Pages

15/03/12

JADE PALACE LOCKHEART EPISODE 25


Selir Xi punya cara untuk menarik perhatian Kaisar. Ia menemui Consort Liang dan memberitahunya kalau ia segera memindahkan Qing Chuan ke istana Chen Qian. Ia bahkan menawarkan untuk melayani Consort Liang karena ia yang lebih muda. Consort Liang yang sudah tahu watak asli Selir Xi menolaknya dengan halus.


Saat mereka datang, Kaisar datang. Ia pun mempergunakan kesempatan ini untuk mencoreng nama Consort Liang. Ia pura-pura terpeleset, untungnya Consort Liang yang pintar kungfu segera menolongnya. Kaisar yang melihat semuanya langsung menyalahkan Selir Xi dan menyuruh kasim untuk mengantarkannya ke Istana Ciu Xiu. Selir Xi terlihat kesal karena rencananya gagal. Heran deh, Selir Xi selalu berpikiran pendek yang sering merugikan dirinya sendiri.
Consort Liang berusaha membela Selir Xi, tapi Kaisar mengabaikannya karena ia tahu jelas sifat-sifat istrinya. Consort Liang terlihat lega dan kemudian bertanya apakah ia boleh meminta sesuatu? Kaisar mendengarkannya, Selir Liang berkata kalau Yinsi sudah saatnya menikah. Kaisar berpikir sejenak dan berkata kalau ia hampir lupa, padahal ini masalah yang penting.


Di istana Ciu Xiu, tabib sedang memeriksa denyut nadi Selir Xi dan melaporkan kalau Selir Xi belum hamil juga. Dengan kesal Selir Xi membenarkan, bagaimana ia bisa hamil jika Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Tabib khawatir kalau ini terus berlanjut, lehernya akan dipenggal. Selir Xi menyuruhnya tenang dan mencari jalan lain. Tabib mengusulkan kalau ia akan mencari darah rusa dan Selir Xi harus meminumkannya pada Kaisar. Kesempatannya memang kecil tapi mungkin akan memberi mereka harapan. Darah rusa dipercaya bisa meningkatkan gairah seksual kaum pria.



Selir Xi menemui Sun’Zi dan memberitahunya kalau ia tidak hamil. Sun’Zi kaget karena yang dilakukannya adalah kejahatan. Selir Xi beralasan kalau ia tidak suka diabaikan oleh karena itu ia meminta Sun’Zi untuk membantunya membawa Kaisar ke istana Ciu Xiu. Dengan begitu ada kemungkinan ia bisa hamil.


Ia tahu kalau selama ini ia tidak memperlakukan Sun’Zi dengan baik. Itu dilakukannya bukan karena ia benci, tapi kecewa karena Sun’Zi melepaskan masa depan yang cerah karena seorang wanita. Sun’Zi langsung memegang tangan Selir Xi dan berkata kalau ia datang ke istana untuk mengejar dirinya, oleh karena itu, ia akan melakukan apa saja untuk membantunya. Selir Xi hanya bisa menangis. Mungkin ia menyesal masuk ke istana dan menghadapi semua intriknya yang kejam.


Selir Xi sedang memilih-milih kain, tiba-tiba Sun’Zi datang dan melaporkan kalau ia sudah berusaha sebaik mungkin, tapi Kaisar tetap pergi ke tempat Consort Liang. Selir Xi langsung bingung karena waktunya tidak banyak.


Tiba-tiba Xiao Chun masuk untuk mengantarkan baju hasil jahitannya. Selir Xi hanya memandangnya dan mendapatkan sebuah ide. Ia bertanya pada Sun’Zi, “Menurutmu, lebih baik aku hidup atau mati?” Sun’Zi langsung mennjawab kalau sebaiknya ia tetap hidup. Selir Xi memintanya untuk membantunya sekali lagi. Ia bertanya apakah Sun’Zi tahu tempat yang tidak pernah didatangi orang? Ia menambahkan kalau hidup mereka berdua sudah bertautan, mereka akan hidup bersama atau mati bersama. Sun’Zi mengangguk.


