Pages

16/01/12

THE MOON THAT EMBRACES THE SUN EPISODE 4


Hwon dan Yeon Woo saling bertatapan, mereka tidak sadar kalau ada yang melihat mereka. Bukan hanya Yang Myung, tapi juga Bo Kyung yang menangis di kejauhan. Mereka menanyakan nama masing-masing. Hwon yang berarti matahari dan Yeon Woo yang berarti hujan rintik-rintik. Hwon bertanya kenapa Yeon Woo menghindarinya, apa ia tidak menyukainya?


Dengan gagap Yeon woo menjawab  tidak, Hwon pun tersenyum lebar, “Jadi….kau tidak membenciku?” Yeon Woo  tersadar kalau jawabannya tadi berarti ia mengakui kalau ia menyukai Hwon. Yeon Woo pun berpaling karena malu. Hwon mendesaknya untuk mengatakan yang sesungguhnya kenapa ia menghindarinya dan Yeon Woo berkata kalau ia tahu Hwon menyukai gadis lain yang bernama Bo Kyung.


Hwon segera menjelaskan kalau itu kesalahan karena Yeon Woo berbohong pada Hyung Sun. Wajah Yeon Woo pun menjadi cerah. Hwon menyadari sesuatu dan mencondongkan badannya mendekat, “Apa mungkin? Apa kau….cemburu?”



Hwon memberitahu Yeon Woo tentang pendaftaran calon putri mahkota. Kerajaan sudah memutuskan kalau semua gadis dengan umur 12-16 tahun langsung menjadi kandidat putri mahkota. Yeon Woo pasti akan jadi salah satu kandidat Putri Mahkota. Ia berkata kalau ia akan menunggunya, menunjukkan kalau ia ingin menikahinya. Mata Yeon Woo melebar, ia pun tersenyum.


Mereka saling memandang dengan penuh perasaan sampai bunga sakura tidak berguguran lagi dan Hwon memandang ke atas dengan kesal. Ia kemudian pura-pura batuk dan ternyata Hyung Sun ada di atas atap sambil membawa satu tas penuh kelopak bunga dan kipas.
Setelah mendengar sinyal Hwon, Hyung Sun segera menyebarkan kelopak bunga itu dan mengipasinya, supaya terlihat seperti berguguran.


Paginya, Hwon terus memandangi tanaman seladanya. Hyung Sun memuji dirinya sendiri, karena tidak benar-benar membuang tanaman itu. Ia berkata dengan penuh kepuasan, kalau ia tahu Hwon akan  menginginkannya lagi.
Hwon berkata kalau Hyung Sun tidak tahu alasan Yeon Woo memberinya tanaman selada, tapi ternyata Hyung Sun tahu ia mengungkapkan jawabannya, tanaman itu menandakan penantian dan rakyat dari negara ini.
Hyung Sun menjelaskan bahwa tidak peduli seberapa lama Pangeran menumbuhkan tanaman ini dan mencari tahu jenis bunga apa, bagaimana itu bisa dibandingkan dengan penungguan seorang petani, yang bekerja keras merawat tanaman yang akan memberi mereka makanan. Selain itu selada juga bisa digunakan untuk obat. Membuatmu lebih pintar serta mengurangi demam. Arti dari tanaman itu adalah kerja keras dan menunggu dengan setia. Itu juga pesan dari Yeon Woo supaya Hwon tidak mengganggu Yeom lagi dan berkonsentrasi pada pelajarannya.
Hwon ternganga: “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Hyung Sun mendesah, “Karena ini sudah ke empatbelas kalinya anda menceritakan kisah tanaman selada itu padaku!” Hwon tidak ingat dan Hyung Sun berkata  kalau ia terus mengulanginya dan kepalanya bukan dari batu, bagaimana ia tidak bisa mengingatnya.


Hwon tidak mendengar rengekannya dan bertanya-tanya kalau ia pasti sangat tergerak oleh kata-kata Yeon Woo. Hyung Sun mengeluh, tentu, sekali atau dua kali, tapi empatbelas kali…….ia kemudian tersadar dan menghentikan ucapannya sebelum Hwon marah.
Perintah kerajaan sudah ditempelkan di jalan-jalan, gadis yang sudah pantas menikah untuk mendaftarkan diri. Yang Myung melihat pengumuman itu dan wajahnya menjadi pucat.


