Pages

13/11/11

JADE PALACE LOCKHEART EPISODE 21


Ketika Yinsi memegang tangannya, Qing Chuan melihat Su Yan yang menatap mereka. Qing Chuan pun berusaha melepaskan tangannya dan segera menghampiri Su Yan. Su Yan terlihat sedih dan pucat. Ia bertanya apakah orang hidup itu perlu alasan, jika alasannya untuk hidup hilang, apakah hidup bisa terus berjalan. Qing Chuan terlihat khawatir melihat keadaan Su Yan, ia memintanya untuk menemui tabib, tapi Su Yan menolak.

Su Yan berkata kalau ia ingin mengatakan hal yang penting pada Qing Chuan dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Qing Chuan pun mengikutinya. Yinsi melihat mereka dari jauh. Ia melihat kalau Su Yan terlihat tidak sehat dan khawatir jika Su Yan pingsan, Qing Chuan tidak bisa mengurusnya. Akhirnya ia mengikuti mereka.


Su Yan membawanya ke tempat yang tinggi di dalam istana. Ia bercerita kalu sejak kecil ia ikut dengan rombongan penghibur keliling. Ia biasa merasakan kelaparan dan kedinginan. Ia sudah tahan dengan penghinaan dan pelecehan. Ia berpikir kalau ia harus menghadapinya seumur hidupnya, sampai…..

Flashback.


Su Yan sedang mengadakan pertunjukkan disuatu kota. Kebetulan Yinzhen melihat pertunjukkan itu. Ketika Su Yan mengumpulkan uang, Yinzhen memberikan uang yang banyak, Su Yan kaget dan menatap Yinzhen. Melihat Yinzhen sangat tampan, ia menjadi berdebar, tak sengaja saputangannya jatuh. Yinzhen pun mengambilnya. Dari jauh ada seseorang yang memperhatikan mereka.


Su Yan berdandan di ruang gantinya, tiba-tiba ada seorang pria yang mengganggunya. Ia pun berusaha melawan. Pria itu berkata kalau ia sudah membesarkan Su Yan sedak kecil, kenapa sekarang ia berani menggoda pria dibelakangnya. Su Yan membantah, tapi pria itu tidak mau mendengarkannya, daripada menjual Su Yan dengan harga yang murah, lebih baik ia menikmatinya sendiri, ia pun berusaha memperkosa Su Yan. Untungnya ada seorang pria yang menolongnya dan pria itu adalah Yinzhen.


Yinzhen mengembalikan saputangannya. Su Yan berterimakasih padanya. Yinzhen memberitahunya kalau ia tidak bisa tinggal bersama grup ini lagi, jadi sebaiknya ia ikut bersamanya saja.


Kembali ke masa kini, Su Yan berjalan dengan tertatih-tatih. Qing Chuan bertanya bukankah ia pernah bercerita kalau orangtuanya dibunuh oleh Yinreng, bagaimana ia bisa bergabung dengan rombongan penghibur. Su Yan hanya tersenyum sinis dan berkata kalau Qing Chuan sangat naif, selalu mempercayai omongan orang. Setelah ia bersama Yinzhen, akhirnya ia tahu kalau Yinzhen punya banyak tujuan besar. Tugas pertamanya adalah memenangkan kontes di Meng Xian (episode 1), sayangnya ia kalah oleh Qing Chuan.


Tapi akhirnya ia bisa masuk istana dan berkali-kali ia ditugaskan untuk membunuh Qing Chuan. Tapi ia selalu gagal melaksanakannya karena persahabatan mereka yang konyol. Dan akhirnya mereka berdua malah bersama. Qing Chuan gemetar dan merasa tidak percaya. Tapi Su Yan meyakinkannya.
Su Yan: “Siapa lagi yang bisa begitu tidak punya hati. Saat ia memanfaatkanmu, ia akan menghujanimu dengan perhatian, ketika ia membuangmu, ia pun melakukannya tanpa perasaan.”
Qing Chuan mulai menangis ia masih tidak bercaya. Su Yan bertanya-tanya, jika ia melaksanakan perintah Yinzhen untuk membunuh Qing Chuan, bagaimana jadinya, jika Qing Chuan tidak ada didunia ini, apakah Yinzhen akan tertarik kepadanya? Qing Chuan bertanya kenapa Yinzhen ingin membunuhnya. Su Yan menjelaskan kalau semua ini karena Yinsi. Yinsi adalah saingan politik terbesarnya dan juga karena Selir Xi bergabung dengan Yinsi. Yinzhen sangat ingin mendapatkan tahta dan ia akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkannya. Ia bahkan sampai hati membuat saudaranya terbakar, “Kau dianggapnya apa?”