Sun’Zi membawa Xiao Chun ke istana Kun Ning. Ia membohongi Xiao Chun kalau Qing Chuan ingin bertemu dengannya disini. Xiao Chun terus memanggil Qing Chuan dan masuk ke dalam, tapi yang dilihatnya adalah Selir Xi yang sedang mandi. Xiao Chun langsung pergi, tapi dihalangi Sun’Zi yang langsung mendorongnya ke tempat tidur. Selir Xi mendekatinya dan memberitahunya asalkan ia memberikan apa yang di inginkannya, ia akan tetap selamat. Ia menambahkan kalau Yang di inginkannya adalah seorang bayi. 


Xiao Chun mendorong Selir Xi dan mencoba melarikan diri, tapi ditahan Sun’Zi. Selir Xi mengancam, jika ia tidak melakukan apa yang di inginkannya, maka besok mayat Qing Chuan ada didepan rumahnya. Xiao Chun tidak punya pilihan, sedangkan Sun’Zi segera pergi dan menutup pintu sambil menahan airmatanya.


Qing Chuan sedang berjalan di taman, tiba-tiba ia bertemu dengan Xiao Chun. Qing Chuan bertanya apakah Xiao Chun akan meninggalkan istana? Xiao Chun langsung memegang bahunya dan bertanya apakah Qing Chuan baik-baik saja. Qing Chuan membenarkan dan Xiao Chun pun terlihat lega.
Seorang pelayan memanggil Qing Chuan dan memberitahunya kalau Consort Liang ingin bertemu dengannya. Qing Chuan agak takut dan berpikir dalam hati apakah ia bernasib begitu buruk karena terus berurusan dengan orang-orang yang menakutkan.
Qing Chuan datang dan melihat Consort Liang, Yinsi dan seorang putri dimeja.Consort Liang memperkenalkan putri itu, Putri Ning Xiang dari Mongolia. Ia memang sengaja membuat pertemuan ini agar seluruh istan Chen Qiang memperlakukan Putri Ning Xiang dengan baik.


Qing Chuan mengerti kalau Yinsi dijodohkan, tapi ia tidak takut. Ia berjanji pada Consort Liang untuk melayani putri tersebut dengan baik. Consort Liang terus memuji Putri Ning Xiang dan menyuruhnya untuk mempertunjukkan kemampuan musiknya. Putri Ning Xiang pun segera memainkan alat musiknya.
Yinsi terlihat tidak suka dan terus gelisah, sedangkan Consort Liang memandangi Qing Chuan dengan puas. Qing Chuan berpikir kalau ia tidak bisa dibandingkan dengan putri itu.
Consort Liang memuji Putri Ning Xiang, ia pasti pantas untuk dijadikan istri pertama Yinsi dan meminta persetujuan Qing Chuan. Sebelum Qing Chuan sempat menjawab, Yinsi berkata pada ibunya kalau Qing Chuan juga bisa bermain siter. Ia pun memaksa Qing Chuan melakukannya walaupun Qing Chuan berusaha menolak.


Ia pun memainkan siter itu sambil menyanyi.

Malam apa malam ini
Perahuku meluncur di sungai
Malam apa malam ini
Aku satu perahu dengan Pangeran
Bertahan dengan rasa malu ini, tidak takut ditertawakan.

Consort Liang memuji Qing Chuan kemudian ia menambahkan kalau lagu ini akan dipergunakan untuk merayakan perjodohan Putri Ning Xiang dengan Yinsi. Keduanya kaget dan menolak. Tapi Consort Liang beralasan kalau Kaisar sudah setuju dan pernikahan antara Manchuria dan Mongolia selalu dilakukan demi kerjasama dan keamanan dua negara.


Baik Putri Ning Xiang maupun Yinsi tetap menolak keras, mereka ingin menikahi orang yang dicintainya. Melihat kejadian ini, Qing Chuan berpikir kalau keduanya sangat mirip dan bertanya-tanya apakah mereka diam-diam sudah saling memahami.
Consort Liang marah dan menyuruh mereka duduk, tapi Yinsi tidak mau. Ia menarik tangan Ning Xiang dan segera pergi dari tempat itu. Ia meninggalkan Qing Chuan yang langsung sedih dan mengira kalau mereka berdua telah merencanakannya.