Dalam pelajarannya dengan Yeom, Hwon bertanya apa Yeon Woo sudah mendaftarkan diri untuk menjadi calon istrinya atau belum? Yeom berkata kalau Yeon Woo belum mendaftar. Ia pun berlutut dan memohon pada Hwon untuk membiarkan adiknya tidak mendaftar. Hwon ingin tahu apa alasan Yeon Woo tidak bisa mendaftar. Yeom: “Karena kalian berdua tidak bisa bersama.”
Hwon menjadi marah dan menolak dan Yeom terus memohon, ia bersedia menerima hukuman apapun, asalkan adiknya dilepaskan dari kewajiban itu.


Hwon berdiri dengan marah, ia berteriak, “Tidak! Aku tidak bisa, pertama karena aku tidak mau kehilanganmu, kedua karena…..” Semua penjaga mencondongkan badannya ke dinding, Yeom menahan napasnya dan Hwon,”…..karena aku menyukaimu!” Ia tidak mengatakan kata adikmu atau Yeon Woo dengan keras, sehingga ia seperti sedang menyatakan cinta pada Yeom.


Yeom membeku dan ternganga sedangkan Hwon menutup muka dengan kedua tangannya. Ia pun lari keluar karena malu. Hyung Sun berusaha memperbaiki keadaan. Ia menjelaskan pada para penjaga kalau bukan Heo Yeom yang disukai Hwon. Ia juga memberitahu Yeom, “Itu bukan dirimu!Aku tidak bisa memberitahumu, tapi yang dimaksud adalah seseorang yang sangat mirip denganmu, tapi ia seorang gadis…”


Hyung Sun mengomeli Hwon karena tidak spesifik ketika menyebut tentang Yeon Woo. Hwon mendesah dan bertanya-tanya bagaimana sebaiknya ia menyatakan perasaannya kepada Yeon Woo kepada orang lain sebelum ia mengatakan pada Yeon Woo sendiri.
Hwon merengut, ia berpikir kalau ia dan Yeom sudah seperti saudara, tapi sangat jelas kalau Yeom berpikir dirinya tidak pantas untuk adiknya. Kenapa ia punya permintaan seperti itu. Hyung Sun menjelaskan kalau bukan itu yang dipikirkan Yeom.


Orang tua Yeon Woo berdebat tentang hal yang sama. Menteri Heo ingin mendaftarkan Yeon Woo sedangkan ibunya tidak setuju karena itu hal yang tidak berguna karena mereka tahu yang akan terpilih adalah Bo Kyung, putri Menteri Yoon.
Yang ia khawatirkan adalah jika  Yeon Woo masuk sebagai sebagai 3 besar, tapi tidak terpilih menjadi istri Hwon, maka ia tetap dianggap sebagai milik Hwon, sehingga ia tidak bisa menikah dengan orang lain, tapi juga tidak bisa menikah dengan Hwon. Kemungkinan yang terbaik, ia akan dijadikan selir. Itu adalah takdir yang sangat kejam, karena statusnya yang tidak jelas, ia hanya bisa hidup sendiri atau ada diantaranya (Selir), Ibunya tidak rela kalau Yeon Woo bernasib tragis seperti itu, tapi Menteri Heo tidak mau melanggar hukum. Yeon Woo mendengarkan pertengkaran orang tuanya dari luar.


Hyung Sun menjelaskan pada Hwon kalau Yeom berusaha melindungi adiknya, jika ia terpilih sampai ke final, tapi tidak terpilih, maka ia dan gadis yang lain tidak diperbolehkan memasuki  istana dan sepanjang hidupnya akan dianggap sebagai selir raja, ia tidak bisa menikah dengan orang lain dan akhirnya akan dilupakan.
Hyung Sun menambahkan kalau beberapa akan dibawa ke istana bawah untuk hidup sebagai selir. Hwon tersadar kalau ibu Yang Myung dulu juga kandidat Putri Mahkota. Raja kasihan padanya dan membawanya ke istana.


