Pages

12/01/12

THE MOON THAT EMBRACES THE SUN EPISODE 2


Pangeran Hwon ternganga melihat payung merahnya yang melayang di udara. Ia bertanya-tanya apa itu tanda kalau ia bisa melihat Yeon Woo lagi, tapi para pelayannya ketakutan karena mengira payung itu dirasuki hantu karena bisa bergerak sendiri. Sedangkan Yeon Woo duduk di halaman rumahnya. Ia masih memikirkan teka-teki Hwon, tapi tiba-tiba ia mendengar suara. Ia ketakutan karena mengira itu pembunuh yang dikirim untuk menghabisinya.


Ia pun memeriksa pagarnya dan menemukan sebuah batu yang diberi nama batu penenang kecemasan dan catatan dari Yang Myung yang berisi supaya ia tidak terlalu mencemaskan sesuatu serta menyuruhnya untuk menceritakan masalahnya pada batu itu karena batu tersebut didesain secara khusus untuk mendengarkan semua masalahnya.
Dalam suratnya, Yang Myung memberitahu Yeon Woo kalau batu itu oleh-olehnya setelah ia bepergian. Walaupun Yang Myung tidak mencantumkan nama, Yeon Woo tahu batu itu dari siapa. Ia mendesah Yang Myung bepergian lagi.


Di bagian lain dari halaman itu, kakaknya, Yeom (memakai baju pink), sedang berlatih pedang dengan Woon (memakai baju biru). Dari tempat persembunyiannya, Seol sedang menonton mereka. Woon bisa merasakan keberadaan Seol. Woon mengalahkan Yeom, dan Yeom berkata kalau ia harus berlatih lebih keras lagi.
Woon selalu memanggil Yeom dengan sebutan tuan muda karena statusnya lebih rendah. Sebenarnya Yeom sudah melarangnya. Yeom mendesah kalau ia merindukan Yang Myung malam ini. Woon melihat Yang Myung melompat pagar, dan Yang Myung menyuruhnya diam. Yeom berkata kalau Yang Myung membuat persahabatan mereka menyenangkan tanpa dirinya ia merasa kesepian.



Yang Myung muncul dibelakang mereka dengan senyuman yang konyol. Ia tahu kalau Yeom sangat merindukannya dan memeluk Yeom dengan erat, ketika ia akan memeluk Woon, Woon segera menghindar. Yang Myung cemberut dan berkata kalau Woon sangat dingin dan tidak asyik.
Yeom dan Woon bersikap hormat pada Yang Myung, karena ia adalah putra Raja.


Mereka heran kenapa ia terlambat kembali. Yang Myung menjawab kalau ia menemui orang yang penting baginya. Ia kemudian memegang tangan Yeom dan minta maaf karena ia sudah menemukan orang yang lebih dicintainya daripada Yeom. Yeom bertanya-tanya apa ia sudah menemukan gadis lain untuk dikagumi. Ia kemudian mendesah ketika menyadari kalau Yang Myung memanjat pagar di dekat kamar adiknya lagi.
Yeom punya banyak alasan kenapa ia tidak menyukai hal yang dilakukan Yang Myung, yang sudah dikatakan beribu kali. Tapi Yang Myung sudah biasa diomeli tentang hal ini dan ia tidak mau memikirkannya. Perdebatan mereka membuat Woon tersenyum, Yang Myung yang melihatnya langsung  histeris. Yeom berkata kalau sekali lagi ia melompat pagar adiknya, ia tidak akan diam saja. Yang Myung mengerti, ia mengubah topik pembicaraan mereka tentang hadiah yang dibawanya pulang.


Ia membawa batu-batu yang lain dan berkata kalau batu-batu itu adalah jimat pembawa keberuntungan dan mereka berdua harus membawanya. Woon, “Itu terlalu besar untuk dibawa-bawa.” Yang Myung segera memberinya batu yang lebih kecil.
Ia bertanya-tanya kalau mereka akan segera menjadi orang-orang Hwon. Woon dan Yeom memandangnya dengan tidak nyaman, Yang Myung segera menutupi kesedihannya dengan berpura-pura gembira.


