengaruh terhadap hubungan Korea Selatan dengan negara lain, rencana mereka untuk membunuh pejabat pemerintahan Korut hanya boleh diketahui oleh mereka berlima, bahkan Presiden pun tidak tahu rencana rahasia ini.


Choi Eung Chan menyuruh dua orang agen khususnya, Jin Pyo dan Mu Yeol untuk ikut dalam operasi ini.
Jin Pyo yang masih single menyuruh temannya untuk tidak ikut misi ini, karena Mu Yeol baru saja menjadi ayah. Istrinya Kyung Hee baru saja melahirkan putra mereka. Mu Yeol tidak setuju kalau Jin Pyo melakukan misi berbahaya ini sendirian. Ia memberitahu istrinya kalau ia akan pulang setelah misi ini selesai.


Dua agen itu bersama timnya mulai merencanakan taktik yang akan digunakan dalam serangan Pyongyang. Choi Eung Chan datang ketika pelatihan hampir selesai untuk mengekspresikan kebanggaannya pada pekerjaan mereka dan berjanji mempertaruhkan nyawanya untuk memastikan kepulangan mereka dengan selamat, “Ini janjiku sebagai laki-laki, sebagai saudara setanah air, sebagai sunbaemu.”
Tim operasi rahasia itu berhasil masuk ke Pyongyang, berpakaian seperti tentara Korut dan membunuh target mereka dengan efisien. Misi itu berhasil, mereka pergi ke pantai untuk menunggu kapal selam yang akan menjemput mereka.
Di saat yang sama di Seoul, dewan lima diberitahu kalau Presiden sudah memberikan pernyataan kalau Korea Selatan tidak akan membalas serangan Burma. Ini berarti mereka tidak akan mendapat dukungan militer. Choi Eung Chan merasa ngeri karena ia mengirim tim itu dalam operasi yang terhormat, ia tidak bisa membiarkan 21 orang itu terbunuh. Ia menentang ide teman-temannya untuk membereskan tim itu. Ia menuduh mereka hanya peduli pada diri sendiri dan jabatan mereka.
Kelihatannya ia tidak punya alternatif lain. Untuk menjaga keamanan negara dan menjaga kekuasaan politiknya, ia harus memutuskan untuk menyetujui mengorbankan 21 orang itu untuk tujuan yang lebih besar.
Jadi ketika tim itu mulai menaiki dek kapal selam itu , penembak tersembunyi menembaki mereka. Tim itu tidak punya tempat untuk bersembunyi, sehingga menembaki mereka jadi sangat mudah.


Penembak jitu itu mengganti sasarannya dengan menembaki satu persatu anggota tim. Mu Yeol melihat kalau ia dan Jin Pyo dalam sasaran penembak itu. Ia menyelam dan menutupi tubuh temannya dengan tubuhnya sendiri dan mendorong Jin Pyo ke dalam air, ketika ia tertembak. Ia akhirnya membiarkan Jin Pyo naik ke permukaan setelah penembak jitu itu puas, semua anggota tim telah dibunuhnya, ia pun kembali masuk ke dalam kapal selam.
Mu Yeol sekarat. Ia memberitahu Jin Pyo untuk bertahan hidup dan kembali ke rumah untuk merawat keluarganya. Dengan napas terakhirnya, “Aku menyayangimu, temanku.” Mu Yeol pun meninggal.


Jin Pyo menangis dalam kesedihan dan mengirim temannya ke dasar laut dengan satu salam yang memilukan. Ia pergi ke darat sebagai satu-satunya orang yang selamat. Sekarang ia adalah saksi dari tindakan dewan rahasia.
Choi Eung Chan adalah satu-satunya anggota dewan yang sangat terpengaruh oleh kejadian itu. Ia merasa sangat sedih mendengar kematian 21 orang itu. Ia merasa telah mengkhianati mereka karena ia telah berjanji untuk membawa mereka pulang.