Setelah jauh dari istana Chen Qian, Yinsi menghentikan larinya dan menyuruh Qing Chuan untuk tidak khawatir karena orang yang ingin dinikahinya hanya dirinya. Ketiak ia berbalik ia kaget karena yang ditariknya adalah Ning Xian. Ternyata ia salah menarik orang.
Ia langsung melepaskan tangan Ning Xian dan bertanya-tanya pada dirinya kenapa ini terjadi. Ning Xian memberitahunya kalau ia menarik tangannya dan berlari, sehingga ia tidak sempat berbicara apapun. Yinsi jadi pusing dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ning Xian meminta Yinsi untuk mengantarkannya ketempatnya dahulu karena istana ini terlalu besar, tapi Yinsi tidak menggubrisnya.


Ning Xiang terus berusaha memohon pada Yinsi.  Jika ia berjalan ke tempat yang seharusnya ia tidak diperbolehkan, maka ia bisa dipenggal, lagipula istana ini sangat gelap, ia takut jatuh ke sungai dan ia tidak bisa berenang. Akhirnya Yinsi melunak dan mengantarkannya sambil bergumam kalau Qing Chuan pasti marah karena ia melakukan ini.


Ditempat lain Qing Chuan berjalan dengan wajah suram. Ia mengomel karena merasa marah Yinsi sudah meninggalkannya dan memilih wanita lain. Ia pun berteriak dengan keras untuk menghilangkan rasa kesalnya. Pelayan lain terbangun dan memarahi Qing Chuan. Qing Chuan hanya berkata kalau ia sedang bahagia. Pelayan itu menyahut kalau wajahnya tidak kelihatan bahagia. Ia pun segera berpura-pura tertawa dengan wajah yang garang kemudian segera masuk ke dalam kamarnya.


Ke esokan harinya Yinthang dan Yin’e membawa Qing Chuan ke hadapan Yinsi. Qing Chuan sangat marah. Yinsi berusaha mendekatinya, tapi Qing Chuan tetap cuek. Dengan hati-hati Yinsi bertanya apakah Qing Chuan masih marah, ia juga marah pada dirinya sendiri. Qing Chuan langsung menyahut, “Untuk apa kau marah, seharusnya kau bahagia!”
Dengan tergagap, Yinsi bertanya kenapa ia harus bahagia. Qing Chuan berteriak kalau Ning Xiang sangat cantik, sopan, semalam mereka pasti sudah mengobrol dengan asyik. Dengan putus asa, Yinsi menjelaskan kalau semalam ia salah menarik orang. Qing Chuan masih marah dan tidak mau menerima alasannya karena mereka berdua jelas-jelas berbeda, tinggi dan baju mereka berbeda. Ia pun meninggalkan Yinsi yang kebingungan, dan sempat berhenti sejenak untuk memberitahu Yinsi kalau ia tidak cemburu.


Setelah berjalan beberapa lama, Qing Chuan berhenti dan menangis. Ia berusaha meyakinkan dirinya kalau Yinsi bukan orang yang penting baginya. Ning Xiang melihatnya dan bertanya kenapa Qing Chuan menangis. Qing Chuan berkata kalau matanya kemasukan pasir. Ning Xiang bersikap ramah padanya dan berusaha membantunya, tapi Qing Chuan menolak.


Ning Xiang bertanya apakah Qing Chuan mengenal Yinsi dengan baik. Qing Chuan memabantah, ia hanyalah pelayan istana dan kadang-kadang Yinsi menyapanya. Ning Xiang terlihat lega, jadi ia bisa bertanya tentang Yinsi pada Qing Chuan. Qing Chuan bertanya apakah mereka sudah lama mengenal? Ning Xian mengaku kalau mereka baru bertemu semalam.
Ning Xiang mengaku kalau sebenarnya ia tidak suka menikah dengan Pangeran dari istana karena banyak aturan juga wanita. Ini tidak bisa dibandingkan dengan daratan Mongolia yang luas dan terbuka. Tapi setelah bertemu dengan Yinsi, ada perasaan aneh dalam dirinya. Sejak semalam ia selalu memikirkan Yinsi. Apakah ini artinya ia menyukai Yinsi? Qing Chuan menjawab kalau ia tidak tahu.


