Pages

06/01/12

THE MOON THAT EMBRACES THE SUN EPISODE 1


Narasi:
“Diceritakan bahwa awalnya, ada dua matahari dan dua bulan. Tapi siang menjadi terlalu panas dan malam jadi terlalu dingin. Semua yang ada di bumi  menjadi kacau dan manusia menjadi sengsara. Kemudian, munculah seorang pahlawan . Ia pun memanah satu matahari dan satu bulan keluar dari langit dan membawa perdamaian kedunia.”


Kisah ini diceritakan oleh Ibu Suri (Kim Young Ae) pada salah satu pengikutnya, Tuan Yoon Dae Hyung.  Ibu Suri itu adalah ibu dari Raja Seongjo, raja Joseon pada saat itu. (Karena ini kisah fiksi, maka tidak disebutkan tanggal yang tepat)
Kisah tentang dua matahari dan bulan itu merupakan ilustrasi tentang dibutuhkannya seorang pahlawan disaat ada kekacauan. Ibu Suri kemudian berkata dengan penuh makna kalau mereka tidak bisa menunggu sampai sang pahlawan muncul. Jadi mereka harus menyelesaikan masalah mereka sendiri. Ia memberitahu Tuan Yoon untuk menjadi pahlawan, karena hanya boleh ada satu matahari di langit, matahari yang lain harus dimusnahkan.
Malamnya, sekelompok orang yang memakai penutup wajah berlari melewati pepohonan menuju ke sebuah rumah. Merekapun berpisah untuk menjalankan tugas masing-masing. Satu orang menempelkan kertas kuning ke dinding, mungkin semacam jimat dan yang lain mengubur kantong kuning di halaman rumah tersebut.


Salah satu penyusup bertopeng siap untuk membunuh targetnya di tempat tidur, tapi ia menemukan tempat tidur itu kosong. Ia kaget, ketika korbannya mengarahkan sebuah pedang ke lehernya. Ia adalah Pangeran Uiseong, adik tiri raja Seongjo. Kelihatannya Ibu Suri berniat membunuh Pangeran Uiseong agar tahta putranya aman. Sebenarnya hubungan Pangeran Uiseong dengan Raja Seongjo baik, sayangnya, ia terlalu dekat dengan tahta.



Ditempat yang lain, seorang wanita yang bernama  Ari, seorang peramal, terbangun dari tidurnya dengan terengah-engah dan dipenuhi dengan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia tahu kalau pangeran Uiseong dalam bahaya dan bergegas untuk menemuinya. Ia mengabaikan peringatan dari teman peramalnya. Jang Nok Young, temannya berusaha mengejarnya, tapi ia dihentikan oleh sensasi menakutkan yang tidak terlihat. Ia pun menatap langit dan memandang bulan yang muncul dibalik awan.


Pangeran Uiseong melawan, walaupun hanya tinggal dirinya saja melawan begitu banyak pembunuh. Tapi akhirnya ia dilkalahkan dan dilucuti. Tuan Yoon masuk dan menemuinya dengan wajah puas. Dulu Tuan Yoon bersekutu dengan Pangeran Uiseong, tapi ia kemudian berkata kalau sekarang ia punya sekutu yang lebih kuat.
Pangeran Uiseong merasa sangat marah, ia tahu dengan baik kalau Raja Seongjo akan lebih mempercayainya daripada Tuan Yoon yang licik. Tapi Tuan Yoon berniat untuk membunuhnya sebelum ia sempat mengatakan sesuatu pada Raja. Ia menambahkan kalau teman baik Uiseong juga akan menemaninya dialam baka. Ditempat lain, seorang bangsawan digantung dirumahnya. Sebuah surat bunuh diri palsu ada dimejanya.


Tuan Yoon pun menggorok leher Pangeran Uiseong. Peramal Ari menyaksikannya dengan penuh ketakutan dari balik tembok. Sayangnya ia ketahuan.  Tuan Yoon melihat bayangannya di pedangnya yang bersimbah darah. Ari pun segera berlari ke hutan. Akhirnya ia terpojok di pinggir tebing. Ari terpeleset dan jatuh ke bawah tebing.


Para pembunuh memeriksa tebing. Tapi mereka hanya menemukan pita merah resminya. Ternyata Ari adalah seorang peramal istana, ia bagian dari departemen yang disebut eongsucheong. Ketika Kepala Peramal memeriksa, ia menemukan kalau Ari menghilang.Kepala peramal memandang Jang Nok Young, ia ingin tahu kemana Ari pergi.