Jin Pyo berhasil menyelinap ke dalam kantornya. Ia menyudutkan Choi Eung Chan dengan sebilah pisau dan mengingatkannya tentang janji akan membawa mereka kembali. Choi Eung Chan tahu kalau ia pantas menerima itu dan memberitahu Jin Pyo dengan penuh penyesalan untuk membunuhnya. Tapi ia diselamatkan oleh ketukan di pintu. Jin Pyo segera menyelinap ke jendela.
Ia meninggalkan catatan yang ditancapkan ke meja kerja Choi Eung Chan dengan sebilah pisau, “Aku bersumpah akan membayar harga 21 nyawa yang dikhianati oleh negaranya.”


Selanjutnya, Jin Pyo mencari Kyung Hee, istri Mu Yeol. Ketika ia sedang pergi, ia menculik putranya. Ia meninggalkan sebuah catatan, “Mu Yeol sudah meninggal. Aku mengambil bayimu untuk kubesarkan. Bayi ini harus kubawa pergi supaya kau bisa berbahagia. Mulailah hidup baru. Kamu harus berbahagia.”


Kyung Hee menangis dan segera berlari keluar, tapi ia tidak menemukan Jin Pyo dan putranya. Jin Pyo keluar dari Korea dengan naik kapal. Seorang wanita yang baik hati menenangkan bayi Kyung Hee yang menangis ketika ia bersumpah untuk kembali dengan balas dendam yang paling kejam di dunia, yang menjadi alasannya untuk hidup.

10 tahun kemudian


 Jin Pyo tinggal di daerah segitiga emas, Asia Tenggara yang merupakan penghasil narkoba. Jin Pyo  telah menjadi bos narkoba yang keras, memerintah suatu daerah dengan orang-orang dibawah kekuasaannya. Ia keras dan tidak mudah memaafkan jika berhubungan dengan hukuman, seperti tembakan didada jika kau mencuri narkoba. Ia melakukannya tanpa mengedipkan mata.


Ia juga jadi ayah yang penuntut bagi Yoon Sung, memastikan kalau anak itu diajari berkelahi dan menembak. Ia tak henti-hentinya meminta kesempurnaan  pada Yoon Sung, terus mendiktekannya ke kepalanya, jika tembakan meleset, maka ia akan mati.
Yoon Sung menahan semua itu. Hanya satu pertanyaan yang terus berada dalam benaknya, dimana ibunya. Ia menemukan foto tua di meja Jin Pyo, foto Jin Pyo dengan orangtua kandungnya. Ia bertanya apakah wanita dalam foto itu ibunya, karena ia merasa begitu.


Jin Pyo menolak untuk memberikan informasi. Ia memberitahu Yoon Sung kalau ibunya sudah meninggal. Yoon Sung pun patah hati.


Ia melihat dengan penuh kerinduan, seorang wanita desa yang sedang memperhatikan anaknya yang tertidur di pangkuannya (wanita yang sama yang menenangkannya ketika ia masih bayi). Ketika wanita itu menyuruhnya masuk, dengan bersemangat ia mendekatinya dan meletakkan kepalanya di pangkuan wanita itu.
Meskipun cara mengasuh Jin Pyo sangat keras, Yoon Sung tumbuh menjadi anak yang lucu, nakal dan sabar.

7 tahun kemudian



Sebagai remaja yang ceroboh, ia menyelinap keluar membuat ayahnya marah, karena mengkhawatirkan kalau ia terkena ranjau darat yang tersebar dimana-mana. Yoon Sung berlayar ke desa dengan teman-temannya. Disana ia mendengar seseorang berbicara dengan bahasa Korea dan melihat dengan ingin tahu, sarang judi ditempat itu, dimana seorang bos geng lokal mengancam akan membunuh seorang penjudi Korea.
Ia melihat apa yang terjadi dan mengganggu mereka dengan melemparkan apel melalui jendela dengan presisi seorang penembak jitu, mengenai salah satu anggota geng itu. Anggota geng melihat keluar jendela dan menemukan Yoon Sung yang tersenyum pada mereka. Ia kemudian melemparkan sebuah apel lagi. Kali ini mengenai wajah bos geng itu.