Ning Xiang kemudian menarik Qing Chuan dan membawanya ke kamarnya. Qing Chuan kagum karena kamar Ning Xian penuh dengan kaligrafi dan lukisan. Ning Xiang menyuruhnya mengambil yang ia mau, tapi Qing Chuan menolak karena semua itu pasti barang berharga buatan para ahli. Ning Xiang berkata kalau itu semua buatannya. Sejak kecil ia belajar membuat kaligrafi, bermain musik dan melukis.Qing Chuan tambah kagum dan berpikir dalam hati kalau ia tidak bisa dibandingkan dengan Ning Xian.


Ning Xian memegang tangan Qing Chuan dan ingin bersahabat dengannya. Qing Chuan berkata kalau ia hanyalah seorang pelayan. Ning Xiang menyuruhnya untuk tidak berpikir demikian, ia paling tidak suka membeda-bedakan orang karena status. Gadis yang seumur dengannya biasanya pelayan yang tidak mau bicara dengannya atau putri yang egois. Menurutnya Qing Chuan berbeda, ia jujur seperti gadis-gadis Mongolia. Mereka bisa jadi saudara yang baik dan saling berbagi cerita. Harapannya terbesarnya adalah menikahi Yinsi. Ia kemudian menyuruh Qing Chuan untuk membantunya memilih baju yang mungkin disukai oleh Yinsi.


Dengan sedih Qing Chuan memandang Ning Xian yang terlihat sangat bahagia. Ia berpikir dalam hati kalau Ning Xian gadis yang tepat untuk Yinsi. Mereka bisa membicarakan kaligrafi maupun puisi bersama atau naik kuda dipadang rumput. Tidak seperti dirinya yang hanya bisa membuat Yinsi marah, lagipula sebentar lagi ia akan dipindah ke istana Chen Qian dan Consort Liang tidak menyukainya. Daripada ia bertempur dalam peperangan yang tidak ada harapan lebih baik ia menyerah. Qing Chuan tersenyum dan membantu Ning Xian memilih baju.


Qing Chuan tiba di istana Chen Qian. Ternyata Yinsi sudah menunggunya. Ia berusaha mengajak Qing Chuan mengobrol, tapi Qing Chuan sangat dingin padanya. Yinsi bahkan sudah menyiapkan sebuah kamar untuknya. Ia menyuruh Qing Chuan melihatnya. Ia kemudian bertanya apakah Qing Chuan masih marah padanya. Qing Chuan memnjawab kalau ia sudah tidak marah lagi. Yinsi terlihat lega dan memegang bahu Qing Chuan. Qing Chuan melepaskan diri dan berkata kalau Ning Xian sudah berdandan cantik dan ingin bertemu dengannya.


Yinsi terlihat bingung dan bertanya apa maksud perkataan Qing Chuan. Ia menjawab kalau Ning Xian ingin berteman baik dengannya dan sepanjang siang ini ia sudah membantu Ning Xian berdandan jadi sebaiknya Yinsi melihatnya. Yinsi terlihat kesal mendengarnya. Ia masih bingung mendengar perkataan Qing Chuan. Ia meyakinkannya kalau hanya Qing Chuanlah yang ada dihatinya. Kenapa ia selalu mendorongnya pergi. Qing Chuan berkata kalau ia tidak pernah mendorongnya pergi. Apakah Yinsi tidak sadar kalau sejak awal, jarak diantara mereka begitu jauh. Sejak bertemu dengannya banyak hal yang terjadi. Sepertinya Tuhan tidak menginginkan mereka bersama. Yinsi berusaha meyakinkan Qing Chuan, tapi Qing Chuan mendorongnya keluar dari kamar dan menutup pintu. Yinsi terus memanggilnya, sedangkan Qing Chuan berusaha menahan tangisnya.


