Pages

15/04/13

BOOK OF THE HOUSE OF GU EPISODE 1


Narasi:  Di sebuah hutan yang gelap dan berbahaya, dimana manusia tidak berani datang, tempat dimana hanya roh yang menjaga hutan yang bisa memasukinya, hutan itu disebut Taman Sinar Bulan. Didalam hutan tersebut tinggal roh yang sudah menjaga tempat itu selama 1000 tahun. 
 

Pada suatu malam, seorang pendeta berlari sambil berteriak memanggil roh penunggu hutan, Gu Wol Ryung (Choi Jin Hyuk). Tapi ternyata Wol Ryung sedang tidak berada dihutan tersebut. Sang pendeta kesal dan menduga kalau Wol Ryung sedang melakukan sesuatu. Dan ini bukan pertama kalinya.
 

Wol Ryung sedang berlari di dalam hutan. Ia mendengar suara drum dan langsung merasa penasaran. Dari suatu tempat yang tinggi, ia melihat cahaya terang yang berasal dari sebuah rumah gisaeng. Di rumah tersebut, seorang gisaeng sedang memainkan drum untuk menghibur kaum bangsawan.
 

Tiba-tiba Wol Ryung melihat sebuah kereta tahanan mendekat. Didalam kereta tersebut ada seorang anak laki-laki dan dua orang gadis. Seorang penjaga menyuruh mereka keluar, tapi ketiganya hanya diam penuh keraguan. Penjaga itu menjadi marah dan berteriak pada mereka. Gadis pertama segera turun, sedangkan gadis kedua turun dengan lambat, bajunya penuh dengan bercak darah. Dia adalah Yoon Seo Hwa (Lee Yoon Hee). Penjaga tersebut menjadi tidak sabar dan mendorong Seo Hwa yang membuatnya terjatuh. Adik Seo Hwa berteriak pada penjaga karena memperlakukan mereka dengan kasar,  Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga bangsawan. Penjaga tersebut menjadi marah, karena mereka hanyalah anak-anak  pengkhianat. Pelayan Seo Hwa, Dam, merasa tidak terima dan mengingatkan penjaga kalau ayah Seo Hwa dulu pernah menolongnya. 
 
 
Penjaga mendorong adik Seo Hwa dan kemudian mengetuk pintu sebuah rumah. Seorang pelayan keluar dan menyuruh, Seo Hwa, adiknya dan Dam masuk ke dalam rumah. Seo Hwa ragu-ragu dan bertanya tempat apa ini. Pelayan tersebut berkata kalau ini Choon Hwa Gwan (rumah gisaeng)
Didalam rumah tersebut, Kepala Gisaeng Soo Ryun selesai memainkan drum. Semua orang memujinya. Gisaeng yang lain berkata kalau para bangsawan terpesona padanya. Soo Ryun membentak mereka karena kata-katanya yang tidak sopan dan terlalu vulgar. Seorang pelayan mendekati Soo Ryun dan melapor padanya.
 

Di luar, Seo Hwa berkata kalau ia tidak mau masuk ke dalam, ia lebih baik mati daripada masuk ke dalam. Seorang pelayan berteriak padanya dan berusaha menariknya masuk, tapi adiknya berusaha menahan. Mereka sedang tarik-menarik, Soo Ryun keluar dan bertanya siapa mereka. Pelayan memberitahunya kalau mereka adalah anak-anak pengkhianat. Seo Hwa membantah, ayahnya hanya dijebak. Soo Ryun menyuruh Seo Hwa masuk dan melakukan apa yang Soo Ryun inginkan. Seo Hwa berkeras kalau ia tidak ingin menjadi gisaeng.
 