Ia menarik penjudi Korea itu dan lari melewati jalan desa itu, mencoba malarikan diri dan menghindari penangkapan melalui sungai. Ia membawa orang itu pulang. Ayahnya marah dan menamparnya, memperingatkan untuk tidak membawa orang asing ke rumah. Yoon Sung protes, ia membawa orang itu karena ia akan dibunuh. Ayahnya mengalah dan bertanya pada Bae Shik Joong, apa yang bisa dilakukannya. Dengan menggerutu, Shik Joong menjawab kalau ia bisa memasak.


Shik Joong membuktikan perkataannya, ia memasak makanan Korea. Ayah pun memperbolehkannya tinggal dengan memperingatkannya, “Jika kau melarikan diri, kau mati!”


Yoon Sung melihat dengan rasa ingin tahu, sebuah foto gadis cantik yang di bawa Shik Joong, Kim Nana, ia berpikir kalau gadis itu anak Shik Joong.
Yoon Sung memberitahu Shik Joong hal-hal yang ada di rumah itu, seperti kebiasaan tidur Jin Pyo yang menakutkan yaitu duduk dengan membawa senjata yang terkokang. Ia juga menunjukkan keahlian menembaknya yang sudah meningkat.


Orang-orang ayahnya datang sambil menyeret seorang wanita desa, wanita yang menjadi ibu pengganti bagi Yoon Sung, dan mengikatnya di batang kayu untuk dieksekusi. Kesalahannya adalah, suaminya melarikan diri dengan membawa narkoba.


Yang paling buruk, Jin Pyo menyuruh Yoon Sung menembaknya, berkeras bahwa peraturannya harus selalu ditegakkan. Ketika Yoon Sung menolak, ia mengeluarkan senjatanya, siap menembaknya.
Yoon Sung buru-buru mengusulkan suatu kesepakatan, ia yang akan menembak. Tapi jika ia bisa menembak semua target dengan tepat, maka ayah harus mengampuni wanita itu. Hanya untuk kali ini saja.


Ayah setuju. Yoon Sung mempersiapkan mentalnya kemudian mulai menembak. Ia menembak beberapa buah yang masih tergantung di pohonnya, kemudian target yang terbuat dari kayu, kemudian melemparkan senjatanya dengan marah. Ia sudah membuktikan kemampuannya.


Yoon Sung berbaring di tempat tidurnya. Ia melihat foto Nana. Ia mulai berbicara dengan foto itu. Ia tidak percaya kalau ayahnya menyuruhnya menembak orang yang disayanginya dan merenung, “Kau mungkin berada di tempat yang disebut Seoul dan hidup bahagia bukan?”
Di saat yang sama, sebuah tim gangster menyusup ke rumahnya, menyerang beberapa penjaga dan masuk ke ruangan dalam, dimana ketunya melihat Yoon Sung yang sedang berbaring. Ternyata mereka gangster yang akan menghukum Shik Joong. Mereka datang untuk membalas dendam.


Untung saja keterampilan bertarung Yoon Sung selalu diasah, ketika ia mendengar bunyi klik dari senjata mereka, ia segera berguling dari tempat tidur, merunduk dan memperingatkan Shik Joong untuk bersembunyi, sebelum mereka menembakkan senjatanya.
Jin Pyo mendengar dari kejauhan. Ia dan anak buahnya sedang berada di luar, mereka bergegas kembali ke rumah, dimana gangster itu menemukan Yoon Sung tergeletak di lantai, berpura-pura mati.


Yoon Sung menunggu waktu yang tepat, kemudian melompat dan menyerang kambali. Ia bersembunyi dibelakang sebuah pilar untuk menghindari serangan mereka.


Dan wanita itu, ibu penggantinya, takut akan keselamatan Yoon Sung. Ia berlari ke arahnya dan berteriak memberikan peringatan. Ia tertembak. Yoon Sung shock, tanpa memperhatikan sekelilingnya, ia segera berlari ke arah ibunya, menangis dan menyuruhnya bangun.
Ia hampir tertembak, tapi ayahnya datang dan menembak penerangnya. Kesedihan Yoon Sung berubah jadi kemarahan. Ia mengambil senjatanya dan melompat keluar untuk membalas dendam, ia bersumpah akan membunuh mereka semua.


Ia mengejar tiga anggota geng yang tersisa, mencoba untuk menembak dan berlari secara bersamaan. Tapi ada bunyi klik dibawah kakinya, ia langsung terdiam, sadar kalau ia menginjak ranjau darat.