Semua keputusan ada di tangan Ibu Suri dan dia pasti akan memilih Bo Kyung, putri Menteri Yoon untuk dijadikan istrinya. Hwon pun pergi menghadap ayahnya dan memohon supaya ayahnya menurunkan perintah untuk memilih putri mahkota dengan kriteria yang lebih ketat. Raja tidak mau karena itu bukan kewenangannya. Hwon pun memohon agar ayahnya pergi menemui Ibu Suri. Tapi Raja berkata kalau ada beberapa hal, dimana seorang raja pun tidak bisa ikut campur.
Di luar, Yang Myung datang ke istana. Ia melihat Hyung Sun dan bertanya apa Hwon ada di dalam. Seorang kasim menjelaskan kalau mereka tidak boleh mengganggu pertemuan itu.
Raja memarahi kalau Hwon tidak boleh egois, semua ini terjadi karena kesalahannya (bertemu Bo Kyung secara rahasia), jadi ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri
Hwon pun meminta untuk diadakan pemilihan yang adil, sehingga bisa menghentikan jalur kekuasaan atas kerajaan oleh satu klan tertentu.
Di kamarnya, Hwon meminta Hyung Sun untuk membawa ketua murid Sungkyungkwan secara rahasia. Ini adalah kesempatan terakhirnya, jika ia ketahuan, maka ia bisa mati.


Yang Myung pergi menemui raja. Ia mengingatkan raja tentang janjinya untuk menikahkan Yeon Woo padanya. Raja berkata kalau ia tidak berjanji seperti itu, ia hanya akan memikirkannya. Yang Myung menjadi panik dan bertanya kenapa Raja menjadi seperti itu, apa Hwon juga punya permintaan yang sama, apa ia lebih memilih Hwon, apa Yeon Woo yang akan jadi calon Ratu?
Raja hanya berkata, jika Yeon Woo terpilih, maka ia akan menjadi istri Hwon. Tapi Yang Myung menyahut kalau semua orang tahu kalau Bo Kyung yang akan dijadikan calon istri Hwon, jadi apa yang terjadi pada Yeon Woo? “Jika ia tidak terpilih, apa aku bisa menikahinya nanti?”
Raja pun berteriak dengan marah, ia tahu kalau Yeon Woo tidak terpilih, maka ia tetap menjadi wanita milik Hwon. Ia sangat mengerti takdir kejam itu dan bertanya bagaimana ia bisa diam saja dan membiarkan hal itu terjadi pada Yeon Woo. Ia akan tetap menikahi Yeon Woo jika hal itu terjadi.
Raja mengatakannya dengan jelas ,jika ia terus mengatakan hal ini, ia akan menganggapnya sebagai pengkhianatan.


Yang Myung menghambur keluar sambil menangis. Ia melihat bayangan dirinya yang sedang bermain dengan hwon kecil. Dalam voiceover yang ditujukan pada Hwon kecil dalam kenangannya:
Yang Myung: “Jangan tertawa seperti itu, Putra Mahkota. Kau yang mendapatkan apapun dengan mudah ditanganmu apa yang selalu kucoba miliki, orang-orang yang kuinginkan. Tolong, berhentilah tersenyum seperti itu. Supaya aku dengan bebas bisa membencimu.”


Hwon kecil tersandung dan jatuh, tanpa berpikir, Yang Myung berlari untuk menangkapnya dan melupakan rasa marahnya. Ia memandang mata Hwon kecil dan meneruskan voiceovernya, “Jika  kau tidak membiarkan itu terjadi, maka tolong rasa sakit dan kesedihanku.”
Raja ternyata tidak berhati dingin, ia merasa sangat sedih dengan kunjungan Yang Myung. Ia pun memutuskan untuk menemui Putri Min Hwa. Ia ingin menghibur diri dengan mendengarkan tawanya.


Tapi Putri Min Hwa sedang sibuk mengintip Yeom. Ia pun mulai mencari perhatiannya, sayangnya Yeom sedang melamun dan melewatinya begitu saja. Putri Min Hwa tidak menyerah, ia pun berlari ,mengejar Yeom dan memblokir jalannya dengan tangan terbuka lebar. Yeom meminta maaf karena tadi tidak melihatnya.
Putri Min Hwa memberikan gelang buatannya, Yeom pun bertanya kenapa ia memberikannya. Putri Min Hwa jadi bingung, dengan tergagap ia menjawab karena Yeon Woo adiknya. Ia  bertanya apa Yeom punya istri. Yeom menjawab tidak, putri Min Hwa pun merasa senang. Ia kemudian bertanya lagi apa ia punya tunangan,  Yeom pun berkata tidak. Putri Min Hwa melompat-lompat karena gembira.