Raja Seongjo menerima daftar calon guru untuk Hwon dan Hwon menyebutkan nama-nama itu sebelum pelayannya memberitahunya. Ia geli,  ternyata Ibu Suri melakukan seperti yang ia perkirakan.
Ia tidak peduli siapa mereka, karena baginya mereka orang yang sama, orang-orang yang ditempatkan Menteri Yoon untuk membentuk pendidikannya sesuai dengan yang diinginkannya. Ia mempersiapkan dirinya untuk membuat guru barunya hidup seperti di neraka.


Sebenarnya, ia sudah terkenal sering melakukan hal ini. Para pelayannya mengawasi dan bertaruh berapa lama guru barunya bertahan kali ini.


Yeom pun masuk, ia membuat para wanita terpana melihat ketampanannya. Yeom membungkuk dihadapan Hwon dan memperkenalkan diri sebagai gurunya. Wajahnya yang tampan bersinar, bahkan Hwon pun terpana melihatnya. 


Disaat yang sama, Yeon Woo mengetahui kalau kakaknya menjadi guru baru Hwon. Ia menjadi khawatir kalau Hwon tahu kalau ia adik Yeom. Ia teringat kalau ia pernah memberitahu Hwon kalau ia sedang menghadiri upacara kelulusan kakaknya.
Hwon kaget ketika tahu kalau Yeom baru berumur 17 tahun. Ia mencemooh kalau Yeom pasti punya pendukung yang kuat dibelakangnya. Ia mengira kalau Yeom adalah anak buah Menteri Yoon. Yeom terlihat bingung mendengar tuduhan Hwon.


Di tempat lain Ibu Suri memarahi Menteri Yoon karena membiarkan Heo Yeom menjadi guru Hwon, karena Yeom bukan termasuk orang-orang mereka. Menteri Yoon meyakinkan Ibu Suri kalau Yeom hanyalah anak muda yang tidak punya kekuatan. Raja punya pemikiran sendiri dan menginginkan guru Hwon seumur dengannya supaya mereka bisa berteman.
Hwon marah dikamarnya dan kasimnya segera menemuinya karena ia sudah selesai mengecek latar belakang Yeom.


Ia memberitahu Hwon kalau Yeom adalah sarjana yang terkenal di Sungkyungkwan. Flashback. Yeom berjalan dengan sinar ketampanannya, para siswa yang lain memberikan tempat duduk mereka pada Yeom, para wanita yang melihatnya langsung terpesona, ia juga mendapatkan nasi ekstra karena pelayan menyukainya bahkan orang-orang yang ingin bertengkar dengannya, tiba-tiba terpesona dan bertanya apa mereka bisa berteman. Lebay abis
Itu hanya membuat Hwon semakin marah mendengar para pelayannya membicarakan betapa sempurna, tampan dan pintarnya Yeom. Ia tidak mau melihat kasimnya dan menyuruhnya berdiri dipojokan menghadap dinding. Ngambek…..


Malamnya, Yeon Woo pergi menemui kakaknya untuk belajar bersamanya. Ia melihat kalau kakaknya sedang cemas. Ia bertanya apa kakaknya sedang dalam masalah dengan Hwon dan menawarkan bantuan. Yeom berkata kalau Hwon salah paham terhadapnya, tapi ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya dan membuat Hwon mau menerimanya.


Hari berikutnya, Hwon membaca buku untuk dirinya sendiri, membungkuk dan cemberut. Yeom menunggunya dengan sabar dan akhirnya berdiri dan menyatakan kalau pelajaran untuk hari ini sudah usai. Hwon langsung menuduhnya tidak bertanggungjawab karena tidak mengajarinya apapun dan mengumumkan kalau pelajaran sudah selesai. Yeom berkata kalau Hwon kelihatan belum siap untuk belajar. Hwon langsung membantah dan menuduh Yeomlah yang belum siap untuk mengajar.
Jadi Yeom pun menawarkan kesepakatan. Ia akan memberi Hwon teka-teki. Yeom akan berhenti jadi gurunya jika Hwon berhasil menebaknya, jika tidak, Hwon harus mau menerima pelajaran darinya.
Teka-tekinya, apa yang membuat dunia terlihat bersinar pada suatu saat dan gelap pada saat berikutnya? Hwon berkata kalau itu teka-teki yang mudah dan menyeringai kalau pertemuan mereka yang berikutnya adalah pertemuan yang terakhir. Yeom menelan ludahnya.