Soo Ryun merasa tersinggung dan menyuruh pelayannya untuk melucuti baju Seo Hwa. Seorang pelayan melucuti baju Seo Hwa yang membuat Wol Ryung terkejut. Sedangkan adik Seo Hwa dan Dam berteriak. Dengan gemetar karena malu, Seo Hwa berusaha menutupi badannya. Soo Ryun menyuruh pelayannya untuk mengikat Seo Hwa di pohon dan tidak memberinya makanan maupun minuman sampai dia mengijinkan dan juga mengurung adik beserta pelayannya di gudang.
Seo Hwa bertanya pada seorang pelayan wanita apa yang mereka lakukan padanya. Pelayan itu menjelaskan kalau mereka sedang berusaha menghilangkan sifat arogan kebangsawanannya. Seo Hwa ditinggalkan di depan gibang (rumah gisaeng) dan ia pun menangis, “Bagaimana seseorang melakukan ini pada orang lain?”, kemudian berteriak, “Tolong lepaskan aku!”
 

Wol Ryung memandang Seo Hwa dengan penuh simpati, sinar biru mulai melayang di sekitarnya. Ia ingin menolong Seo Hwa, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Ia mengingatkan dirinya, “ Aku berjanji pada temanku (pendeta, Soo Jung) kalau aku tidak akan mencampuri urusan manusia.” Ia pun beranjak pergi, tapi ia mendengar Seo Hwa menangis, “Tolong aku.” Wol Ryung hanya bisa memandangnya dengan sedih.
 

Flashback
Seo Hwa berlari masuk ke dalam rumahnya dan melihat ayahnya dituduh berkhianat terhadap negara. Ayahnya bertanya pada seorang pejabat , Joo Gwan Woong, “ Kenapa kau bisa melakukan ini padaku?” Gwan Woong menjawab, “Karena kau memandang rendah diriku.” Ia pun mendekat dan berbisik, “Putrimu akan kujadikan gisaeng dan aku akan sering mengunjunginya.” Ayah Seo Hwa menjadi marah dan merebut sebuah pedang, tapi Gwan Woong menusuknya sebelum ia bisa melakukan apapun dan darah terciprat ke baju serta wajah Seo Hwa. Seo Hwa shock dan kemudian berteriak
 

Kembali ke masa sekarang. Gwan Woong sedang bersenang-senang di gibang. Soo Ryun masuk ke dalam ruangan dan memberi selamat karena Gwan Woong mendapatkan promosi. Gwan Woong menjelaskan kalau ia memperoleh promosi karena berhasil menangkap seorang pengkhianat. Soo Ryun bertanya, “Bukankah dia teman anda?” Gwan Woong berkata, walaupun mereka berteman, ia tidak boleh membela seorang pengkhianat”.
Gwan Woong berkata kalau ia datang karena ingin meminta tolong. Ia menjelaskan kalau putri teman pengkhianatnya akan dijadikan gisaeng di gibang ini dan ia ingin jadi pria pertama yang memilikinya. Soo Ryun tidak percaya Gwan Woong tega melakukan hal ini. Gwan Woong bertanya berapa lama mempersiapkan Seo Hwa menjadi seorang gisaeng. Soo Ryun terlihat tidak senang dan memberitahunya kalau semua persiapan tersebut membutuhkan waktu 2-3 bulan. Gwan Woong memberitahunya kalau sekarang ia adalah orang yang sibuk dan meminta supaya Seo Hwa menjadi gisaeng dalam 5 hari. Soo Ryun berusaha protes, tapi Gwan Woong berkeras.
 

Pagi pun tiba, Seo Hwa terlihat pucat dan kedinginan. Para penduduk mulai berdatangan untuk melihat dan menghinanya. Anak-anak melemparinya dengan batu, hingga kepala Seo Hwa terluka. Seo Hwa teringat perkataan pelayan Soo Ryun tentang harga diri seorang bangsawan dan bersumpah pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan pernah menjadi gisaeng. 
 