Qing Chuan masih tidak percaya dan menangis, Yinsi yang mengikutinya berteriak, “Apa yang sedang kau lakukan?” Su Yan langsung menarik Qing Chuan ke dinding pembatas dan mengancam akan melemparkan Qing Chuan kebawah jika Yinsi mendekat. Yinsi pun menurut.
Su Yan heran, kenapa ada begitu banyak orang yang selalu ingin melindunginya, ia merasa sangat iri padanya. Tapi ia tidak yakin kalau Yinsi mau mengorbankan nyawanya demi dirinya.
Ia berkata pada Yinsi, jika ia ingin menyelamatkan Qing Chuan, maka ia harus bunuh diri. Qing Chuan berusaha melarangnya. Yinsi diam, ia mempertimbangkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Su Yan mengejeknya, ia pasti tidak berani. Ia memberitahu Qing Chuan kalau pria itu hanya seperti itu, selalu memikirkan diri sendiri.


Yinsi menjadi ragu, ia terus menatap Qing Chuan, sedangkan Qing Chuan terus melarangnya. Yinsi mengambil bendera yang ada didekatnya, ia mematahkan tiangnya dan menusukkan ke perutnya. Qing Chuan menjerit….


Ia segera melepaskan diri dari Su Yan yang masih ternganga. Ia segera mendekati Yinsi yang berlutut ditanah menahan sakit. Yinsi mencabut tongkat yang menancap di perutnya, “Aku tidak apa-apa, asalkan kau baik-baik saja.”So sweeeet….


Su Yan yang terlalu frustasi hanya tertawa melihat mereka. Ia terlihat sangat depresi. Dengan pandangan sedih, Su Yan mulai membaca puisi, “Pangeran ke empat, pada kehidupan ini kau tidak menyukaiku, pada kehidupan yang akan datang, walaupun aku jadi hantu, aku akan terus mengikutimu.” Ia menatap Qing Chuan sambil tersenyum, kemudian melompat dari atas tembok dan terjatuh ke tanah. Qing Chuan berteriak memanggil namanya.


Qing Chuan memandang ke bawah dengan pandangan penuh dendam, ia meminta Yinsi untuk mengantarkannya  ke kediaman Yong Wang.


Di kediaman Yong Wang, Yinzhen sedang memberikan surat tanah dan rumah pada Jin Zhi. Ia berkata kalau kehidupan manusia itu cocok, maka akan menikah kalau tidak cocok,maka akan berpisah. Daripada hidup bersama tapi saling menderita, lebih baik berpisah saja. Jin Zhi berkata kalau pernikahan mereka adalah perintah Kaisar, apa Yinzhen tidak takut akan dihukum olehnya. Yinzhen berkeras, paling-paling ia hanya akan melepaskan statusnya.
Jin Zhi berkata, jika ia menyetujuinya menikah lagi, apakah ia tidak akan menceraikannya. Yinzhen berkata kalau ia hanya ingin hidup dengan Qing Chuan.
Jin Zhi jadi kesal, Yinzhen benar-benar tega. Apa ia tidak tahu bagaimana masyarakat memperlakukan wanita yang bercerai. Jin Zhi menangis, dulu ketika ia masih bisa dimanfaatkan, Yinzhen menikahinya, sekarang, setelah ia tidak berguna, Yinzhen mencampakkannya.