Tapi ternyata itu hanya gertakan. Hwon menyuruh pelayannya untuk membawa banyak buku, supaya ia bisa menemukan jawabannya. Adiknya, Putri Min Hwa, segera berlari kekamarnya, ia ingin tahu kenapa banyak buku yang dibawa ke kamar Hwon. Ia pun mencoba menebak arti teka-teki tersebut, kelopak mata! Ia mempraktekannya. Hwon langsung mengusirnya karena kesal.


Hari berikutnya, Hwon memberikan jawaban, politik di pengadilan kerajaan, keputusan yang dibuat para penguasa, bisa membuat dunia ke dalam cahaya atau kegelapan. Raja dan menterinya tiba di luar tepat saat Hwon memberikan jawaban.
Yeom memberitahunya kalau jawabannya salah. Jawaban yang benar adalah kelopak mata. Hwon marah, ia heran kenapa jawabannya kekanak-kanakan dan konyol. Tapi Yeom menjawab dengan tegas, “Jika Yang Mulia tidak menyukai jawabannya, apa itu akan membuat jawaban itu menjadi salah?”
Diluar, Menteri Heo (ayah Yeom) membungkuk pada raja dan meminta maaf, tapa Raja Seongjo hanya tersenyum. Ia yang telah menempatkan Yeom sebagai guru Hwon dan merasa senang mendengar acara tanya jawab mereka.
Di dalam, Yeom menjelaskan bahwa melihat dunia dari mata seorang anak berarti semua bisa menjadi gelap atau terang. Kata-katanya mengandung kiasan bahwa semua yang ada didunia punya kesempatan yang sama untuk menjadi benar atau salah.
Itu adalah caranya untuk menjelaskan kalau sudut pandang anak-anak itu tanpa prasangka maupun kesombongan, dua hal yang disebutnya perangkap terbesar dalam belajar. Sesuatu yang perlu Hwon terapkan, karena prasangka dan kesombongan akan membuat mata Hwon menjadi kabur dalam kegelapan.
Ia bertanya secara langsung, bagaimana seorang pemimpin diharapkan akan membimbing suatu bangsa, jika matanya tidak bisa melihat  dalam gelap. Ia menyarankan hal pertama yang harus dilakukan Hwon adalah mengubah sikapnya dalam belajar.
Pangeran Hwon menjadi marah dan berdiri, ia memamggil kasimnya. Ia meminta untuk disiapkan sebuah meja disiapkan di  paviliun, supaya ia dan gurunya bisa berdiskusi disana.


Yeom mendongak kaget dan dengan cepat membungkuk untuk menerima tawaran Hwon. Diluar, Raja terkekeh, “Akhirnya ia menemukan guru pertamanya.” Menteri Yoon terlihat tidak begitu senang.


Putri Min Hwa mendengar tentang pelajaran kakaknya. Ia tertawa histeris mendengar kakaknya yang angkuh sudah mendapat pelajaran. Ia berlari keluar untuk melihat wajah orang yang sudah melakukannya dan ingin memberitahu kalau ia bisa menjawab teka-tekinya dengan benar. Ia melihat Yeom saat ia sedang keluar dan begitu terkesan sehingga ia berbalik untuk menyembunyikan wajahnya.


