Pages

26/09/11

JADE PALACE LOCKHEART EPISODE 18


Su Yan masuk ke dalam kompleks kediaman pangeran. Ia membuka surat dari Yinzhen yang ternyata peta tempat itu. Ketika sedang mengamati peta tersebut, tiba-tiba ada seorang kasim yang datang. Su Yan kaget, ternyata kasim itu adalah Yinreng. Yinreng ingin bertemu seorang peramal. Ia sangat mengkhawatirkan Qing Chuan, jadi ia ingin bertanya pada peramal itu. 


Su Yan mencegahnya, karena pintu gerbang sudah ditutup, bila ketahuan, Yinreng bisa dihukum Kaisar. Yinreng menenangkannya dan menunjukkan sebuah lencana, ia sudah mempersiapkan semuanya. Su Yan sangat tersentuh dengan sikap Yinreng.


Saat mereka berbicara ada kasim yang memata-matai mereka. Tiba-tiba serombongan kasim yang sedang ronda menegur mereka. Yinreng berusaha menyembunyikan wajahnya. Su Yan berkata kalau kasim ini (Yinreng) lupa mengantarkan camilan untuk pangeran, jadi ia sedang memarahinya. Kasim yang lain menyuruh mereka segera tidur. Setelah mereka pergi, Su Yan segera menyuruh Yinreng pergi, ia takut akan ada yang datang lagi.



Di istana Qian Qing, Kasim Li sedang bertanya pada Sun’Zi apakah ia tahu siapa yang akan dikunjungi Kaisar hari ini. Sun’Zi malah balas bertanya apakah Kasim Li tahu. Kasim Li menunjukkan cincin gioknya. Sun’Zi bertanya apakah Selir Yifeng yang memberikannya. Kaism Li memindahkan papan nama Selir Yifeng ketempat yang paling pinggir sambil berkata kalau  seorang pelayan mampu membuat senang tuannya, maka pelayan tersebut bisa mengendalikan tuannya.


Seorang Kasim datang melapor. Ternyata ia kasim yang memata-matai Su Yan. Ia melapor kalau Yinreng pergi keluar istana. Kasim Li memberinya hadiah dan kasim itu pun pergi.
Sun’Zi langsung panik, ia ingin menghentikan Yinreng. Kasim Li menghentikannya dan berkata kalau sebelum melakukan sesuatu, sebaiknya ia memikirkan untung ruginya terlebih dahulu.Ia pun bertanya, “Jika kau pergi menghentikan Pangeran, kau akan merusak rencananya. Kau tahu apa yang akan ia lakukan.”
Sun’Zi: “Ia akan menghukum mati aku.”
Kasim Li: “Jika kau diam saja dan melaporkan pada Kaisar, apa yang akan terjadi padamu?”
Sun’Zi: “Kaisar akan memberikan penghargaan padaku.”
Sun’Zi mengerti dan mengurungkan niatnya. Kasim Li mengajaknya masuk dan secara diam-diam, Sun’Zi mengubah susunan papan.


Kasim Li melapor pada Kaisar kalau Yinreng pergi keluar istana. Kaisar sangat marah, Kasim Li berusaha menenangkannya. Mungkin Yinreng merasa bosan didalam istana, jadi ia pergi keluar untuk menenangkan diri dan segera kembali.


Kasim Li memberi isyarat pada Sun’Zi yang segera menyodorkan deretan papan nama pada Kaisar. Kasim Li bertanya dimana Kaisar akan beristirahat. Kaisar mengambil satu papan nama dan Sun’Zi langsung mengumumkan kalau Kaisar akan bermalam di istana Ciu Xiu. Kaisar marah dan melempar papan itu. Ia belum mengatakan apapun dan Sun’Zi sudah mendahuluinya. Kaisar bertanya apakah Sun’Zi mendapat suap dari Selir Xi. Sun’ Zi berlutut dan memohon ampun. Kaisar menyuruh Kasim Li untuk menghukum Sun’Zi 100 kali pukulan.


Kasim Li menyeret Sun’Zi keluar dan menyuruhnya berlutut. Ia bertanya apakah Sun’Zi menerima uang dari Selir Xi? Ia kemudian memarahinya karena bertindak terlalu ceroboh. Sun’Zi menangis dan bercerita kalau ia tidak mendapatkan uang dari Selir Xi. Ia hanya ingin membantunya karena Selir Xi terlihat semakin kurus dan kesepian. Ia menambahkan kalau dulu Selir Xi adalah cinta pertamanya dan ia masuk ke istana karenanya. Sayangnya sekarang Selir Xi membencinya dan tidak ingin bertemu dengannya. Kasim Li menghiburnya dan memberi nasehat. Ia menyuruh Sun’Zi berdiri dan pergi menerima hukumannya, ia akan menyuruh penjaga untuk tidak memukulnya keras-keras.