Yinsi menghadap Kaisar di istana Qian Qing. Kaisar bertanya bagaimana pendapat Yinsi tentang perjodohannya. Yinsi berkata kalau ia tidak bisa menikahi Ning Xian karena ia tidak suka padanya. Ibunya menyela kalau pernikahan itu orangtua yang menentukan dan ia tidak bisa menolak hanya karena ia tidak suka.
Yinsi menjawab kalau Kaisar selalu mengajarinya untuk jujur pada diri sendiri. Ia menambahkan kalau ibunya sudah pernah mengalaminya, kenapa ia tidak mengerti juga. Consort Liang berkata kalau ini berbeda, Yinsi masih muda belum tahu tentang kejamnya dunia. Ia melakukan ini demi kebaikannya.


Dengan perlahan Yinsi bertanya pada ibunya, “Ketika kecil aku takut dengan petir, ketika aku membutuhkan perlindunganmu kau ada dimana? Ketika aku terjatuh dari kuda dan membutuhkan perawatanmu, kau ada dimana? Selama bertahun-tahun kau tidak ada untukku. Apa hakmu untuk menentukan yang terbaik untukku. Apa hakmu?”
Consort Liang terlihat gelisah, Kaisar yang memperhatikannya segera membentak Yinsi kalau ia sudah melewati batas. Yinsi berkata kalau ia tidak ingin kasar pada ibunya. Ia hanya ingin jujur dengan perasaannya, jika Kaisar ingin menghukumnya, maka ia akan terima. Yinsi pun pergi. Kaisar mendesah kalau Yinsi semakin mirip dengannya. Ia kemudian menenangkan Consort Liang.
Consort Liang sedang memasak sup. Ia memanggil Qing Chuan dan menyuruhnya untuk duduk. Qing Chuan menolak karena Consort Liang sekarang berdiri. Consort Liang hanya menyahut kalau Qing Chuan bukan pelayan biasa karena ia telah berhasil membuat Yinsi jatuh cinta padanya. Dengan segan, Qing Chuan pun duduk.


Consort Liang mulai bercerita kalau ia ingin menjodohkan Yinsi, tapi Yinsi malah menuduhnya tidak pernah melakukan apapun untuknya. Itu memang benar karena setelah Yinsi lahir, ia bertengkar dengan Kaisar dan kemudian mengunci dirinya. Ia dan Yinsi tidak bedanya seperti orang asing. Perpisahan selama 10 tahun itu tidak akan bisa diperbaiki dalam beberapa hari.
Consort Liang menyuruh Qing Chuan untuk membawakan sup itu untuk Yinsi, tapi ini bukan berarti ia setuju dengannya, ia hanya tidak ingin Yinsi tidak memakan sup itu jika orang lain yang mengantarkannya. Qing Chuan mengerti. Consort Liang menambahkan kalau ada dua wanita penting dalam kehidupan seorang pria, ibu dan istrinya. Sebagai ibu ia sudah berhutang banyak pada Yinsi, oleh karena itu ia menginginkan istri yang terbaik untuk Yinsi dan yang jelas itu bukan Qing Chuan. Ia pun menyuruh Qing Chuan segera pergi.


Yinsi sedang menulis kaligrafi yang isinya Qing Chuan. Tiba-tiba Ning Xian datang mencarinya. Yinsi berusaha menutup pintu, tapi Ning Xian berhasil masuk. Ia merebut kertas kaligrafi itu dan membacanya. Ia bertanya pada Yinsi mengapa ia menolak perjodohan mereka, apa yang kurang pada dirinya? Yinsi menjawab kalau dalam pikirannya tidak ada hal baik tentangnya. Ning Xian tidak percaya dan tiba-tiba mencium pipi Yinsi. Yinsi kaget dan bertanya apa yang baru saja ia lakukan