 
Dari kejauhan Wol Ryung memandanginya. Keadaan Seo Hwa mulai melemah. Wol Ryung bingung, ia sangat ingin menolong Seo Hwa, tapi ia tidak bisa.
Soo Ryun sedang melukis ketika pelayan memberitahunya kalau Seo Hwa sudah diikat selama 3 hari. Ia juga mengingatkan Soo Ryun kalau waktu mereka tidak banyak lagi.
Seo Hwa masih diikat di pohon dan berkata pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan menjadi gisaeng. Tubuhnya sangat lemah dan ia pun pingsan. 
 
 
Wol Ryung kaget dan langsung melompat turun dari atas pohon untuk membantunya tapi Soo Jung menahannya. Soo Jung mengingatkan kalau ia tidak boleh mencampuri takdir Seo Hwa. Wol Ryung tidak peduli dan tetap ingin meolong Seo Hwa tapi Soo Jung melemparkan gelang manik ke pergelangan tangan Wol Ryung dan mengingatkan tentang janjinya. Wol Ryung tetap ingin pergi dan berkata, “Hanya kali ini saja. Aku hanya ingin membantu.” Soo Jung, “ Hanya satu kali pun tetap berbahaya. Sekali menjadi dua kali dan dua kali menjadi tiga kali.”
 
 
 Soo Jung mengingatkannya kalau ada batas antara dirinya dengan manusia biasa. Wol Ryung menjadi marah dan bola matanya berubah warna. Ia melempar sesuatu ke arah Soo Jung, dan ternyata untuk membunuh ular berbisa yang akan menyerangnya. Wol Ryung, “Lihat, aku menolongmu kan.” Wol Ryung tersenyum dan berbalik untuk menolong Seo Hwa, sayangnya Seo Hwa sudah tidak ada disana lagi. Wol Ryung terlihat kecewa.
Seo Hwa ternyata dibawa masuk ke gibang dan ia mulai siuman. Dam memberitahunya kalau ia demam semalaman dan Soo Ryun yang memerintahkan untuk membawanya masuk. Seo Hwa langsung bangun dan berkata kalau ia berjanji untuk tidak menjejakkan kakinya ke dalam gibang tersebut. Tiba-tiba Soo Ryun masuk ke dalam ruangan dan ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis yang sudah dijual untuk menjadi gisaeng, “Seorang Gisaeng harus melakukan apa yang harus dilakukannya.”  Ia harus menuangkan minuman, menjual senyum dan tubuhnya. Seo Hwa tetap keras kepala dan memilih untuk di ikat lagi. Ia berusaha pergi, tapi masih terlalu lemah.
 

Soo Ryun menunjukkan pada Seo Hwa kalau adiknya sedang di ikat dan siap menerima hukuman pukul, “Hidup adikmu tergantung pada dirimu.” Adik Seo Hwa menenangkan kakaknya kalau ia tidak apa-apa. Seo Hwa hanya terdiam kebingungan, Soo Ryun pun menyuruh pelayannya mulai memukul adik Seo Hwa. Adiknya berusaha menahan tanpa berteriak supaya kakaknya tidak khawatir. Seo Hwa terlihat bimbang dan akhirnya ia tidak tahan. Ia menyuruh Soo Ryun menghentikan hukuman adiknya dan bersedia menjadi gisaeng, “Aku akan melakukan apa yang kau katakan, tolong, biarkan adikku hidup.” Adiknya menjerit tidak setuju dan Soo Ryun menyuruh pelayannya untuk membersihkan badan Seo Hwa. Adiknya hanya bisa menangis.
 

Pelayan memandikan Seo Hwa. Seo Hwa juga di tattoo sebagai tanda kalau ia gisaeng. Ia juga dibuatkan hanbok baru. Seo Hwa menjalani semua proses ini dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Soo Ryun memperhatikan ini, tapi ia tidak punya pilihan.
 