Putri Min Hwa memberitahunya kalau ia sekarang rajin belajar, ia juga yang bisa menjawab teka-tekinya, yang jawabannya kelopak mata itu. Ia pun mendemonstrasikannya.  Yeom hanya menunduk, putripun merengek dan memintanya untuk memandang wajahnya serta mendemonstrasikan lagi. Yeom tersenyum dan Putri Min Hwa langsung terdiam ditengah-tengah perkataannya, “Kau cantik…..” Putri Min Hwa langsung berlari pergi karena malu. Sedangkan Yeom kebingungan.
Ia melihat Raja datang ke kamarnya dan Putri Min Hwa pun segera berlari ke tangan Raja yang dibuka lebar-lebar. Tapi ia berhenti ditengah jalan dan menghormat dengan cara yang sopan. Ia memberitahu raja kalau ia bukan anak kecil lagi dan ayahnya pun tertawa terbahak-bahak.


Ia pun duduk bersama ayahnya dan memberitahunya kalau ia ingin menikah dengan Yeom. Raja langsung meletakkan tangan di kepalanya. Ia sangat pusing karena putrinya juga ingin dinikahkan dengan Putra Menteri Heo.
Ayahnya memberitahu kalau ia tidak bisa karena Yeom ditakdirkan untuk melakukan hal-hal yang lebih besar. Putri Min Hwa tidak mengerti, jika ia begitu hebat, maka ia akan cocok untuknya. Raja menjelaskan kalau jika ia menikahinya, maka Yeom tidak bisa menjadi pejabat negara, itu sama saja dengan menghalanginya dari berbuat hal yang besar dengan kemampuannya yang hebat.
Putri Min Hwa kaget, ia bertanya kalau itu artinya ia akan menikah dengan seseorang yang jelek dan bodoh. Raja berkata tidak, ia tidak bisa menikahi Yeom karena ia orang yang ditakdirkan untuk menuntun raja selanjutnya. Putri Min Hwa merengek. Ia tidak akan menikahi orang lain selain Yeom, tapi ayahnya tetap berkata tidak. Ia pun menjelaskan dengan lembut, kalau menikahi Yeom berarti mematahkan sayapnya dan tidak ada takdir yang lebih tragis dari hal itu.


Yeom pulang ke rumah malam itu dan melihat Seol yang sedang berlatih pedang di halaman. Seol segera menyembunyikan pedangnya di punggungnya, tapi Yeom memberitahunya kalau ilmu pedangnya sudah lebih baik. Ia juga menyuruhnya untuk memandang wajahnya dan bertanya apakah ada wanita yang mirip dengan dirinya.


Seol menjawab Yeon Woo, Yeom sudah memastikan kecurigaannya. Ia duduk bersama Yeon Woo dan bertanya bagaimana Hwon bisa mengenalnya dan apakah ia juga punya perasaan yang sama dengannya. Yeon Woo tidak menyangkal dan ia berkata kalau ia memahami kekhawatiran kakaknya, tapi tidak punya rencana untuk mundur. Ia bertanya apa ia tahu siapa yang akan terpilih. Yeon Woo menjawab kalau ia sudah tahu.
Yeom memperingatkannya, jika orang tahu tentang perasaan Hwon padanya, maka ia bisa dijadikan tumbal untuk mendapatkan kekuasaan. Yeom menyuruhnya berpura-pura sakit dan bisa dikeluarkan dari proses seleksi. Ia pernah mengajarinya, kalau ia punya lawan yang lebih kuat, maka sebaiknya ia menyelamatkan diri terlebih dahulu. Tapi Yeon Woo menolak, ia mengaku kalau hatinya sudah menjadi milik Hwon. Yeom pun terlihat sedih.


Hwon bertemu secara rahasia dengan Ketua Murid Sungkyungkwan di tengah malam. Ia disuruh memakai pakaian kasim. Hwon berkata kalau sekarang sarjana Sungkyungkwan sudah tidak terhirmat lagi, karena mereka melihat situasi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu (memikirkan keselamatan diri sendiri). Ia mengingatkan tugas sarjana Sungkyungkwan untuk membimbing bangsa dan bertanya apakah benar jika pemilihan istri Putra Mahkota digunakan oleh suatu klan untuk mengamankan kekuasaannya.