Yinzhen merasa bersalah, ia pun berjanji untuk tidak menceraikan Jin Zhi, ia akan memberikan semua harta, rumah dan tanah padanya. Yinzhen pergi, tapi Jin Zhi menghentikannya, ia terus memohon pada Yinzhen dan memeluknya. Dengan pandangan dingin, Yinzhen melepaskan pelukan Jin Zhi dan menyuruhnya untuk menganggap kalau ia sudah mati. Ia pun pergi, Jin Zhi berusaha mengejarnya dan memanggil-manggil namanya.


Di depan pintu gerbang, ia melihat Qing Chuan yang datang bersama Yinsi. Ia mendekatinya dan bertanya kenapa Qing Chuan datang. Qing Chuan berkata kalau ia ingin menanyakan sesuatu padanya, “Apakah Su Yan masuk ke istana untuk kepentinganmu? Apakah kau berniat membunuhku demi kekuasaan?”
Yinzhen: “Ya, tapi waktu itu…..”
Qing Chuan: “Apa kekuasaan itu sangat penting bagimu, sampai-sampai kau menukarnya dengan nyawa. Bahkan nyawa keluargamu sendiri.”
Yinsi terlihat kaget, sedangkan Yinzhen terlihat putus asa. Ia meminta Qing Chuan untuk mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


Qing Chuan sangat marah, ia tidak mau mendengar apapun lagi dan mengajak Yinsi pergi. Yinzhen berusaha mencegahnya, tapi Yinsi menghalangi dan berkata kalau Qing Chuan sudah mengatakan dengan jelas. 


Yinzhen berkata kalau ini urusan mereka berdua, tapi Yinsi tidak mau mengalah. Mereka pun berkelahi dan Qing Chuan berusaha melerai.


Qing Chuan bertanya apa yang ingin dikatakannya. Yinzhen berkata kali ini ia benar- benar tulus. Qing Chuan menyahut, ia sudah mengatakan hal itu pada berapa orang dan bagaimana nasib orang-orang itu, bahkan sekarang Su Yan sudah meninggal. Ia tidak ingin perasaannya bercampur dengan hal yang kompleks apalagi menjadi tangga untuk naik ke atas.
Dengan dingin Yinzhen berkata kalau orang mati tidak ada hubungan dengan dirinya, Ia hanya ingin menjelaskan padanya. Qing Chuan semakin marah, apakah nyawa manusia itu tidak ada harganya. Qing Chuan pun pergi. Sedangkan Yinzhen berusaha menahan airmatanya dengan menatap ke arah langit.


Qing Chuan termenung di jembatan, Yinsi khawatir ia pun mendekatinya. Qing Chuan bertanya apakah menjadi Kaisar penting baginya. Heran, dari tadi kok ga ada darah di perut Yinsi, bukannya tadi ditusuk???


Yinsi: “Bagiku kau lebih berharga daripada tahta. Jujur, dulu aku ingin menjadi putra mahkota, bukan untuk kekuasaan, tapi aku merasa, jika aku menjadi putra mahkota, aku akan bisa melindungimu dengan lebih baik lagi. Jika kau tidak ingin aku melakukannya, aku tidak akan melakukannya”
Qing Chuan: “Kau harus jadi Kaisar. Orang yang tidak menghargai hubungan darah, tidak cocok untuk memerintah dunia. Aku tidak percaya, dibawah pemerintahannya akan ada kedamaian.”
Qing Chuan berkata kalau Yinsi adalah orang yang terbuka, jujur dan berperasaan, ia akan cocok menjadi Kaisar. Ia akan membantunya untuk mewujudkan keinginannya. Ia ingin mengubah sejarah.


Malamnya, Xiao Chun berjalan menuju ke suatu tempat bersama ibunya. Ibunya heran, jika ia mencari kain, kenapa ia tidak pergi ke toko kain, malah ke tempat yang menakutkan seperti ini. Rupanya Xiao Chun mencari kain di tempat pembuangan mayat pelayan-pelayan istana. Disini ia bisa mendapatkan kain sutra gratis. Ibunya sangat ketakutan, tapi Xiao Chun malah sibuk memeriksa kain.
Akhirnya ibu tidak tahan, ia pun segera berbalik pulang, tanpa sengaja ia tersandung sebuah mayat yang langsung jatuh menindihnya. Ibu Xiao Chun berteriak-teriak ketakutan.