Adik Seo Hwa sedang menyapu bersama seorang pelayan ketika Seo Hwa lewat dengan wajah dinginnya. Pelayan itu berkomentar kalau Seo Hwa sangat cantik, adik Seo Hwa hanya bisa memandang kakaknya dengan sedih. Pelayan itu juga menyayangkan nasib buruk Seo Hwa karena pria pertama yang akan dilayaninya adalah Gwan Woong.
Adik Seo Hwa memberitahu Dam tentang hal ini dan meminta bantuannya. Ia kemudian membisikkan sesuatu dan Dam terkejut.  Adik Seo Hwa, “ Aku tahu kau akan dihukum karena ini, tapi aku mohon……selamatkan kakakku.”
 

Seo Hwa sedang didandani oleh seorang pelayan dan gisaeng yang lain memuji kecantikannya. Salah satu gisaeng berkomentar, apa gunanya cantik jika hidupnya bukan miliknya sendiri. Tanpa sengaja, ia berkata kalau klien pertama Seo Hwa adalah Gwan Woong. Pelayan pun segera menyuruh gisaeng-gisaeng tersebut menutup mulutnya dan pergi dari ruangan itu, tapi Seo Hwa terlanjur mendengarnya dan segera bertanya pada pelayan itu. Ketika pelayan membenarkan, Seo Hwa terlihat sangat shock. Pelayan memberitahunya kalau ini adalah takdirnya dan meninggalkan Seo Hwa sendirian.
 

Seo Hwa menangis dan teringat bagaimana Gwan Woong membunuh ayahnya. Ia segera berdiri dan mengambil sebuah penghias rambut yang berujung tajam. Ia akan menusuk dadanya dengan hiasan rambut itu, tapi ia mendengar Dam memanggil-manggil namanya. Dam segera menyuruhnya itu bertukar pakaian dengannya sehingga Seo Hwa bisa melarikan diri. Seo Hwa bertanya, “Bagaimana dengan dirimu?” Dam menjawab, “Aku akan dipukul sedikit, tapi Anda perlu melarikan diri dan tetap hidup supaya bisa membalas dendam pada Gwan Woong.” Seo Hwa memeluk Dam dan menangis. Dam, “Anda harus hidup supaya bisa mencariku lagi.” Keduanya berpelukan erat dan menangis. Sebenarnya mereka tahu kalau hukuman Dam lebih berat daripada sekedar dipukul.
 

Malamnya, Dam duduk dibelakang tabir berpura-pura sebagai Seo Hwa. Soo Ryun masuk ke dalam ruangan dan menyuruhnya bersiap. Soo Ryun segera berbalik tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Ia berbalik lagi mendekati Dam dan menyuruhnya menunjukkan mukanya. Dam diam saja membuat seorang pelayan memaksanya. Soo Ryun terkejut karena Dam menggantikan Seo Hwa.
Diluar Gibang, Seo Hwa sedang melarikan diri bersama adiknya ke hutan. Soo Ryun menampar Dam dan bertanya kemana Seo Hwa melarikan diri. Dam, “Aku hanya bertukar pakaian.” Seorang gisaeng masuk dan melaporkan kalo Gwan Woong sudah datang. Soo Ryun memerintahkan para pelayannya untuk mencari Seo Hwa kemudian menyuruh Dam untuk menggantikan posisi Seo Hwa malam ini. Dam memohon pada Soo Ryun tapi Soo Ryun mengancamnya, “Jika kau ingin hidup, kau harus melakukan apa yang aku katakan dan memastikan Gwan Woong tidak tahu sampai ia selesai denganmu.”
 