Tuan Yoon melaporkan pada  Ibu Suri dan meyakinkannya kalau mereka akan menemukan Ari. Ibu Suri merasa senang, berkata kalau mereka beruntung. Dulu Ari adalah budak pangeran Uiseong, jadi kemungkinan besar mereka terlibat. Bagaimana jika wanita itu ingin kekasihnya menjadi raja. Dan bagaimana jika wanita itu memanipulasinya dengan kekuatan gaib. Tidak masalah kalau itu tidak benar karena Ibu Suri bisa membuatnya menjadi benar dengan bukti-bukti yang sudah ditanamnya. Kepala Peramal jelas-jelas adalah pengikut Ibu Suri dan bisa dipercaya untuk melakukan hal tersebut untuk mereka.


Pangeran Uiseong dan temannya dituduh sebagai pengkhianat negara. Mereka telah menemulkan surat yang dipalsukan dirumah temannya. Kematian mereka dianggap sebagai bunuh diri karena merasa bersalah telah mengkhianati negara. Raja Seongjo (Ahn Nae Sang) menerima laporan ini dengan rasa tidak percaya.
Kepala Peramal dibawa ke depan untuk membaca simbol yang ada di jimat itu. Ia sudah diperintah untuk berbohong, jadi ia memberitahu raja bahwa jimat itu digunakan untuk memanggil kekuatan matahari, yang secara puitis mengatakan kalau mereka menginginkan tahta (Matahari = Raja). Ia juga mengidentifikasikan kalau jimat itu buatan Ari.


Setelah berkeliaran di hutan, Ari tersandung dan jatuh di jalan. Saat itu sedang ada rombongan bangsawan yang lewat. Nyonya Shin yang sedang hamil segera menolongnya dan menyuruh  orang untuk mendudukkan Ari di tandu.


Ketika mereka mendekati dinding kota, mereka dihentikan oleh polisi yang sedang mencari pengkhianat negara. Pelayan Nyonya Shin melihat kalau Ari mirip dengan gambar yang dibawa oleh polisi, tapi wanita itu merasa kalau Ari adalah orang yang baik yang sedang bermasalah dan berpura-pura tidak tahu. Nyonya Shin menyembunyikan Ari di roknya. Ia menolak untuk keluar dan beralasan kalau ia segera melahirkan jadi tidak bisa turun dari tandu. Petugas polisi itu membiarkan mereka lewat.


Polisi itu kemudian melihat darah yang menetes dari belakang kursi dan menyuruh mereka berhenti. Nyonya Shin berpikir dengan cepat dan pura-pura akan melahirkan, pelayannya juga ikut bermain sandiwara dan mendesak Nyonya Shin untuk segera pulang ke rumah. Setelah mendengar nama suami Nyonya Shin, Polisi tersebut segera membiarkan mereka pergi.


Ari sangat berterimakasih pada Nyonya Shin dan berkata kalau bayinya perempuan, cantik seperti bulan. Nyonya Shin sangat senang karena ia juga menginginkan bayi perempuan. Saat Ari berbicara ia melihat visi di mata pikirannya tentang masa depan bayi itu. Ia melihat kalau bayi itu akan bertemu dengan putra mahkota, saling jatuh cinta. Ia bahkan dijadilkan Putri Mahkota, sayangnya ia akan sakit dan meninggal.
Ari merasa tidak senang melihat visinya itu, tapi ia tidak mengatakannya pada Nyonya Shin. Ia berjanji kalau ia akan melakukan apapun yang ia bisa untuk melindungi putri Nyonya Shin.


Ari Berpisah dengan Nyonya Shin, tapi ia tertangkap dan dibawa kembali ke istana, dimana ia disiksa.  Semua temannya tertekan melihat Ari disiksa. Tuan Yoon bertanya apa arti tulisan di jimat itu. Tentu saja Ari tidak tahu. Ia berkeras kalau ia tidak menulisnya dan ketika ia disebut pengkhianat negara, Ari jadi marah. Ia memberitahu Tuan Shin, jika ada pengkhianat, itu adalah Tuan Shin sendiri karena ia sudah merencanakan kejahatan yang palsu.