Di rumahnya, seorang tabib sedang merawat seorang gadis, ternyata mayat yang menindih ibu Xiao Chun itu adalah Su Yan. Ia belum meninggal hanya saja terluka parah. Orang jaman dulu hebat ya, jatuh dari ketinggian segitu ga meninggal, patah tulang pun tidak. lol. 


Ibu Xiao Chun tidak setuju kalau mereka harus merawatnya, ia takut akan ada masalah. Xiao Chun berkata kalau gadis itu adalah teman Qing Chuan, yang berarti juga temannya. Mereka harus merawatnya, jika sembuh terserah gadis itu apa ia mau tinggal atau pergi.


Beberapa hari kemudian, Qing Chuan menggambar rancangan senjata, ia meminta Yinsi membuatnya. Tapi Yin’e dan Yinthang malah menertawakannya.
Mereka berkata kalau mereka belum pernah melihatnya dan bagaimana mereka tahu kegunaannya. Bukankah lebih baik berlatih pedang saja. Qing Chuan berpikir, ia melihat senjata itu hanya di novel saja, bagaimana ia menjelaskan pada mereka.


 Yinsi yang melihat Qing Chuan diam, menjadi khawatir. Qing Chuan pun kesal dan berkata kalau mereka tidak mau membuatnya, ia akan pergi saja. 


Yinsi mencegahnya dan berkata akan membuat senjata itu untuknya. Ia pun menyuruh Yin’e dan Yinthang. Qing Chuan berkata kalau ini semua untuk kebaikan Yinsi.


Setelah senjata itu selesai dibuat, merekapun berlatih. Hanya saja , Qing Chuan tidak bisa melemparnya. Ia pun hanya jadi bahan tertawaan ketiga bersaudara itu. Qing Chuan jadi marah dan Yinsi pun berjanji kalau ia akan membiarkan Qing Chuan mengenainya kali ini. Orang yang ahli pasti bisa mengenainya, jadi ia melatihnya untuk menghindari senjata itu.


Qing Chuan melemparnya lagi, kali ini Yinsi menangkapnya. Ia pun melemparkan ke atas dan menghancurkannya. Qing Chuan kagum dengan kekuatan Yinsi, Ia pun mengajak Yinsi pergi, menyuruhnya membantu membuat sesuatu.
Di istana Qian Qing, Kaisar berjalan hilir mudik, ia merasa kepanasan. Kasim Li membawakan teh, tapi Kaisar menolaknya karena tidak bisa menghilangkan rasa hausnya.


Qing Chuan membawakan minuman penghilang haus yang diberinya nama “semurni batu giok”. Kaisar pun meminumnya dan ia merasa senang. Minuman itu berisi air gula, pepaya, es dan tremella (sejenis jamur yang kenyal). Kaisar heran, bagaimana ia bisa membuat esnya sehalus ini. Qing Chuan berkata kalau ini karena bantuan seseorang dan mengajak Kaisar pergi ke suatu tempat.
Di sebuah paviliun ada seseorang yang sedang memukuli es batu menjadi serpihan yang lebih kecil.. Kaisar berkata kalau serpihan es itu membuat paviliun itu terasa lebih sejuk. Tapi ketika ia tahu kalau orang yang memukuli es itu Yinsi, wajahnya menjadi muram. 


Yinsi memberi hormat pada ayahnya. Tapi Kaisar bersikap dingin padanya. Ia malah mengomelinya karena tidak belajar dan hanya bermain-main saja. Qing Chuan berkata kalau ini adalah idenya. Para kasim tidak bisa cepat menghancurkan es, jadi ia meminta bantuan Yinsi. Ketika Yinsi mendengar kalau ini untuk Kaisar, ia langsung melakukannya. Yinsi ingin menunjukkan baktinya pada Kaisar.
Kaisar menyindir, apa gunanya berbakti pada orang tua tetapi tidak punya hati dan mungkin melakukannya karena motif tertentu. Yinsi muram mendengar perkataan ayahnya, ia berkata kalau ia melakukannya tanpa motif tertentu, ia ingin membuat satu pertunjukkan agar ayahnya tersenyum.