Yinsi, Yinthang dan Yin’e sedang berjalan-jalan, mereka melihat Long Ke Duo yang sedang berjalan hilir mudik. Mereka heran kenapa Long masih berani menunggu Yinzhen ditempat terbuka, mereka pun berniat mengganggunya.


Mereka menghampiri Long dan memberi salam. Mereka protes kenapa Long membedakan mereka, bukankah mereka juga keponakannya. Long menjawab kalau ia tidak pernah membedakan keponakan-keponakannya. Yinsi meminta Long untuk mengajari mereka menulis. Long berusaha menolak dan mengatakan kalau tulisannya tidak begitu bagus, tapi ketiga bersaudara itu memaksanya. 


Dari kejauhan, Yinzhen melihat mereka dan bertanya-tanya apakah Long sekarang berpihak pada Yinsi.


Qing Chuan sedang naik kereta kuda bersama Ziyan. Ziyan berterimakasih pada Qing Chuan karena membantunya menjadi populer lagi. Jika Qing Chuan ada masalah, ia bisa meminta bantuan padanya. Mereka melewati orang yang mengumpulkan dana untuk bencana alam. Qing Chuan meminta bantuan Ziyan untuk menyumbangkan sedikit uang. Ziyan pun segera turun dan menyumbang 100 tael.


Para pencari dana itu berterimakasih dan memintanya untuk menuliskan nama. Ziyan menolak dan menyuruh mereka datang ke rumah bordil Meng Xian untuk menontonnya.


Saat itu, Yinzhen datang dan bertanya bagaimana pendapatan mereka. Para pencari dana itu melapor kalau ada seorang wanita yang baru saja menyumbang 100 tael. Yinzhen langsung menoleh ke arah kereta Qing Chuan, pada saat yang sama, Qing Chuan membuka tirai dan mereka berpandangan.


Qing Chuan panik dan menyuruh kusir untuk segera pergi, Yinzhen pun mengejarnya sambil meneriakkan namanya. Tanpa sengaja ibu Liu juga melihat. Ia merasa takut.


Qing Chuan kembali ke rumah bordil, ia segera meminta bantuan bibi Jiu. Sedangkan Yinzhen berhasil mengikutinya sampai Meng Xian. Ia masuk ke dalam sambil memanggil-manggil Qing Chuan.


Ziyan menghampirinya dan bertanya apakah ia ingin minum arak. Yinzhen berkata kalau ia ingin bertemu dengan wanita yang baryu saja masuk. Ziyan berkata kalau wanita itu sedang tidak enak badan, jadi ia sekarang sedang beristirahat. Yinzhen memaksa, ia terus memanggil nama Qing Chuan sedangkan Ziyan berusaha menahannya.


Bibi Jiu mendekati mereka, ia memakai baju Qing Chuan. Ia bertanya kenapa Yinzhen tadi mengejar-ngejarnya. Yinzhen merasa tidak percaya, tapi bibi berkeras. Apa perlu ia menyuruh semua wanita yang ada disini keluar. Wanita penghibur juga boleh menyumbang untuk bencana alam kan. Yinzhen sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia pun pulang ke rumah. 


Sedangkan Qing Chuan mengintipnya dari kejauhan.


Malamnya ia berlatih pedang untuk menghilangkan rasa frustasinya. 


Setelah selesai ia masuk ke dalam. Secara tidak sengaja ia melihat ibu Liu sedang membakar uang kertas sambil memohon. Ia meminta maaf pada Qing Chuan. Sebenarnya ia tidak ingin membunuhnya,ia hanya bawahan yang melaksanakan perintah Fujinnya. Yinzhen kaget, ia pun segera mengarahkan pedangnya pada ibu Liu. 


Ibu Liu ketakutan dan mengaku kalau disuruh Jin Zhi untuk membuang Qing Chuan ke sungai.


Jin Zhi yang mendengar adanya ribut-ribut pun segera keluar. Yinzhen segera mengarahkan pedangnya pada Jin Zhi dan bertanya apakah ia menyuruh ibu Liu untuk membuang Qing Chuan ke sungai. Jin Zhi tidak menyangkal.