Ia berkata dengan ganas yang membuat Tuan Shin terkesima.
Ari: “Kau pikir hanya aku yang melihat bukan? Kau pikir semuanya akan berakhir setelah kau menyingkirkanku? Kau salah, kau penjahat. Bulan di surga telah mengawasimu. Darah dari pria itu bukan satu-satunya yang meresap dalam pedangmu malam itu. Cahaya bulan juga meresap ke dalamnya. Tunggu dan lihatlah! Suatu hari nanti perbuatan jahatmu akan terungkap dibawah sinar rembulan! Suatu hari cahaya bulan akan memotong jalan kehidupanmu!”


Ari dimasukkan ke dalam penjara untuk menunggu hukuman mati. Nok Young menangis, karena ia bodoh sudah dibutakan oleh cinta, sehingga ia pergi ke rumah pangeran Uiseong malam itu. Ari berkata kalau mereka berdua tidak pernah mengharapkan tahta. Ia juga mempercayakan pada Nok Young untuk melindungi putri Nyonya Shin untuk menggantikan dirinya. Terlalu dekat dengan matahari akan membuat bencana bagi seluruh keluarga anak itu, jadi ia harus melindunginya dari matahari. Ia mendesak Nok Young untuk melindunginya, tapi ia tidak bisa memberitahu namanya.


Hari berikutnya, Ari menjalani hukuman matinya. Badannya akan dipisah dengan perlahan-lahan oleh 4 ekor sapi.Ketika ia terbaring di tikar, ia melihat matahari di langit. Tiba-tiba mataharinya terbelah menjadi dua. Ada sebuah visi yang datang padanya, ada dua orang anak laki-laki yang sedang berlatih pedang  dan putri nyonya Shin. Ia berpikir, “Dua matahari dan satu bulan. Aku berdoa kalian semua akan selamat.”


Saat ia meninggal, Nyonya Shin melahirkan anak keduanya yang bernama Heo Yeon Woo (bulan). Ia dan kakak laki-laki bayi itu, Yeom  (panas / api) berbisik dan memuji kecantikannya.


Nok Young mengunjungi makam temannya, ia teringat pesan terakhir Ari. Ia mendongak dan menatap bulan yang kemudian berubah menjadi matahari.
Beberapa tahun kemudian
Di istana sedang disiapkan sebuah pesta mewah. Hari ini sedang diadakan acara untuk para sarjana yang telah lulus ujian sipil negara. Mereka akan menghormat pada Raja dan menerima hadiah darinya. Beberapa petugas sadar kalau ada sebuah payung merah dan buah-buahan yang hilang.


Putra Mahkota Hwon (Yeo Jin Goo) dipanggil untuk mengikuti  acara tersebut, tapi ia tidak ada dikamarnya. Di dalam sebuah ruangan yang jauh dari keramaian, ada  sebuah meja yang penuh makanan. Disana Putra Mahkota yang berumur 13 tahun sedang melihat peta. Ia menemukan Eunwolgak atau bangunan Bulan Perak dan pergi dengan membawa ransel kerajaannya.


Nyonya Shin tiba di istana dengan Yeon Woo (Kim Yoo Jung) . Gadis itu sekarang berumur 11 tahun dan sedang sibuk membaca buku. Ayahnya  tuan Heo seorang pajabat tinggi kerajaan akan hadir dalam acara itu, begitu pula dengan kakaknya Yeom, ia menjadi salah satu sarjana yang akan menerima penghargaan dari Raja. Tuan Yoon juga terlihat, sekarang ia menjadi Menteri Urusan Dalam.


 Nyonya Shin menyuruh putrinya untuk menutup bukunya, kalau tidak, ia tidak akan bisa melihat kakaknya. Acara pun dimulai. Para sarjana berbaris. Nyonya Shin dan Yeon Woo melihat Yeom . Merekapun tersenyum.


Diantara para sarjana itu ada dua orang yang bersahabat, Yeom dan Woon (awan). Mereka punya teman yang lain yang bernama Yang Myung, yang tidak berada disana. Tapi mereka bertiga belajar bahasa dibawahan asuhan ayah Yeon Woo.


Raja pun datang dan semua menghormat. Seorang petugas mengumumkan sarjana terbaik. Untuk sarjana terbaik adalah Heo Yeom, sedangkan prajurit terbaik adalah Woon.
Dengan hilangnya Pangeran Hwon, pelayannya menyuruh penjaga istana untuk mencarinya dengan cepat. Kelihatannya ini bukan pertama kalinya Hwon melarikan diri. Mereka segera mencarinya sebelum Raja menemukan Pangeran dan memarahinya.
Ditengah-tengah acara, Nyonya Shin baru sadar kalau Yeon Woo menghilang. Ia berkeliaran mengejar kupu-kupu. Pangeran memandang matahari, ia pun membuka payung merahnya karena takut kalau kulitnya bakal terbakar.