Yeom dan Hwon minum teh sambil makan permen. Hwon bertanya pada Yeom apakah ia benar-benar siap untuk melepaskan jabatan gurunya, jika ia berhasil menebak teka-tekinya. Ia heran bagaimana Yeom bisa mendapat ide seperti itu.
Yeom mengaku kalau itu ide adiknya. Adiknya memberitahu kalau ia bisa memberi mengajari sang pangeran untuk mendapatkan kepercayaannya . Ia juga memberitahunya kalau pangeran adalah orang yang bijaksana. Dengan begitu Yeom bisa  diakui olehnya.
Kata-katanya memicu keingintahuan Hwon. Ia bertanya berapa umur adiknya. Yeom menjawab kalau umurnya 13 tahun. Hwon segera merebut permen yang ada ditangan Yeom. Ia berkata kalau orang yang berhak memakannya adalah adiknya. Ia menyuruh pelayannya untuk untuk membungkus beberapa permen agar dibawa pulang oleh Yeom dan diberikan pada gurunya yang sebenarnya, yang tetap tersembunyi.
Setelah diskusinya usai, ia bertanya-tanya pada kasimnya bagaimana seorang gadis berusia 13 tahun bisa begitu cerdas dan bijaksana. Ia kemudian diberitahu kalau Yeom baru saja lulus ujian kenegaraan beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba ia mengerti, Ia teringat pertemuannya dengan Yeon Woo hari itu dan perkataannya kalau ia datang untuk melihat kakaknya. Hwon tersenyum dengan lebar.


Di rumah, Yeom memberikan hadiah Hwon untuk adiknya dan berkata kalau itu hadiah untuk gurunya. Yeon Woo  berkata kalau itu untuk Yeom, bukan dirinya. Tapi Yeom memberitahunya kalau ia sudah mengaku pada Hwon, kalau adiknyalah yang memberinya motivasi.
Yeon Woo tersipu-sipu dan tergagap. Ia bepikir kalau Hwon mungkin tahu kalau itu dia dan membawa permen itu ke halaman. Ia melihat bulan, bunga sakura berjatuhan mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka.


Yeon Woo membayangkan kalau Hwon berdiri disampingnya. Ia pun bertanya apa Hwon benar-benar Putra Mahkota. Bayangan Hwon bertanya apa yang dipikirkannya dan Yeon Woo berharap kalau ia bukan Putra Mahkota, tapi bayangan Hwon hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk memakan permennya. Yeon Woo pun menyuruhnya untuk memberitahu artinya dan kemudian bayangan Hwon menghilang.


Menteri Yoon dan rekan-rekannya takut dengan kekuatan yang diperoleh oleh Menteri Heo, mengingat perkembangan yang dilakukan Yeom adalah tanda kalau Raja menyukainya. Tapi Menteri Yoon tidak merasa terancam dan berkata kalau mereka tidak perlu tergesa-gesa.
Menteri Yoon berjalan pulang dengan mabuk dan tersandung. Ia menyapa putrinya Yoon Bo Kyung dan bertanya apa ia ingin mengunjungi istana. Ia memberitahu Bo Kyung kalau ia bisa hidup disana jika ia mau. Kelihatannya Menteri Yoon ingin menjadikan Bo Kyung ratu dan ia pasti punya kekuasaan yang besar.
Paginya, Yeong Woo pergi untuk membeli kertas berwarna dengan Seol yang bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya dengan kertas yang mahal itu. Yeon Woo berkata kalau kertas itu akan digunakan untuk menulis surat permintaan maaf.
Seol kaget, kenapa ia  menyia-nyiakan begitu banyak energi hanya untuk minta maaf? Bukankah ia bisa langsung mengatakannya saja? Yeon Woo berkata kalau itu tidak mudah dilakukan dan ini untuk seseorang yang penting. Seol mencemooh, untuk siapa? Apa untuk Ratu. Yeon Woo berkata kalau ini demi kakaknya, ia tidak ingin Yeom menderita karena kesalahpahamannya dengan Hwon.


Seol mendengar suara pandai besi yang sedang bekerja dan langsung pergi untuk melihatnya, secara tidak sengaja, ia menabrak Bo Kyung. Keduanya terjatuh di jalanan, walaupun pelayannya membuat keributan, Bo Kyung membiarkan Seol pergi setelah ia meminta maaf.
Seol memandang pandai besi yang sedang bekerja itu dengan mata yang lebar, ia bertanya apa mereka tidak membuat pedang hari ini. Tiba-tiba , pelayan Bo Kyung menyadari kalau dompetnya hilang, ia langsung mengira kalau Seol adalah seorang pencopet. Ia langsung pergi mencarinya dan tidak menyadari kalau ternyata dompetnya terjatuh di tempatnya berdiri. Bo Kyung menemukan dompet itu dan tersenyum.