Para pria mengejar Seo Hwa dan adiknya menyusuri hutan, di tempat lain, Wol Ryung yang sedang merenung sambil memegang tali yang dulu digunakan untuk mengikat Seo Hwa ,merasa ada sesuatu yang salah.
Di gibang, Gwan Woong mengeluh karena harus menunggu Seo Hwa terlalu lama. Soo Ryun menjelaskan kalau Seo Hwa gugup dan meminta Gwan Woong untuk mematikan lilin ketika mereka bersama. Ia tidak memberitahu Seo Hwa kalau klien pertamanya adalah Gwan Woong karena dia adalah pembunuh ayahnya. Gwan Woong setuju karena ia tidak mau Seo Hwa bunuh diri sebelum ia bersenang-senang dengannya.
Dam masuk kedalam ruangan. Ia teringat ancaman Soo Ryun, tapi Dam tetap berusaha melarikan diri saat Soo Ryun meninggalkan ruangan dan mengunci pintu dibelakangnya. Dam menggedor-gedor pintu, sayangnya, Gwan Woong muncul dibelakangnya dan menariknya dengan kasar. Dam meronta saat Gwan Woong menarik bajunya. Gwan Woong, “Aku suka gadis yang meronta dan kau adalah milikku.” Dam menangis, “Nona.”
 

Di hutan, Seo Hwa tersandung dan merasakan kalau Dam memanggil namanya. Adik Seo Hwa mendesaknya untuk berlari. Seo Hwa ingat permohonan Dam supaya ia terus bertahan, Seo Hwa pun memutuskan kembali berlari. Sayangnya para pengejar mereka sudah begitu dekat.
Di gibang, Soo Ryun dan pelayannya ada diluar ruangan tempat Dam berada. Mereka tampak khawatir ketika mendengar teriakan Dam. Pelayan Soo Ryun khawatir kalau terjadi sesuatu pada Dam, Soo Ryun hanya bisa berkata,”Kumohon bertahanlah, supaya Seo Hwa dan kita semua bisa hidup.”
 

Seo Hwa tersandung lagi dan kakinya terluka parah. Ia menyuruh adiknya pergi, mereka akan bersembunyi secara terpisah. Nanti jika keadaan sudah aman, mereka bisa saling mencari. Adiknya menolak, tapi Seo Hwa mengingatkan kalau mereka harus hidup demi Dam. Ia mendorong adiknya. Adik Seo Hwa, “Kakak harus tetap hidup. Aku akan datang dan mencari kakak, dimanapun kakak berada di dunia ini.” Adik Seo Hwa pun pergi. 
 
 
Seo Hwa berusaha berdiri, ia mengeluarkan hiasan rambutnya dan berkata, “Maafkan aku Dam. Karena hidupku harus berakhir.Paling tidak aku sudah menyelamatkan adikku, kumohon maafkan aku.” Ia mengangkat hiasan rambutnya dan bersiap menusukkan ke tubuhnya. Tapi sebelum ia bisa melakukannya, cahaya-cahaya biru kecil mulai mengambang disekitarnya. Seo Hwa melihat dengan kaget. 
 
 
Ia kemudian pingsan, tapi Wol Ryung menangkap tubuhnya sebelum ia terjatuh ke tanah.
 

Seo Hwa membuka matanya dan melihat Wol Ryung. Ia berbisik, “ Tolong aku, Tolong….” Dan pingsan lagi.
 

Para pengejarnya masih mencari mereka, tapi tiba-tiba ada cahaya-cahaya biru kecil yang muncul disekitar mereka. Salah seorang dari mereka bertanya apakah itu kunang-kunang atau hantu cahaya. Pemimpin mereka melihat sebuah bayangan dan berteriak, “Apakah kau manusia? Jika benar, jawablah.” Pria yang lain berbisik, “Apakah itu serigala atau harimau?”. Pemimpin mereka memastikan kalau itu bukan keduanya. Ia maju sambil menghunus pedang, tapi ia terlempar ke belakang, membuat pedangnya menancap tepat diantara dua kakinya.
 