Pangeran Hwon keluar dari tempat persembunyiannya dan menyiapkan untuk melarikan diri dengan melompat tembok istana. Ketika ia akan melompat, ia melihat Yeon Woo yang berkeliaran di halaman. Ia langsung terdiam, ternganga, kagum melihat kecantikan Yeon Woo.


Hwon terjatuh dari tangga dan memukul Yeon Woo ke tanah bersamanya. Mereka berbaring sebentar. Saat itu kelopak bunga berjatuhan dan angin menerbangkan payung Hwon.


Mereka bangun dan berpaling dengan canggung. Hwon ingin tahu kenapa Yeon Woo berada disini dan merasa curiga dengan jawabannya. Yeon Woo juga sama curiganya dan berniat memanggil penjaga karena ia berpikir kalau Hwon mencuri dan berusaha melarikan diri dengan melompati tembok istana. Yeon Woo bercerita kalau ia datang untuk melihat kakaknya yang menjadi sarjana.
Hwon menghentikannya dengan tergagap ia memberikan alasan yang lemah kalau ia juga sedang melihat prosesi itu. Tapi ketika ia meraih tasnya, semua isi tas itu berhamburan, ada cangkir teh, permen serta kuas kaligrafi.


Hwon mencoba mencari alasan lagi, tapi Yeong Woo berteriak, “Pencuri!” Penjaga istana berlari mendekati mereka, jadi Hwon memegang tangan Yeon Woo dan berlari, memberikan kilasan salah satu visi yang dilihat oleh Ari.


Mereka berhasil melarikan diri dari penjaga dan berhenti di sebuah paviliun dipinggir danau. Yeon Woo heran kenapa Hwon berlaku tidak sopan padanya. Hwon beralasan karena ia lebih tua darinya. Yeon Woo masih ingin melaporkannya pada penjaga yang menyebabkan Hwon terpaksa memberitahunya yang sebenarnya untuk membuktikan kalau ia bukan pencuri. Dengan desahan yang berat, Hwon bercerita kalau ia ingin meninggalkan istana untuk bertemu dengan hyungnya. Ia pintar ilmu beladiri. Yeon Woo tahu kalau ia berbohong karena sarjana yang paling pintar ilmu beladiri adalah Woon, sahabat kakaknya dan ia tidak punya adik. Hwon berkata kalau kakaknya bukan Woon, tapi orang lain.
Hwon menjelaskan kalau hyungnya lahir dari ibu yang berbeda, ia adalah orang yang hangat. Flashback, dua orang anak sedang bermain di halaman istana. Kakaknya sangat  baik dalam pelajaran maupun ilmu beladiri, tapi karena ia lahir dari seorang selir dan juga bukan anak sah, maka ia tidak bisa mengikuti ujian sipil kenegaraan, ataupun mengejar karir di dunia politik, bahkan ia tidak mendapatkan cinta ayahnya.
Hwon menyimpulkan, “Alasan kenapa ia harus hidup seperti ini  adalah karena diriku.” Ia menjelaskan kalau hyungnya sudah lama tidak menemuinya karena menghindari kemarahan ayah mereka. Karena itu, ia ingin keluar dan menemuinya.


Yeon Woo bertanya kenapa Hwon menyalahkan dirinya sendiri, karena ia tidak bisa mengontrol nasib kakaknya. Ia mengutip ajaran Konfusius dan meyakinkan Hwon jika kakaknya berhati hangat seperti yang diceritakannya, maka ia tidak akan menyalahkan Hwon juga.
Yeon Woo menjadi sedikit terbawa dan mengeluh kenapa hukum Joseon banyak yang tidak masuk akal. Ia bertanya-tanya kenapa budak dan bangsawan diperlakukan berbeda, kenapa wanita tidak mendapatkan pendidikan. Hwon menyahut, “Apa kau menganggap politik Raja semuanya salah?” Hwon menggodanya dan berkata kalau ia akan melaporkannya pada Raja. Ia berjanji tidak akan melaporkannya jika ia berhenti menyebutnya pencuri.
Yeon Woo memojokkannya untuk menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana ia bukan pencuri jika ia tidak mau memberitahu identitasnya. Hwon hampir menyahut, “ Aku Joseon…..!” tapi ia memotong sendiri perkataannya.
Nyonya Shin sangat khawatir, ketika ia melihat Yeon Woo, ia langsung memeluknya karena lega. Hwon segera mendekati penjaga yang datang bersama Nyonya Shin dan dengan tenang menyuruh mereka untuk tidak berkata apapun sebelum mereka memanggilnya,”Yang Mulia.”