Ia pun melampiaskan kekesalannya pada es batu itu. Qing Chuan  berpikir bagaimana cara memperbaiki hubungan Kaisar dengan Yinsi. Yinsi selesai melakukan pertunjukkan, ia mengubah es batu itu menjadi bentuk naga.
Tapi Kaisar tetap dingin, Yinsi merasa kecewa. Qing Chuan bertepuk tangan untuk membangkitkan suasana. Ia berkata kalau Yinsi sudah bekerja keras, bahkan tangannya sampai merah. 


Akhirnya Kaisar tersenyum dan berjalan mendekati Yinsi. Ia berkata kalau memerlukan waktu yang panjang untuk mengukur kekuatan seekor kuda. Membuat patung juga memerlukan waktu yang lama, mengenali orang juga memerlukan waktu yang lama. Jika ia telah berkata salah, Yinsi boleh membuktikannya dengan berjalannya waktu. Ia pun mengajak Yinsi untuk menonton pertunjukkan di ruang musik. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan kejadian ini. Orang itu adalah Yinzhen.
Qing Chuan dan Yinsi berjalan di sebuah lorong istana, Qing Chuan berkata kalau hari ini Kaisar sangat senang. Yinsi hanya menjawab kalau semuanya tidak dapat diduga, Hari ini mungkin Kaisar senang, besok ia bisa berubah lagi. Baginya yang terpenting adalah Kaisar mempercayainya dan tidak mencurigainya. Menjadi Kaisar bukan hal yang terpenting baginya. 


Qing Chuan menghentikannya dan berkata kalau Yinsi harus jadi Kaisar. Yinsi memegang tangan Qing Chuan dan meletakkannya di dadanya, “Kenapa, kau sudah tidak sabar menjadi permaisuri?” Qing Chuan berkeras kalau Yinsi harus jadi Kaisar dan Yinsi pun berjanji kalau ia akan berusaha.
Ia meminta apa Qing Chuan juga mau berusaha untuknya, “Apa kau mau membagi sedikit perasaan yang kau berikan pada Pangeran ke empat?”


Qing Chuan: “Perasaanku padanya sekarang hanya benci.”
Yinsi: “Rasa bencipun juga tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada tidak punya apa-apa.”
Yinsi menyuruh Qing Chuan beristirahat. 


Qing Chuan masih merasa bingung, ia berjalan sambil menerawang. Tiba-tiba dari belakang ada orang yang memeluknya. Qing Chuan berusaha memberontak. Tapi Yinzhen tidak mau melepaskannya. Ia takut kalau melepaskannya, Qing Chuan bukan lagi miliknya.


Qing Chuan berteriak kalau ia tidak pernah jadi miliknya, ia pun berhasil melepaskan diri dan menampar Yinzhen. Yinzhen berkata kalau bukan pipinya yang sakit, tapi hatinya. Ia sudah berusaha mencari Su Yan, tapi tidak menemukannya. Dengan penuh kemarahan ia bertanya kenapa semua orang meninggalkannya, kenapa semua orang mengkhianatinya. Kenapa ia tidak memberinya kesempatan lagi.
Qing Chuan menjawab kalau ia sudah mendapatkan kesempatan itu, tapi tidak menghargainya. Yinzhen meminta Qing Chuan untuk mendengarkannya, tapi Qing Chuan tidak mau, ia berkata kalau ini adalah istana Qian Qing, jika Yinzhen mengganggu Kaisar, maka ia bisa dihukum.


Yinzhen tertawa, sekarang Qing Chuan menggunakan Kaisar untuk menekannya. Ia pikir Qing Chuan yang paling mengerti dirinya, ternyata ia sama dengan yang lain. Ia boleh menganggap kalau orang lain baik dan hanya dirinyalah yang jahat karena mulai saat ini ia tidak akan mempercayai siapapun.
Qing Chuan tidak peduli, karena itu masalah Yinzhen sendiri. Yinzhen berkata kalau triknya tadi tidak akan berhasil, politik istana itu lebih rumit, tapi Qing Chuan memberitahunya, mungkin ia tidak sepintar dirinya tapi ia akan terus melawannya, ia tidak ingin setelah Kaisar Kangxi akan muncul pemimpin yang kasar. Ia segera pergi meninggalkan Yinzhen. Sedangkan Yinzhen terlihat sangat frustasi.