Seorang pria berteriak, “Apakah kau seorang pria?” tapi ia hanya mendengar geraman marah Wol Ryung, menyuruh mereka untuk segera pergi. Ia mengumpulkan daun-daun disekitarnya dan membentuk kepala serigala yang mengambang di udara. Ia juga menciptakan badai dengan menggunakan barang-barang yang ada di hutan ditambah dengan suara yang memekakkan telinga. Semua pria pengejar Seo Hwa menjadi ketakutan dan segera pergi dari hutan itu.
 

Di gibang, Gwan Woong keluar dari kamar dan berteriak memanggil Soo Ryun. Soo Ryun segera datang dan Gwan Woong menamparnya. Soo Ryun heran kenapa Gwan Woong melakukan itu padanya. Gwan Woong bertanya kenapa Soo Ryun memberinya gadis budak untuk melayaninya. Ia meminta supaya Seo Hwa dibawa ke hadapannya sekarang. Soo Ryun berbohong kalau Seo Hwa baru bisa melayaninya kalau ia selesai dididik dan resmi terdaftar sebagai gisaeng. Ia meminta Gwan Woong untuk menunggu, tapi Gwan Woong tidak peduli dan mengancam akan membunuh Soo Ryun. Soo Ryun, “Apakah dengan membunuhku, perasaan anda akan lebih baik?” Gwan Woong terlalu marah dan serius ingin membunuh Soo Ryun. Ia meminta pelayan untuk mengambil pedangnya. Pelayan Soo Ryun langsung berlutut dan memohon ampunan untuk tuannya. Ia bercerita kalau sebenarnya Seo Hwa melarikan diri. Soo Ryun meminta supaya Gwan Woong tenang, ia yang akan mencari Seo Hwa. Tapi Gwan Woong tidak mau diam. Ia memanggil polisi, bahkan pemburu budak. 
 
 
Soo Ryun melihat ke dalam kamar dimana Dam sedang menangis sambil mencengkeram bajunya. Pengorbanannya ternyata sia-sia.
Paginya, adik Seo Hwa terbangun di hutan. Ia membasuh mukanya dan mengkhawatirkan kakaknya. Sayangnya, para pemburu budak melihatnya dan segera mendekatinya. Mereka pun menangkap adik Seo Hwa.
 

Di gibang, Dam mendengar kalau adik Seo Hwa tertangkap. Dam segera berlari ke tempat dimana adik Seo Hwa akan digantung. Dam menangis melihatnya. Adik Seo Hwa melihat Dam ketika simpul gantung dikalungkan ke lehernya. Gwan Woong bertanya padanya kemana Seo Hwa melarikan diri. Adik Seo Hwa tidak mau memberitahunya, “ Aku marah karena harus mati tanpa bisa membunuhmu terlebih dahulu!” Adik Seo Hwa pun digantung dan Dam hanya bisa memandanginya sambil menangis. Sebelum meninggal, adik Seo Hwa berpikir, “Dam, aku tidak akan pernah melupakan apa yang kau lakukan.”. 
 
 
Ia dan Dam teringat masa bahagia mereka ketika kecil.
Dalam keadaan shock, Dam kembali ke gibang. Dia hanya bisa menangis, kemudian ia melihat balok di langit-langit.
Pelayan yang mengejar Seo Hwa melapor pada Soo Ryun kalau mereka sesuatu yang mirip gumiho berekor sembilan.
Seorang polisi melaporkan hal yang sama pada Gwan Woong. Gwan Woong berpikir kalau itu omong kosong, tapi polisi tersebut menengaskan kalau polisi yang lain juga berada disana dan mengatakan hal yang sama.
 

Di gibang, pelayan Soo Ryun berpendapat kalau Seo Hwa sudah dimakan gumiho tersebut. Tiba-tiba seorang gisaeng datang dengan panik. Soo Ryun dan pelayannya segera masuk ke kamar Dam dan menemukannya sudah gantung diri.
 

Seo Hwa terbangun didalam sebuah gua. Kakinya yang terluka sudah diperban. Ia melihat kalo gua itu sangat indah dalam cahaya lilin. Ia pun berjalan keluar, gelembung cahaya biru yang mengapung di udara ada dimana-mana. Sungguh indah.
 