Saat Yeon Woo pergi, seorang dayang istana memberikan surat dari tuan muda dari  Bangunan Bulan Perak. Dalam pesannya, Hwon berkata kalau ia marah dan kecewa dan sebaiknya Yeon Woo menjaga langkahnya ketika berjalan dimalam hari, yang artinya untuk tidak membuat masalah lagi jika bertemu dengannya.


Hwon dimarahi oleh Raja karena mengulangi percobaannya untuk meninggalkan istana. Hwon menjelaskan kalau yang diinginkannya hanyalah bertemu dengan Yang Myung hyungnim. Ia ingin belajar bersama sambil berdiskusi dengannya. Raja bereaksi dengan marah dan menghukumnya dengan memberikan pembatasan tambahan.


Ibu Suri bertemu dengan Menteri Yoon dan metafora pada hari itu adalah bonsai. Ia menunjukkan pohon kecil yang sedang dirawatnya, bahwa ini lebih berat daripada yang terlihat, karena jika kau kehilangan kesempatannmu untuk membentuk bentuk tertentu ,maka akan semakin sulit untuk mendapatkan hasil yang kau inginkan.
Menteri Yoon menyinggung perubahan pada masa depan mereka. Suatu hari akan terjadi pergantian kekuasaan. Ibu Suri berkata kalau mereka harus menemukan guru yang tepat untuk Putra Mahkota, karena orang itulah yang akan membentuk masa depan negara. Menteri Yoon sudah menemukan orang yang tepat untuk posisi tersebut.


Ratu Han, ibu Hwon, meminta Raja untuk memahami Hwon dan mengijinkan Yang Myung untuk pindah ke istana.  Memisahkan Hwon dengan Yang Myung hanya membuat Hwon lebih merindukan kakaknya. Raja menolak. 


Ketika Ratu Han bertemu dengan Selir Kerajaan Park (ibu Yang Myung), Selir Park meminta maaf karena Yang Myung sudah menyebabkan masalah lagi. Ratu Han berkata kalau ini bukan kesalahan Yang Myung dan dengan sedih memberitahu kalau Raja menolak permintaannya untuk membiarkan Yang Myung kembali ke istana. Ia pun menghibur Selir Park. Kelihatannya hubungan mereka baik deh.


Yang Myung (Lee Min Ho) telah bepergian dan sekarang ia kembali ke ibukota. Di desa, Yang Myung menjual beberapa ayam untuk mendapatkan uang. Ia mendengar seseorang menjual obat, ia pun jadi tertarik.


Ada orang lain yang juga tertarik, orang itu adalah Nok Young yang mendapatkan laporan kalau pedagang itu adalah dukun. Saat ia mendekati kerumunan, tak sengaja ia bertabrakan dengan Yang Myung. Untuk alasan tertentu, ia mengingat deskripsi “dua matahari”.


Yang Myung duduk di kerumunan, sedangkan seorang gadis mengucapkan berbagai ramalan psikis, seolah-olah ia bisa memberitahu apa yang sedang terjadi pada semua orang. Tapi dibelakangnya, ada beberapa orang pria yang memberi sinyal dan memberi petunjuk pada gadis itu secara diam-diam.
Yang Myung memberitahu pria disebelahnya kalau ia kakinya sakit karena mengalami kecelakaan ketika berburu babi hutan (kelihatannya ia berbohong untuk mengetes apa dugaannya benar). Tentu saja, ketika  ia berjalan kedepan, gadis itu langsung berkata kalau kakinya sakit.
Tapi gadis itu menambahkan dengan rasa ingin tahu, “Aku melihat cahaya pada dirimu.” Nok Young kaget. Gadis itu mendeskripsikan sebagai cahaya kuning merah yang indah.


Dukun obat itu meneruskan pertunjukkannya, tapi sikap santai Yang Myung berubah menjadi keras, ia menuduh pria itu menipu dan memperalat gadis itu. Kata-katanya cukup untuk membuat yang lain percaya dan menuduh mereka menipu. Perkelahian pun pecah.