Menteri Yoon bertemu dengan Ibu Suri, ia memberitahu kalau Putri Mahkota yang diinginkan oleh Raja dan putyra Mahkota adalah putri Menteri Heo. Ibu Suri menenangkannya karena kekuasaan untuk memilih putri mahkkota ada ditangannya. Menteri Yoon mengingatkan, jika Yeon Woo menjadi Selir Kerajaan dan mengandung anak terlebih dahulu, maka akan berat untuk mereka. Mereka harus punya rencana cadangan. Ia menambahkan, jika Ibu Suri bisa menghilangkan matahari, apa ia tidak bisa menghilangkan bulan, lagipula para peramal adalah orang-orangnya. 


Hari berikutnya, Ketua Murid itu membawa teman-temannya untuk berdemonstrasi diluar dinding istana. Mereka mengirimkan tuntutan mereka. Saat raja membacanya, kita kembali saat  raja berbicara dengan Hwon.
Hwon berkata kalau ini adalah penyalahgunaan kekuasaan dan meminta kalau perubahan ini dimulai dengan pemilihan calon istrinya.
Raja memintanya untuk meyakinkannya. Kembali ke masa kini, Raja tersenyum. Ia terkesan dengan taktik yang dilakukan Hwon dengan cara memobilasasi sarjana Sungkyungkwan untuk membuat opini publik.  Demonstrasi itu berlangsung selama beberapa hari dan Dewan Istana memperdebatkan masalah itu.
Banyak yang berpendapat kalau Raja sebaiknya tidak mendengarkan mereka dan menghukum mereka, tapi Menteri Heo berkata kalau Raja seharusnya tidak meremehkan pendapat rakyatnya, menambahkan jika hukum sudah diterapkan dengan benar, maka tidak akan mudah digulingkan oleh pendapat mereka.
Raja menjawab kalau ia sudah mempertimbangkan pendapat para sarjana dan sudah membuat keputusan. Ia menyatakan kalau seleksi calon ratu akan dilakukan dengan adil oleh dewan yang terdiri dari 4 orang dan seluruh proses seleksi akan dipindahkan diluar kekuasaan Ibu Suri.


Ibu Suri datang menemui raja. Ia berkeras kalau ia memilih calon ratu karena gadis itu adalah pilihan yang tepat, bukan karena hubungan darah. Raja menjawab kalau gadis itu akan baik-baik saja jika ia memang punya kemampuan yang baik.
Ibu Suri sangat marah karena Raja berkeras supaya ia tidak turut campur dalam pemilihan calon istri Hwon. Tapi Raja hanya menjawab kalau rakyat sudah bersatu untuk hal ini dan mereka tidak bisa diabaikan, “Hubungan ayah itu bukan hanya karena pertalian darah, tapi lebih dari itu. Jika Raja adalah ayah dari rakyatnya, maka rakyat juga ayah Raja.”
Ibu Suri pun murka, ia mengingatkan kalau ia dan klannya sudah menjaga tahtanya. Ia bertanya apa Raja lupa, Raja berkata kalau ia tidak lupa dan bagimana ia bisa melupakannya. Flashback, Menteri Yoon membunuh adiknya.
Dengan gemetar, ia mengingatkan Ibu Suri atas apa yang dilakukannya dengan Menteri Yoon pada Pangeran Uiseong demi melindungi tahtanya. Ibu Suri kaget, karena ternyata Raja tahu perbuatannya.
Ibu Suri berteriak, jika selama ini ia tahu, ia tidak lupa hutangnya kepadanya untuk menjaga tangannya tidak dikotori darah
Raja menyuruhnya untuk tidak tambah serakah.


Ibu Yeon Woo melatihnya untuk proses pemilihan itu. Lucunya, ia mengajarinya untuk membungkuk hormat dengan suara berdebum, makan mienya dengan suara menyeruput dan mengatakan kalau hobinya membaca dan menulis, bukan hal remeh seperti menyulam. Yeon Woo tertawa,  melihat usaha ibunya yang terselubung agar dia di eliminasi pada putaran pertama.


Yeon Woo memberitahunya kalau apapun yang terjadi, ia ingin membuat ayahnya bangga dan memberitahu ibunya supaya tidak usah khawatir. Ibu hanya bisa memeluknya dengan erat dengan desahan yang panjang. Hari berikutnya proses pemilihan pun dimulai, para gadis memenuhi istana, mereka datang dari tempat yang jauh maupun dekat untuk memberi salam pada Raja.