Pelayan itu segera menampar Seol, dan menuduhnya mencuri di jalanan yang ramai.Ketika Bo Kyung datang, Seol berlutut dihadapannya, bersumpah kalau ia bukan pencuri. Sambil menyeringai, Bo Kyung menyuruhnya untuk membuktikan perkataannya.


Di toko kertas, Yang Myung menyelinap dibelakang Yeon Woo, menggodanya tentang kertas mana yang cocok untuk raja. Yeon Woo membentak kalau itu bukan untuk raja, jadi Yang Myung menggodanya lagi apa itu untuk Pangeran. Ia bisa membantu karena ia kakak Hwon. Yeon Woo langsung keluar dari toko itu karena kesal.


Tiba-tiba hujan turun. Yang Myung muncul lagi dibelakang Yeon Woo. Kali ini ia melindungi Yeon Woo  dari hujan dengan lengan bajunya. Yeon Woo mendongak dan kaget karena mereka begitu dekat. Yang Myung menyuruhnya untuk segera berlari dan tersenyum.


Yang Myung membawanya ke sebuah rumah kaca. Yeon Woo pun langsung kagum melihat begitu banyak tanaman, karena selama ini ia hanya membacanya dari buku. Yeon Woo bertanya apa rumah kaca itu miliknya.  Yang Myung berbohong kalau tempat itu milik saudaranya, seorang pria yang punya arti tapi tidak punya masa depan. Jadi ia menggunakan uangnya untuk membuat tempat ini. Yeon Woo memandangnya penuh simpati, kata-kata Hwon terdengar dipikirannya, tentang kakaknya yang harus hidup dengan cara seperti itu hanya karena dirinya.
Yang Myung menunjukkan salah satu bunga kesukaan Raja dan memberitahunya untuk memberi bunga itu saja daripada meminta maaf. Yeon Woo bertanya orang seperti apa raja itu. Yang Myung tersenyum dan menjawab, bahwa ia orang yang terhormat dan selalu berpikir untuk rakyatnya. Dalam kilas balik, Raja memperlakukan Yang Myung dengan kasar dan bersikap manis pada Hwon.
Yeon Woo bertanya apa ia tidak ingin kembali ke istana, karena ada orang yang mungkin menunggunya, Yeon Woo teringat pada Hwon yang sangat ingin bertemu dengan kakaknya. Yang Myung bertanya siapa dan Yeon Woo mulai berkata, “Putra Mahkota…..”tapi kemudian segera mengubahnya pangeran, raja dan semua orang.
Yang Myung berkata kalau mereka orang yang sibuk dan mereka tidak akan merindukannya. Yeon Woo menyahut, “Ia merindukanmu!” Yang Myung tersenyum dan berkata kalau Yeon Woo pasti mengerti kenapa ia memanjat dinding pagarnya untuk melihatnya.


Yeon Woo berkata kalau itu dua hal yang berbeda, tiba-tiba Yang Myung menjadi serius dan mencondongkan tubuhnya mendekat, akhirnya Yeon Woo tidak tahan dan segera berpaling dengan canggung. Ia tergagap kalau kedua hal itu berbeda dan Yang Myung harus tetap pergi ke istana. Yang Myung pun tertawa.
Yang Myung menatapnya dengan bahagia, kalau sudah lama, Yeon Woo tidak menatap matanya dan berbicara dengannya seperti ini. Ia pun menyentil dahi Yeon Woo dan menyuruhnya untuk mengurus dirinya sendiri.


Sedangkan Seol dipukuli sampai berdarah-darah oleh pelayan Bo Kyung. Bo Kyung melihatnya dengan senyum puas. Ia bergumam pada dirinya sendiri kalau Seol seharusnya berlari dengan mata terbuka. Ia kesal karena Seol sudah membuat bajunya kotor.
Seol menolak untuk menjawab pertanyaan dari keluarga mana ia bekerja dan ia pun terus dipukuli lagi.