Yoon Sung terdiam, ia melihat targetnya dan bersiap untuk menembak, tapi ternyata ia kehabisan peluru. Para penyerangnya melihat kesempatan itu, mereka mengangkat senjatanya untuk menembaknya, Jin Pyo datang dan menyelamatkan putranya.


Jin Pyo segera berusaha menjinakkan ranjau yang ada dibawah kaki Yoon Sung. Ia merasa takut, sedangkan Yoon Sung mulai berkeringat, menahan ketakutannya.
Ayah memberikan pandangan yang menenangkan, tepat sebelum ia melompat dan mendorong Yoon Sung sebelum ranjau itu meledak.


Ledakan itu mengenai salah satu kaki Jin Pyo. Yoon Sung mengendong ayahnya dan menangis panik. Ia memohon pada dokter untuk menolongnya. Jin Pyo menahan rasa sakitnya dengan tenang dan menyuruh Yoon Sung untuk mendengarkannya, jika ia meninggal, ia punya sesuatu yang  penting dan mulai bercerita tentang ayah kandung Yoon Sung.
Yoon Sung shock saat Jin Pyo memberitahunya kalau orang yang menyelamatkan hidupnya, yang telah dikhianati oleh negaranya, yang ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya adalah ayah kandung Yoon Sung. Ia berkata setengah meminta dan setengah memerintah, “Letakkan peluru ke dalam jantung musuh ayahmu dan aku.”
Jin Pyo pun pingsan, tapi ia selamat. Selama masa pemulihannya, ia teringat kembali masa lalunya, ketika ia memohon agar temannya tidak mati dan meminta maaf pada istri Mu Yeol.


Yoon Sung akhirnya mengerti kenapa Jin Pyo membesarkannya dengan keras dan kenapa ia melatihnya dengan kejam. Ia merenung sambil memandang foto ibunya, sekarang ia tahu kalau pria lain yang ada dalam foto itu adalah ayahnya.


Ia kemudian pergi menemui Jin Pyo untuk mencari informasi sebelum memutuskan untuk membalas dendam dan diberitahu kalau orang yang harus dibunuhnya ada 5 orang.
Yoon Sung: “Jika aku membunuh 5 orang itu, apakah kau dan aku bisa hidup dengan baik lagi, di tempat yang tidak diketahui orang?”
Jin Pyo mengangguk.
Yoon Sung: “Aku akan bertanya satu hal lagi. Apakah ibuku.....masih hidup?”
Jin Pyo: “Dia masih hidup.”
Dengan muram ia pergi dari tempat itu dan memberitahu Shik Joong: “Aku akan berubah sekarang. Ini adalah takdirku.”

7 tahun kemudian


Yoon Sung tiba di airport. Ia telah kembali ke Seoul, tidak lagi sebagai anak yang lucu dan nakal, tapi sekarang seorang pria yang serius, yang mempunyai tujuan tertentu. Hal pertama yang dilakukannya adalah menerima telpon dari Jin Pyo, mengatakan kalau ia sudah tiba di Seoul. Jin Pyo memberitahu target pertamanya adalah Lee Kyung Wan. Ia juga mengingatkannya, “Lupakan kehidupanmu di Amerika, tapi jangan pernah lupakan kematian ayahmu.”


Yoon Sung meminta sopirnya untuk berhenti sejenak. Ia keluar dari mobil untuk melihat ke sekeliling sebuah plaza di tengah-tengah kota, yang ada patung Admiral Yi Soon Shin.


Ia melihat pemandangan kehidupan biasa, menutup matanya dan merenungkan kata-kata Jin Pyo yang bergema di telinganya, “Jangan mencintai seseorang. Jika identitasmu terbongkar, kau dan orang-orang disekitarmu akan bersimbah darah.”


Dan sebuah wajah muncul, Kim Nana, tersenyum dan memberikan kartu pada orang-orang yang lewat. Yoon Sung yang berdiri begitu dekat, tidak menyadari keberadaannya.



Credits: www.dramabeans.com
 

0 comments:

Posting Komentar