Yang Myung datang untuk menemui Yeon Woo pada malam harinya. Ia berpakaian dengan pakaian bepergian. Yeon Woo memarahinya karena datang begitu malam, tapi kemudian melihat kalau ia akan pergi lagi. Yang Myung berkata kalau ia datang untuk melihat wajahnya dan mencondongkan badannya supaya bisa melihat Yeon Woo dengan baik.


Ia bergumam kalau ia bisa melihat wajah Yeon Woo yang jelek dengan baik, jadi sekarang ia bisa pergi. Yeon Woo bertanya apa ia akan kembali. Kata-kata Yeon Woo menghentikan langkah Yang Myung dan ia pun berpaling,Yeon Woo berkata kalau ia pergi, ia tidak memberikan kabar, kali ini ia meminta Yang Myung untuk memberi kabar. Yang Myung, “Apa kau mau pergi bersamaku?”


Yang Myung memberitahunya kalau Bo Kyung yang akan terpilih menjadi calon ratu dan hal terbaik yang terjadi padanya adalah menjadi selir Hwon dan selamanya dilarang memasuki istana serta dipaksa untuk hidup sendirian, “Jika kau mau melarikan diri, jika kau menginginkannya….Aku bisa membuang kebangsawananku, namaku dan melindungimu.”
Yeon Woo mengira kalau Yang Myung hanya bercanda dan memberitahunya kalau leluconnya sudah berlebihan. Dengan patah hati, Yang Myung tertawa dan setuju dengannya. Ia bertanya apa ia tidak akan menyesal atas jalan yang dipilihnya. Tanpa ragu-ragu, Yeon Woo berkata tidak.
Yang Myung memberinya semangat untuk mengalahkan Bo Kyung dengan satu pukulan dan menyentil dahinya untuk terakhir kalinya. Ia pun pergi. Ia bertemu dengan Woon yang sudah menunggunya.


Yang Myung memberitahunya kalau ia pergi lagi, “Pohon ini ingin tinggal, tapi angin terus meniupnya. Sebelum aku jatuh atau patah, ini saatnya pergi.” Woon tidak bisa membantah karena ia tahu apa yang terjadi antara Yang Myung dengan Raja.


Yang Myung memandang langit, “Tapi bulan itu, kemanapun aku pergi, ia akan selalu mengikutiku kan?”


Sepuluh hari kemudian, pemilihan itu menyisakan 3 finalis. Raja duduk dengan mereka untuk memberi pertanyaan, jika mereka harus membandingkan raja dengan uang, maka berapa banyak harga raja itu.
Gadis pertama menjawab, seratus ribu, bukan satu juta nyang, dengan terbata-bata, ia menjawab kalau ia tak tahu uang dengan baik. Bo Kyung menjawab kalau tidak ada perak di dunia ini yang bisa digunakan untuk mengukur kebesaran Raja. Raja harus  bertanya lagi padanya jika mereka sudah memikirkan cara mengukur tingginya langit dan dalamnya lautan. Ibu Suri tersenyum
Jawaban Yeon Woo, satu nyang. Semua orang kaget.


Hwon berusaha mengalihkan perhatiannya dengan latihan memanah saat prosesi itu berlangsung. Tapi ia terus meleset dari targetnya. Akhirnya, Hyung Sun datang dengan berlari. Dengan tidak sabar Hwon pun menanyakan hasilnya….


Calon pengantin menghormat pada Ibu Suri dan mengangkat kepalanya. Ternyata yang terpilih adalah Yeon Woo. Raja dan Ratu menatapnya dengan senyuman. Calon menantu mereka. Ibu Suri menerima penghormatan itu dengan wajah kaku, tapi dalam hatinya marah.
Flashback
Yeon Woo menjawab satu nyang. Orang yang punya sepuluh ribu nyang menganggap uang satu nyang itu tidak berarti, tapi orang miskin tahu betapa berharganya satu nyang itu. Raja adalah satu nyang yang berharga bagi semua, khususnya untuk orang yang tidak punya apa-apa. Lagipula nilai satu nyang itu sama bagi semua orang, jadi ia Raja untuk orang miskin ataupun orang kaya.
Raja memuji kepandaiannya. Selama ini ia sudah mengagumi kemampuan ayah dan kakaknya. Punya menantu yang pintar seperti dirinya membuatnya merasa sangat bangga. 