Wol Ryul, “Akhirnya kau bangun.” Seo Hwa bertanya siapa dirinya. Wol Ryul memberitahunya kalau Seo Hwa sudah tidur seharian dan membuatnya khawatir. Seo Hwa bertanya sekali lagi dan akhirnya Wol Ryul menyebutkan namanya. Ia menambahkan, “Aku sudah mengusir orang yang mengejarmu. Tidak akan ada orang yang akan menyakitimu atau mengikatmu, jadi jangan khawatir.” Seo Hwa terkejut mendengar perkataannya. Ternyata Wol Ryul tahu begitu banyak tentang keadaannya.
Gwan Woong memanggil kepala pasukan istana Dam Pyung Joon (Jo Sung Ha).  Ia memerintahkan Pyung Joon untuk membunuh gumiho yang ada dihutan karena gumiho tersebut mengganggu masyarakat dan Pyung Joon pun bersumpah akan menangkap gumiho tersebut.
 

Pyung Joon memimpin sepasukan besar tentara masuk ke dalam hutan. Ia dipandu oleh orang-orang yang mengejar Seo Hwa semalam. Soo Jung yang sedang bersembunyi di hutan melihat mereka dan segera berlari memberitahu Wol Ryul.
 

Soo Jung melihat Seo Hwa ada di Taman Sinar Bulan. Tiba-tiba Wol Ryul muncul dibelakangnya, membuat Soo Jung kaget. Soo Jung memberitahunya kalau sepasukan besar tentara sedang berada di hutan. Soo Jung kemudian bertanya pada Wong Ryul siapa gadis itu, Wol Ryul menjawab kalau gadis itu adalah Seo Hwa. Soo Jung, “Jadi kau ikut campur?” Wol Ryul menyahut, “Dia yang berlari ke hutanku duluan dan meminta bantuan.” Soo Jung menasehati Wol Ryul untul mengembalikan Seo Hwa ke hutan. Wol Ryul menjelaskan kalau Seo Hwa sedang dikejar, jika ia tertangkap, ia bisa mati.
Soo Jung berkata kalau itu takdir Seo Hwa dan itu bukan urusan Wol Ryul. Dengan tegas, Wol Ryul berkata, “Tidak, sekarang menjadi urusanku.”Soo Jung, “Sejak kapan takdir manusia menjadi urusanmu?” Wol Ryul menjawab sambil memandang Seo Hwa dan tersenyum, “Sejak aku memberikan hatiku pada wanita itu.”
 

Wol Ryul bertanya pada Soo Jung, “Ngomong-ngomong, dimana aku bisa menemukan Buku Keluarga Gu?” Soo Jung bertanya kenapa, Wol Ryul tidak berpikir tentang…….itu kan? Wol Ryul mengangguk, “Iya, aku ingin menjadi manusia.”
Di tempat lain, Gwan Woong berkata kalau gumiho itu harus ditemukan, begitu juga dengan mayat Seo Hwa.
Narasi: Di hutan yang berbahaya diatas gunung yang tinggi, dimana manusia tidak berani masuk. Tempat dimana hanya roh yang melindungi hutan bisa masuk. Di Taman Sinar Bulan, legenda menyedihkan mereka baru saja dimulai…..
 

Soo Jung bertanya pada Wol Ryul, “Apa yang kau katakan? Kau mau menjadi manusia? Kamu?”
Wol Ryul, “Ya, aku ingin menjadi manusia.” Ia tersenyum ceria sambil memandang Seo Hwa.



Cre:www.dramabeans.com

2 comments:

Anonim mengatakan...

Episode 1-2 >,< mellow class berat! ~,~

Amisam mengatakan...

jadi kepengin ke Korea lagi ...blognya keren nih.

Posting Komentar