Ning Xiang berkata kalau ia ingin membuktikan kalau ia tidak seperti yang dipikirkannya. Yinsi berusaha menjauh tapi Ning Xiang menghalanginya sehingga ia tidak bisa pergi. Ia bahkan membuat Yinsi tersandung dan jatuh ke atas tempat tidur. Ning Xian kemudian naik ke tempat tidur dan duduk diatas tubuh Yinsi. Ia berusaha menciumnya walaupun insi berusaha menghindar. Pada saat yang sama, Qing Chuan datang untuk mengantarkan sup. Ia kaget melihat Yinsi dan Ning Xian dalam posisi seperti itu dan segera pergi.
Dengan tergagap Yinsi memanggilnya dan berusaha mengejarnya, tapi Ning Xian memegang tangannya dan bertanya apakah ia benar-benar menyukai Qing Chuan? Yinsi membenarkan. Ning Xian tidak percaya dan berkata kalau Qing Chuan hanyalah seorang pelayan. Yinsi tidak peduli siapa Qing Chuan yang jelas ia menyukainya. Ning Xian terlihat kaget dan melepaskan pegangannya.


Qing Chuan berlari dilorong istana sambil menangis. Setelah cukup jauh dari kamar Yinsi, ia berhenti dan berpikir dalam hati, ia sudah bersiap untuk melepaskan Yinsi, tapi kenapa hatinya sakit ketika melihat Yinsi dan Ning Xian? Apakah ia benar-benar jatuh cinta padanya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan.


Keika Yinsi akan pergi, Ning Xian menghentikannya. Yinsi langsung memegang kepalanya karena kesal. Ning Xian bertanya sebaiknya ia yang menjelaskan apa Yinsi yang menjelaskan. Yinsi kaget, apakah Ning Xian mau menjelaskan kejadian ini pada Qing Chuan.
Ning Xian berkata sebagai gadis Mongolia, ia menginginkan hubungan yang saling menyayangi dan keserasian. Sebagai gadis Mongolia, dijodohkan dengan orang yang tidak menyukainya sama dengan menyakiti diri sendiri. Yinsi orang yang baik begitu pula dengan Qing Chuan. Yinsi ingin berterimakasih padanya tapi Ning Xian menghentikannya dan berkata kalau Yinsi pasti akan rugi karena tidak memilihnya.


Ning Xiang menyeret Qing Chuan ke sebuah taman. Qing Chuan memberitahunya kalau ia masih punya banyak pekerjaan, tapi Ning Xian tidak peduli. Ia kemudian menjelaskan kalau tadi ia yang memaksa Yinsi. Ia sangat sakit hati ketika tahu Yinsi menolaknya. Jadi ia ingin menggodanya untuk membuktikan apakah ia menyukainya atau tidak. Ning Xian bertanya apakah Qing Chuan tidak ingin tahu jawabannya? 


Qing Chuan membuang muka dan berkata kalau ia tidak ingin tahu. Ning Xian mencemoohnya kalau hati dan mulut berbeda. Ia kemudian memberitahu Qing Chuan kalau Yinsi menolaknya. Qing Chuan kaget. Ning Xian menambahkan kalau Yinsi berkata jika hanya ada Qing Chuan di hatinya. Qing Chuan dengan dingin berkata kalau ia tidak menyukai Yinsi. Ning Xian tidak percaya karena reaksi Qing Chuan tadi menunjukkan kalau ia cemburu padanya. Melihat matanya yang merah pasti ia habis menangis.
Qing Chuan masih membantah. Ning Xian pun menggodanya kalau Yinsi adalah miliknya.
Qing Chuan langsung memegang tangannya, Ning Xiang tersenyum dan berjanji tidak akan menggodanya lagi. Ia menambahkan kalau ia akan memperoleh pria yang 100 kali lebih baik dari Yinsi. Setelah itu ia memanggil Yinsi dan menyuruhnya keluar. Qing Chuan terlihat kaget.


Yinsi keluar dengan malu-malu. Karena merasa malu, Qing Chuan langsung melarikan diri. Yinsi mengejarnya dan ketika berhasil menghentikannya ia langsung memeluk Qing Chuan. Karena kesalahpahaman ini sudah dibereskan, ia meminta Qing Chuan untuk tidak meninggalkannya. Ia tahu apa yang ada dipikirannya dan berniat untuk menyelesaikannya sekaligus. Dari kejauhan Ning Xian memandang mereka dengan perasaan lega.
Di istana Chen Qian, Yintahng sedang menceritakan apa saja yang terjadi antara Yinsi dengan Qing Chuan. Consort Liang kaget karena ternyata Yinsi begitu keras kepala.  Yinthang menenangkannya dan berjanji akan membantunya.