Putri Min Hwa meneruskan mogok makannya, ia lebih baik kelaparan daripada tidak menikahi Yeom. Ia merengek dan menangis, memohon pada semua orang yang mendengarkannya, pada ibu, nenek untuk mengubah pendapat Raja. Ibu Suri mendengarkan rengekannya, jika Yeon Woo bisa menikah dengan kakaknya, kenapa ia tidak bisa menikahi Yeom. Lebih baik ia mati daripada tidak menikahi Yeom. Ibu Suri pun mendapatkan ide.
Nok Young memandang langit malam dan melihat awan hitam yang menakutkan menutupi bulan.


Yeon Woo dibawa ke kediamannya di bangunan bulan perak sampai hari pernikahannya. Mulai besok ia akan mendapatkan pelajaran yang dibutuhkan untuk menjadi Putri Mahkota. Pelayan barunya meninggalkan saputangan, berkata kalau ia nanti membutuhkannya dan meninggalkannya agar ia beristirahat. Ketika sudah sendiri, Yeon Woo sadar betapa ia merindukan ibunya dan mulai menangis.
Ia mencari saputangan itu dan tersadar kalau ini yang dimaksud pelayannya tadi dan mulai menagis lagi. Ia membuka saputangan itu dan menemukan pesan  dari Hwon, “Kau tidak menangis karena merindukan keluargamu kan? Jika iya, lihatlah keluar jendelamu.”


Yeon Woo membuka jendela dan melihat Hwon sedang menatapnya. Yeon Woo langsung berkata kalau ini dilarang dan menutup jendelanya. Ia mengintipnya dan merasa kecewa karena Hwon langsung pergi seperti yang di inginkannya. Ia pun berlari untuk menemukannya berdiri di depan sebuah teater darurat kecil.


Hwon tersenyum, “Apakah kau sudah selesai menangis?” Ia meyakinkan kalai ia sudah mendapat ijin khusus dari Raja dan menunjuk tempat duduknya. Yeon Woo memegang tangannya dan mereka duduk sambil tersenyum. Kepala Hyung Sun muncul dari dalam teater dengan boneka kecil dari Hwon dan Yeon Woo. Wajah Yeon Woo pun jadi cerah.


Nok Young dipanggil untuk menghadap Ibu Suri yang menyuruhnya untuk membunuh Yeon Woo. Nok Young mengingatkannya kalau ia melayani Raja dan sekarang Yeon Woo adalah seseorang yang harus dilindunginya. Tapi dengan tenang, Ibu Suri mengancam Seongsucheong, departemen milik para peramal, yang akan kehilangan semua kekuasaannya jika ia menarik dukungannya. Dulu ia berkata kalau Bo Kyung yang akan menjadi ratu, ia harus mempertanggungjawabkan semua yang diucapkannya.
Ia menyuruh Nok Young untuk menggunakan ilmu hitam untuk membunuh Heo Yeon Woo. Nok Young terhuyung-huyung masuk ke dalam kamarnya dengan linglung. Ia bertanya pada Ari apakah ia energi gelap yang mengancam Yeon Woo. Siapa yang seharusnya dilindunginya, Seongsucheong atau Yeon Woo?


Ia jatuh ke tanah dan berakhir di kuburan yang sama dari visi sebelumnya. Sebuah pita merah dengan karakter “dua”, “manusia”,dan “tenaga kerja”, yang membuatnya terkejut. Ia membiarkan pita itu jatuh ke tanah. Karakter itu menghilang dan kemudian muncul lagi membentuk kata “peramal” dan terbang dari tangannya menuju langit.


Saat Hwon dan Yeon Woo menonton pertunjukkan boneka, Nok Young mengulang takdir yang dilihatnya untuk Yeon Woo, ia akan menderita karena terlalu dekat dengan matahari, tapi ditakdirkan untuk tinggal disisinya. “Apakah aku tak punya pilihan selain membunuhnya?”










Credits: www.dramabeans.com

3 comments:

Anonim mengatakan...

makin seru, lanjut yaa sinopnya....

Anonim mengatakan...

seru abis...

Anonim mengatakan...

seru... seru ditunggu lanjutan sinopsisnya

Posting Komentar