Yinzhen: “Kenapa?”
Jin Zhi: “Kau masih tanya kenapa? Jika kau tidak menyukaiku kenapa kau menikahiku dan kemudian berhubungan dengan wanita lain?”
Yinzhen: “Aku tidak punya hubungan…..”
Jin Zhi: “Jika kau tidak punya hubungan kenapa kau menodongkan pedang kepadaku?”


Jin Zhi berkata kalau sejak kecil ia melihat ibu menunggu ayahnya. Setelah dewasa ia ingin seorang pria yang mencintainya dan menjaganya, tapi kenyataannya Yinzhen lebih buruk dari ayahnya. Paling tidak ayahnya mencintai ibu dengan tulus, sedangkan Yinzhen sama sekali tidak mencintainya. Kadang ia menghibur diri kalau wanita-wanita itu yang mendekatinya, tapi ternyata ia salah. Sekarang ayahnya dekat dengan Yinsi, ia bisa mengerti. Ia yang salah. Ia buta dan tidak melihat segalanya dengan benar. 



Jin Zhi menyuruh Yinzhen untuk membunuhnya saja dan dikehidupan lain, ia akan membuka matanya lebar-lebar.


Yinzhen jadi merasa bersalah. Ia pun segera pergi. Jin Zhi terjatuh di tanah dan ibu Liu berusaha  menenangkannya.


Yinzhen merasa frustasi, ia minum-minum di Meng Xian sampai hampir pagi. Bibi Jiu mendekatinya dan bertanya sebenarnya ia mau minum-minum sampai kapan, apakah ia punya uang, Yinzhen meminta seteko arak lagi dan memberikan satu tael perak pada bibi. Bibi Jiu menerimanya dengan gembira dan mempersilahkannya untuk minum dan tinggal sepuasnya.


Bibi Jiu segera masuk ke dalam, Qing Chuan bertanya apakah Yinzhen belum pergi? Bibi Jiu tidak peduli apakah ia pergi atau tidak. Kelihatannya orang itu cukup kaya dan sangat menyukai Qing Chuan, kenapa Qing Chuan menolaknya? Qing Chuan berkata kalau ia pria beristri. Bibi Jiu berkomentar kalau pria boleh mempunyai banyak istri. Qing Chuan tidak bisa menjelaskan ia meminta bibi Jiu untuk tidur saja karena lingkaran matanya mulai muncul. Bibi Jiu menurut dan menyuruh Qing Chuan untuk mengurus Yinzhen.


Yinzhen sudah mulai mabuk. Qing Chuan melihat dari balik tirai dan berkata kalau ia meminum arak untuk menghilangkan kepenatan maka ia akan semakin penat dan menyuruhnya pulang saja.  Yinzhen bertanya apakah ia orang Meng Xian. Qing Chuan membenarkan dan menyuruh Yinzhen untuk menceritakan masalahnya saja biar ia merasa lega.


Yinzhen memberitahunya kalau ia tidak bisa bercerita. Qing Chuan bertanya apakah didalam hatinya tidak ada orang yang dipercayainya? Yinzhen menggeleng. Qing Chuan berkata kalau ia bisa mempercayainya. Mereka berdua tidak saling mengenal, setelah malam ini mungkin mereka tidak akan bertemu lagi.
Yinzhen berpikir sebentar dan berkata kalau ia akan bercerita padanya. Sejak dia lahir, dulu ada orang yang berkata padanya kalau ia putra selir kesekian. Sepintar atau segiat apapun dirinya ia tidak akan bisa menandingi kakaknya yang bodoh. Setiap hari ia merasa tegang. Ia berusaha membuat ayah dan ibunya senang. Ia tidak pernah bahagia, yang ada hanya persaingan. Bersaing dan bersaing lagi. Saat ini ia sudah lelah. Setelah berkata seperti itu, Yinzhen tertidur. 


Qing Chuan mendekatinya, ia merasa sedih dan mengelus bahu Yinzhen, “Melihatmu begini membuat hatiku sakit. Tetapi aku harus bagaimana?”


Su Yan sedang menyiram tanaman ketika Yinreng kembali. Su Yan menyapanya tapi Yinreng terlihat lemas. Ia memberitahu Su Yan kalau Qing Chuan sudah meninggal ia terkubur di dalam makam Taifei. Su Yan kaget, ia berusaha menghibur Yinreng. Yinreng berkata kalau Qing Chuan adalah harapannya, jika ia meninggal maka harapannya akan hilang. Yinreng masuk ke kamarnya dengan langkah gontai. Di tengah jalan ia pingsan. Su Yan segera menghampirinya dan berteriak meminta tolong.