Ditempat lain, Jin Zhi terlihat duduk termenung. Ia memikirkan masalah perkawinannya. Ketika melihat Yinzhen pulang, ia langsung menyambutnya. Yinzhen bertanya kenapa ia belum pergi. Jinzhi hanya menjawab kalau ini rumahnya, ia bisa pergi kemana lagi.


Yinzhen mendesah, “Siapa diriku, aku tak punya jabatan. Kaisar tidak mau menemuiku, apalagi ibu. Kenapa kau terus mengikutiku?”
Jin Zhi: “Karena aku menyukaimu. Bukan karena kedudukan atau jabatan. Tapi karena dirimu.”
Jin Zhi berkata kalau suatu hari Yinzhen tidak punya apa-apa, ia akan terus mengikutinya. Yinzhen heran kenapa ia mau melakukan hal itu. Jin Zhi hanya berkata kalau ayahnya sering menanyakan hal itu. Ia juga sudah memikirkannya.
Jin Zhi: “Sejak pertama kali melihatmu di teater, aku sudah jatuh cinta padamu. Ketika aku berjuang untuk keluar, aku terjatuh semakin dalam. Sekarang aku sudah tidak punya tenaga lagi dan hanya bisa membiarkan diriku tenggelam. Di dunia ini bagiku hanya kau seorang.”
Yinzhen berbalik dan memandanginya. Ia tersentuh dengan ketulusan Jin Zhi. Jin Zhi berkata kalau seharusnya ia menghiburnya, tapi tak tahu kenapa airmatanya terus jatuh. Ia segera menghapusnya dan tersenyum pada Yinzhen.


Yinzhen memeluknya dan meminta maaf padanya, ia bukan orang yang baik. Ia berjanji pada Jin Zhi, ia akan memperlihatkan pada semua orang kalau dirinya bisa bahagia, bisa merasa senang.


Yinzhen pergi ke istana Yong He untuk menemui ibunya.Consort De berkata kalau ia pasti akan melakukan apa yang telah dijanjikannya. Tapi akhir-akhir ini mood Kaisar sedang tidak baik, jadi ia tidak berani mengatakannya. Yinzhen meminta ibunya untuk tidak membicarakannya lagi. Karena sat ini wanita tidak lagi menjadi pusat pemikirannya. 


Consort De kaget, ia bertanya apakah…… Ia berpikir kalau putranya sedang patah hati. Yinzhen memotong perkataan ibunya. Ia hanya pangeran yang selalu tinggal dirumah, dan tidak punya tugas apapun, jadi tidak bisa dibandingkan dengan Yinthi. Consort De heran, kenapa Yinzhen selalu salah paham dengan perkataannya.

4 comments:

Pinky mengatakan...

Wew___ pertamax!!! Makasich yah buat lanjutannya... Fighting!!

Anonim mengatakan...

akhirnya.., tetap setia ditunggu

rangreng mengatakan...

wah.. su yan punya banyak nyawa. ga mati mati. perutnya di tusuk ga papa, jatoh pun ga papa. yg lebih habat yinsi bisa sulap, habis dicucuk ga papa, darah pun bisa dihilangkan. tapi yang paling hebat pangeran ke delapan. peletnya kuat cui.haha.
jadi ga sabar nunggu kelanjutannya.

Anonim mengatakan...

wah.. su yan punya banyak nyawa. ga mati mati. perutnya di tusuk ga papa, jatoh pun ga papa. yg lebih habat yinsi bisa sulap, habis dicucuk ga papa, darah pun bisa dihilangkan. tapi yang paling hebat pangeran ke delapan. peletnya kuat cui.haha.
jadi ga sabar nunggu kelanjutannya.

Posting Komentar