Yang Myung meraih gadis itu dan menasehati Nok Young untuk memanggil penjaga istana kesini.
Yang Myung melarikan diri sambil menggendong gadis itu, tapi ia kemudian dikelilingi oleh para penipu itu. Gadis itu direbut dari tangannya dan dibawa pergi oleh pemimpinnya yang kemudian ditantang oleh Nok Young yang menginginkan gadis itu diserahkan padanya. Nok Young datang bersama penjaga istana.


Yang Myung dipukuli karena telah ikut campur. Para preman itu tertawa ketika Yang Myung berkata kalau ia telah belajar ilmu pedang dari sarjana yang mendapatkan nilai terbaik dibidang beladiri (Woon). Ia pun dipukul jatuh dan tiba-tiba sikap lemahnya berubah. Ia bangkit dan melompat ke arah mereka dan membuat semua preman itu kebingungan terkena pukulan dan tendangan.


Malamnya,  Yang Myung berpakaian bangsawan. Ia memandang langit dan berkata yang ditujukan pada raja, memberitahunya kalau ia sudah kembali dari perjalanan dengan selamat dan meminta maaf karena tidak bisa mengucapkan salam secara langsung. Ia pun memikirkan bagaimana keadaan Hwon.


Di dalam istana, Hwon menyadari kalau setiap langkahnya selalu diikuti oleh serombongan pelayan dan penjaga istana yang diperintahkan untuk mengawasinya. Ia berkata pada penjaganya kalau ia tidak akan lari. Ia menatap ke atas dan kelopak bunga berjatuhan menghujaninya yang membuatnya berpikir tentang bunga yang berjatuhan ketika ia bersama Yeon Woo.
Ia merenung: “Jika kau tahu kalau aku Putra Mahkota, aku akan mendengar lebih banyak omelan. Walaupun kelihatannya aku tidak punya alasan untuk bertemu lagi denganmu.”
Kemudian ia melihat payungnya melayang-layang di udara.


Di rumah, Yeon Woo membaca ulang surat dari Hwon. Ada dua kalimat dalam surat itu. Sebenarnya secara harfiah, Yeon Woo mengerti arti dari kalimat itu, tapi ia bingung dengan maksud yang sebenarnya. Kalimat pertama, “ Lukisan itu bundar sedangkan buku persegi.” Kalimat kedua, “Kelinci akan hidup sedangkan ayam jantan  akan mati.”
Yeon Woo kemudian bertanya pada pelayannya Seol (salju) tentang teka teki ayam dan kelinci. Tapi jawaban Seol tidak membantu, “Jika ayam jantan mati, siapa yang akan membangunkan kita di pagi hari?”


Di luar, Yang Myung pergi ke rumah Yeon Woo dan melompat ke atas pagar serta duduk disana. Ia melihat Yeon Woo keluar dari rumah menuju halaman. Ia memegang surat  dari kain itu di udara dan mendesah, ia berharap sinar bulan akan  memperlihatkan huruf-huruf yang tersembunyi.
Tapi ia mulai mengerti makna kalimat itu dan merasa bersemangat. Itu bukan tentang kelinci atau ayam, tapi, “lahir dipagi hari dan meninggal di sore hari dan petunjuk yang lain, lukisan bulan sedangkan buku persegi. Itu apa yang akan Hwon katakan ketika ia memotong perkataannya sendiri. Ia berkata, “Aku, bangsa ini….”
Yeon Woo tersadar kalau jawabannya, “….matahari.” Hwon adalah putra mahkota.


Di istana, Hwon bertanya-tanya tanpa harapan apakah ia bisa bertemu lagi dengan Yeon Woo. Pada saat yang sama, Yeon Woo duduk karena kaget dan berpikir betapa leganya ia karena tidak mungkin bertemu lagi dengan Hwon. 


Di atas pagar, Yang Myung berpikir, “Senang bertemu denganmu lagi, Heo Yeon Woo.”


Note:
Ari dan Nok Young adalah seorang shaman yang artinya dukun, paranormal atau peramal. Karena dukun terlihat begitu mistis (langsung ingat bapak-bapak pake baju hitam sambil bakar menyan), maka aku menggunakan kata peramal.







Credits: www.dramabeans.com

2 comments:

Sambenx mengatakan...

Fighting!!!!


Gomawo bt sinopsisny... ^_^

nihaal mengatakan...

thank's
udh buat posting sinopsinya
di tgg sinopsis lanjutanya

Posting Komentar