Su Yan merawat Yinreng yang terus mengigau memanggil-manggil Qing Chuan. Tiba-tiba ia terbangun dan memeluk Su Yan. Su Yan berusaha melepaskan diri dan berkata kalau ia bukan Qing Chuan, ia adalah pelayan yang ditugaskan untuk melayaninya.
Yinreng tersadar dan melepaskannya. Ia kembali sedih dan teringat Qing Chuan yang dikiranya telah meninggal.
Tiba-tiba kasim Li datang dan mengumumkan kalau Kaisar melarang Yinreng untuk keluar dari kamarnya. Yinreng terlihat semakin tertekan.


Ia berkata kalau Qing Chuan baru saja pergi, mereka sudah menyerangnya lagi. Su Yan berusaha menenangkannya.
Yinreng menatap Su Yan dan berkata kalau sejak ia lahir, putra Kaisar yang lain sangat iri padanya, karena begitu ia lahir, ia langsung menjadi putra mahkota. Tapi karena statusnya ini, ia merasa begitu lelah dan menderita. Semua perkataan dan tingkah lakunya selalu diawasi, jika ia melakukan kesalahan, mereka akan berkata kalau ia tidak pantas menjadi Putra Mahkota. Selain itu ia harus selalu menghadapi niat jahat mereka. Ia begitu lelah dan depresi. Oleh karena itu ia menjadi semena-mena dan suka bermain wanita. Ia banyak makan dan malas. Orang hanya melihat luarnya saja, padahal ia sangat kesepian.
Setelah bertemu dengan Qing Chuan, Ia merasa lebih berani karena Qing Chuan selalu memberinya harapan, menyemangatinya, “Putra Mahkota, Kau bisa melakukannya.” Ia jadi punya harapan merasa didukung. Tapi sekarang Qing Chuan sudah tiada. Su Yan menatap Yinreng dengan iba. Ia bingung, tidak tahu harus berbuat apa.


Yinreng mulai berhalusinasi lagi. Ia berkata kalau mereka sudah datang untuk menyiksanya lagi. Ia terus mengulang kata-katanya, sedangkan Su Yan hanya bisa berdiri menemaninya.
Paginya, Su Yan sedang berjalan di lorong istana. Ia akan mengantarkan obat untuk Yinreng. Ternyata Yinzhen sudah  menunggunya. Ia bertanya kenapa Su Yan belum melaporkan apapun. Su Yan berkata kalau Yinreng sakit, jadi ia tidak sempat melapor.


Yinzhen kaget mendengarnya. Ia mengambil mangkok dalam nampan yang dibawa Su Yan, ia membantingnya ke lantai. Ia mengambil pecahannya dan menyayatkan ke pergelangan tangannya. Ia menambahkan darahnya ke dalam mangkok obat Yinreng dan mengantarkan obat itu kepadanya. Sedangkan Su Yan hanya berdiri terpaku.
Yinzen menyuapkan obat pada Yinreng. Yinreng berkata kalau hanya Yinzhen yang berani menjenguknya. Yinzhen berkata kalau bagaimanapun juga mereka adalah saudara. Yinreng merasa senang dan menepuk tangan Yinzhen, Yinzhen merasa kesakitan. Yinreng segera memeriksa tanagnnya dan panik, ia menyuruh penjaga untuk memanggil dokter.
Yinzhen tidak mau memanggil dokter, ia yang melakukannya sendiri karena ia pernah membaca buku kalau untuk menyembuhkan saudara kandung, bisa menggunakan darahnya sendiri, jadi ia mencobanya.


Yinreng merasa terharu, ia berkata kalau ia adalah saudaranya yang baik. Mereka tumbuh bersama, ketika Consort De memberikan surat itu, ia merasa sedikit ragu. Mulai sekarang ia akan mempercayai Yinzhen.
Ia pun mengambil surat bukti kejahatan Yinzhen dari bawah bantalnya. Ia memberikannya pada Yinzhen. Yinzhen berusaha menolaknya.

1 comments:

Anonim mengatakan...

makasih dah dilanjut..., ditunggu lanjutan nya kak.., semangat ^^(tika)

Posting Komentar