Yang Myung dan Yeon Woo pergi ke tempat pandai besi untuk mencari Seol dan mereka diberitahu kalau Seol diseret pergi seperti seorang pencuri. Yeon Woo pergi ke rumah Bo Kyung. Yeon Woo segera berkata kalau Seol miliknya. Ia menambahkan pasti ada kesalahpahaman, tapi memukul seorang gadis sampai seperti ini…..
Bo Kyung pun maju dan berpura-pura memarahi pelayannya karena telah memukul Seol. Salah satu dari pelayannya bergumam, “Tapi, Nona yang menyuruh kami untuk memukulinya…..” Pelayannya yang lain segera maju dan menutupi kalau dirinya yang bersalah dan meminta maaf.


Yeon Woo menawarkan untuk mengganti uang yang dicuri, tapi Bo Kyung menolak karena ia juga sudah memukuli Seol. Bo Kyung minta maaf karena kesalahan para pelayannya dan mendesah kalau sekarang sulit untuk mendapatkan budak yang bisa bertindak dengan benar. Ia menambahkan, sebelum Seol menjadi pencuri yang lebih besar, sebaiknya Yeon Woo menjualnya.
Yeon Woo menjawab kalau Seol bukan barang baginya, tapi teman dan anggota keluarga. Ia tidak tahu Bo Kyung kehilangan berapa banyak uang hari ini, tapi itu tidak sepadan dengan sakit yang dirasakan Seol. Bo Kyung ternganga. Yeon Woo membawa Seol pergi dan Bo Kyung menjadi marah.
Yeom kembali ke istana dengan membawa hadiah untuk Hwon. Hadiah itu dari Yeon Woo. Hwon membukanya dengan bersemangat dan menemukan kotak yang dikirimnya. Didalamnya terdapat tanah dan tunas tanaman. Hwon sangat penasaran dan bertanya tanaman apa itu. Yeom menyuruhnya untuk merawatnya supaya tahu tanaman apa yang akan tumbuh.
Yeom berusaha untuk memulai pelajaran, tapi Hwon terus bertanya tentang adiknya, apa yang ia suka? Apa Yeom sering membicarakan masalahnya dengannya? Yeom kaget dan hanya memberitahunya kalau mereka membaca bersama setiap malam.
Dengan bangga Yeom berkata kalau adiknya sama pintar dengan para sarjana Sungkyungkwan. Hwon pun ternganga. Ia menutupi kekagetannya dengan berkata kalau ia sangat terkesan kalau Yeom punya adik yang suka membaca, ia bergumam kalau adiknya sendiri hanya tahu dua kata.


Tiba-tiba, Putri Min Hwa masuk ke kamar belajar Hwon sambil menangis seperti anak kecil. Ia meratap sambil menangis, “ Aku benci kakak!Waaaaaa……!” Ia menangis histeris.


Tapi  ia menangis karena Hwon membicarakan kejelekannya di hadapan Yeom. Ia pun berlari ke arah Yeom dan meletakkan kedua tangannya di wajahnya, berkeras kalau ia tidak bodoh dan ia bersumpah.
Yeom sangat kaget dan terdiam sejenak. Ia kemudian meyakinkan Putri Min Hwa kalau ia mengerti dan menyuruhnya berhenti menangis atau ia akan merusak kecantikannya. Ia berkata seperti itu untuk menenangkan putri, tapi putri Min Hwa salah paham, ia langsung berhenti menangis , “Kau….pikir….aku….cantik?” Ia pun diseret pergi oleh pelayannya sambil memandang Yeom dengan mata yang terpesona.


Setelah pelajarannya selesai, Hwon membuka surat yang dikirim Yeon Woo bersama hadiahnya dan melihat kalau kertas yang digunakan sangat cantik  dan dihiasi dengan bunga yang dikeringkan. Ia mengenali surat balasan itu berisi puisi dari Lee Kyu Bo.
Flashback.
Yeon Woo membaca puisi itu sambil mewarnai kertas itu bersama Seol dan menempelkan bunga kering sambil menulis balasannya.

Seorang biksu hidup di pegunungan
Menginginkan sinar bulan.
Ia melihatnya mengambang di botol airnya dan ia mengisinya
Tapi saat di kuil ia tersadar
Jika kau memiringkan botol itu dan mengeluarkan airnya
Bulan akan menghilang.