Tiba-tiba Yinsi masuk sambil membawa Qing Chuan. Mereka berdua berlutut. Yinsi berkata pada ibunya kalau ia sangat mencintai Qing Chuan dan ingin hidup bersamanya. Consort Liang terlihat kesal dan bertanya pada Yinsi apakah ia ingin membuatnya marah. Yinsi menjawab kalau ia hanya ingin mengemukakan keputusannya.


Ia kemudian bertanya apakah ibunya tahu cerita tentang sumpah tangan terbelah. Yinthang langsung menyahut kalau itu tentang bagaimana seorang pria menunjukkan cintanya pada seorang wanita. Ia melukai tangannya dan darahnya digunakan untuk bersumpah. Mereka tidak bisa mencintai orang lain lagi jika tidak surga dan neraka akan menolak mereka. Yinsi menambahkan, luka pertama untuk janji cinta sehidup semati dan yang kedua sebagai saksi untuk surga, luka ketiga  agar mereka selalu bersama dan tidak terpisahkan. Setelah itu ia mengambil belati dan melukai tangannya. Qing Chuan dan Consort Liang langsung panik. Yinsi berkata entah ibunya setuju atau tidak, ia sudah membuat keputusan. Yinsi langsung pergi sambil menarik tangan Qing Chuan.


Consort Liang heran kenapa Yinsi berbuat begini. Ia bingung tidak tahu harus berbuat apa. Yinthang menenangkannya. Kelihatannya mereka tidak bisa membuat Yinsi menyerah, kadi mereka harus membuat Qing Chuan yang menyerah. Mendekati Qing Chuan secara langsung tidak akan berhasil. Mereka harus membuat teman-temannya sengsara, itu yang akan membuat Qing Chuan takluk. Ia ingat kalau Qing Chuan punya seorang teman yang bernama Xiao Chun. Ia biasa mengantarkan baju jahitannya ke istana. Consort Liang mengangguk.


Di istana Ciu Xiu, tabib memeriksa Selir Xi, ternyata ia hamil. Tabib menyarankan agar ia berhati-hati, nanti ia akan memberi obat agar Selir Xi melahirkan lebih cepat dua bulan sehingga tidak ada yang curiga. Selir Xi sangat senang dan memberi tabib itu hadiah, jika anaknya lahir, ia akan memberi hadiah lebih banyak lagi. Ketika ia sendirian, ia berpikir dalam hati, karena ia sudah hamil, maka “seseorang” tidak boleh ada lagi.


Malamnya, Selir Xi terbangun, ternyata disampingnya ada Xiao Chun. Selir Xi memberitahunya kalau ia hamil dan ini terakhir kalinya mereka bertemu. Xiao Chun senang karena ia akan menjadi seorang ayah, tapi Selir Xi mengoreksi perkataannya, ini adalah anak Kaisar. 


Ia kemudian berdiri dan memberi Xiao Chun hadiah. Ia tidak ingin agar Xiao Chun hidup sengsara, jadi ia memberinya uang agar ia membuka bisnis atau mencari istri. Xiao Chun tidak bisa menerimanya, tapi Selir Xi memaksa, ia tidak ingin punya hutang padanya. Jika tidak suatu hari Xiao Chun akan merindukan anak yang dikandungnya dan mereka tidak akan bisa hidup tenang.

6 comments:

Anonim mengatakan...

akhirnya muncul juga... setiap ke blog ini pasti cari lanjutan sinopsisnya. Makasih ya Mbak...

wiwik17211462 mengatakan...

tlg lanjutin trus y mbakkk...
semangaatt... ^^

alfimutiari mengatakan...

di tungguuuu lanjutannya :)
SEMANGAT

Anonim mengatakan...

lanjutannya belum ada yaaaa

Anonim mengatakan...

Seru banget! Tolong dilanjutin ya,, pliss..
Klo ga salah da 39 episode y. Ditunggu 14eps lage..

Maiya Azyza Hadi Rahman mengatakan...

Lanjutannya belum ya???
ditungggu lanjutannya
:)

Posting Komentar