Puisi tersebut merefleksikan kalau kau tidak bisa memiliki sesuatu karena bertentangan dengan hukum alam. Yeon Woo meneruskan suratnya dan berkata kalau sinar bulan bukanlah sesuatu yang bisa kau miliki hanya karena kau menginginkannya, tapi ia dengan polos berusaha memasukkan sinar bulan ke dalam botol. Ia menyuruh Hwon untuk melupakan kejadian di bangunan Bulan Perak hari itu dan ia juga akan melupakannya.


Hwon tersenyum dan sadar kalau ini artinya Yeon Woo berhasil mengartikan teka-tekinya. Ia memikirkan permintaan Yeon Woo untuk melupakannya dan tertawa karena ternyata Yeon Woo juga bodoh. Ia menatap tanaman yang diberi Yeon Woo dan tersenyum saat ia berpikir, “Bagaimana aku bisa melupakanmu?”


Putri Min Hwa berlari menemui raja, ia bersemangat ingin belajar membaca dan menulis seperti kakaknya, atau secara khusus belajar dari guru kakaknya. Raja terkejut, karena keinginannya yang tiba-tiba dan setuju kalau ia juga akan belajar, tapi bukan dengan Yeom. Putri Min Hwa menangis dan pergi, tetapi itu tidak berguna.
Raja bertemu dengan para penasehatnya. Ia berpikir tentang pendidikan putrinya dan Menteri Yoon langsung mengusulkan putrinya Bo Kyung bisa menjadi teman belajar Putri Min Hwa. Raja setuju, ia juga menginginkan putri Menteri Heo juga dijadikan teman putrinya juga.


Di rumah, Menteri Heo memberitahu Yeon Woo tentang tawaran Raja. Walaupun ia ragu-ragu, akhirnya ia setuju untuk menjadi guru serta teman bermain Putri Min Hwa. Menteri Heo merasa tidak senang, ia merasa khawatir karena istana bukanlah tempat dimana kau bisa bebas. Karena sekarang kedua anaknya ada di istana, ia merasa sangat khawatir.
Istrinya berkata kalau Yeon Woo hanya akan menjadi teman putri Min Hwa, hal buruk apa yang bisa terjadi karena hal itu. Tapi Menteri Heo berkata kalau semua kejadian di istana merupakan manuver politik seseorang. Ia tidak tahu maksud apa dibalik keputusan ini.


Istrinya memberitahu kalau Yeon Woo akan dilindungi karena ada seseorang diluar sana sudah berjanji akan mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi Yeon Woo. Menteri Heo bertanya siapa, tapi istrinya hanya menjawab, “Seseorang.”
Nok Young mengunjungi makam temannya dan meminta temannya memberitahu siapa orang itu, orang yang harus dilindungi dengan nyawanya.


Ratu Han meminta maaf pada Ibu Suri karena sifat putri Min Hwa yang kekanak-kanakan, tapi Ibu Suri meyakinkannya jika kedua gadis itu ada didekatnya, maka mereka akan meningkatkan kedewasaan Min Hwa.
Ia meminta Nok Young  untuk melihat mereka, ia memberitahu ratu kalau anak-anak itu pasti sangatlah pintar karena bisa dibawa masuk kedalam istana. Selain itu, mereka tidak akan tahu, mungkin saja calon istri Hwon salah satu diantara mereka.


Di luar istana, rombongan peramal tiba. Sekarang Nok Young menempati posisi sebagai Kepala peramal,sehingga ia satu-satunya yang dibawa dengan tandu. Disampingnya, Yeon Woo juga datang. Mereka keluar dan saling menatap.
Dalam satu pandangan, Nok Young mengenalinya, orang yang akan mengubah takdir matahari. Dan dibelakangnya, Bo Kyung tiba. Ketika Nok Young menatapnya, ia merasakan energi yang gelap.
Ia kaget, “Dua bulan.”












Credits:www.dramabeans.com

3 comments:

nihaal mengatakan...

thank's ya

Anonim mengatakan...

keren smoga bs mlnjtkn sinopsisx,,,gumawo

LayLawiet mengatakan...

KERENSSSSSSSSSSSS

Posting Komentar