Pages

15/05/12

ROOFTOP PRINCE EPISODE 11


I'm Back.................
Lee Gak mengejar Park Ha dan menghentikannya. Ia menyuruh Park Ha untuk bertanggungjawab dan mengeluarkan ponselnya. Ponsel itu tidak mau menyala karena kena tanah. Park Ha minta maaf. Lee Gak memperingatkan, jika Park Ha bercanda seperti ini lagi, ia akan menghukumnya. Lee Gak menambahkan kalau ia lapar. Park Ha berkata kalau yang kalah harus membayar makanan dan langsung mengayuh sepedanya. Lee Gak  hanya memandangnya dengan serius, ia berbohong pada Park Ha kalau ponselnya mati.


Mereka kemudian berjalan sambil menuntun sepedanya dan Lee Gak bertanya apakah Park Ha baik-baik saja, apa ia tidak capek. Park Ha menjawab kalau ia merasa lebih baik. Ia kemudian mendapat telpon dari ibu.
Ibu menyuruhnya cepat datang. Pada saat yang sama Sena meninggalkan rumah ibu. Saat ia pergi, ia tidak melihat Park Ha dan Lee Gak yang sedang menuju rumah ibu. Park Ha berkata kalau ini rumah ibunya dan menyuruh Lee Gak menunggu sebentar.


Ibu memberinya beberapa dokumen pajak dan menyuruh Park Ha untuk mengerjakannya. Ia juga memberikan ponsel Tae Yong yang dulu dimasukkan ke dalam tas belanjaannya. Ia mengira ponsel itu terbawa olehnya ketika terakhir kali ia datang ke rumah Park Ha. Dari gambar latarnya, ia tahu kalau ponsel itu milik salah satu pria di rumah Park Ha.

02/05/12

ROOFTOP PRINCE EPISODE 10

 
Maaf ternyata sakitku cukup parah dan harus bedrest. Jadi ga bisa posting deh. Udah pada nunggu lama ya.....
Park Ha berjalan untuk menemui Lee Gak. Disaat yang sama Sena memberikan saputangannya yang hilang dan Lee Gak sangat tersentuh karena mengira Sena harus mencarinya semalaman hanya demi saputangan itu. Sena langsung memeluk Lee Gak ketika ia melihat Park Ha berjalan ke arah mereka dan kemudian berpura-pura mencium Lee Gak. Park Ha melihatnya dan berbalik sambil menangis.
Park Ha merasa sangat kecewa dan berjalan pulang ke rumah.
 

Sena dan Lee Gak berjalan menuju menara Namsan. Sena bertanya apakah Lee Gak benar-benar belum pernah kesana. Sena berbohong kalau ia juga belum pernah kesana karena ia tidak ingin pergi sendirian maupun pergi dengan orang yang pernah kesana. Ia ingin pergi bersama Lee Gak sehingga mereka bisa berbagi perasaan pertama kali kesana.
Park Ha terus berjalan dan akhirnya ia tiba di sebuah lapangan basket. Ia pun memutuskan untuk bermain sendirian.
 

Sena dan Lee Gak melihat lampu kota. Sena berkata kalau orang-orang pasti hidup di lampu-lampu itu, “Dari lampu-lampu itu kau bisa melihat dari jauh kalau mereka terlihat bahagia, tapi jika kau mendekat, kau akan melihat orang yang bertengkar, merasa sedih atau banyak orang yang merasa kesepian.” Lee Gak mengulangi kata-katanya. Ia kemudian bertanya apakah Sena terlihat cantik dari kejauhan atau dari dekat. Sena tidak tahu karena ia tidak bisa melihat dirinya sendiri. Sena balas bertanya apakah Lee Gak suka melihat pemandangan dari dekat atau dari kejauhan. Lee Gak menjawab kalau ia melihat pemandangan dari jauh, maka ia ingin ada didalamnya itu bagus, tapi jika ia melihat yang disukainya di kejauhan dan ternyata dilihat dari dekat juga sama bagusnya, bukankah itu lebih baik. Baginya orang-orang  juga sama. Lee Gak kemudian mengajaknya pulang karena hari sudah malam, tapi Sena ingin naik kereta kabel.
 

Chi San, Man Bo dan Yong Sul sedang lewat dan melihat Park Ha. Chi San langsung bertanya apakah ia sudah baikan, Park Ha langsung melemparkan bola ke arahnya dan berkata kalau ia baik-baik saja. Man Bo heran, seharusnya saat ini ia makan malam bersama Lee Gak, apakah ia tidak bertemu dengannya. Karena melihat Park Ha berdandan, ia menduga kalau ia pergi menemui Lee Gak. Park Ha berbohong kalau ia pergi makan bersama temannya.

27/04/12

THE KING 2 HEARTS EPISODE 9


Maaf, kemaren aku sakit, jadi postingnya telat. Makasi ya tetep setia ma bengawanseoul.
Bong Gu menyapa Jae Ha dan menghormat padanya, berpura-pura kecewa karena Jae Ha tidak mengingatnya, lagipula kejadian itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu.
Ia kemudian memandang potret Jae Kang, ia menyesal kenapa semua itu terjadi, bahkan ia sempat meneteskan airmata, “Ia sangat menyukai sulapku.”
Mereka duduk dan makan  bersama dan Bong Gu bertanya tentang masakan kerang yang ada dimeja, melihat kalau masakan itu disiapkan bukan dengan cara yang tradisional. Jae Ha berkata kalau itu masakan kesukaan keluarga kerajaan. Jika keluarga kerajaan menyukainya, maka itu akan jadi tradisi. Ketika menyebut kata Raja, Bong Gu jadi sedikit gusar, tapi kemudian pura-pura tertawa.
Jae Ha membual kalau masakan itu dibuat oleh Calon Ratu dari resep yang diturunkan dari ibunya. Bong Gu bertanya apa ia menyukai wanita Korea Utara itu. Ia membicarakannya dengan nada santai. Jae Ha memperingatkannya untuk memilih kata-katanya dengan bijak.
Ia berkata, “Ia adalah calon Ratu Negara ini.” Bong Gu hanya berkomentar, “Ada kata-kata bijak: Jika kau ingin mempercayai seseorang, curigailah mereka dulu.”


Shi Kyung masuk ke kamar Jae Shin dengan berjinjit. Jae Shin tidak menyadarinya karena ia sedang mendengarkan musik. Shi Kyung melihat kaki Jae Shin tergantung keluar tempat tidur dan memutuskan untuk menyelimutinya dengan selimut.
Jae Shin ketakutan dan menolak bantuannya serta menjerit marah. Shi Kyung mencoba membantunya lagi ketika Jae Shin hampir terjatuh dan hanya membuatnya semuanya semakin buruk. Jae Shin ketakutan dan Shi Kyung panik, tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka hadiah yang di bawanya, sebuah burung kakaktua yang bisa bicara.
Shi Kyung menjelaskan dengan canggung kalau ia menemukannya di sebuah toko hewan dan burung itu kakinya patah dan kemudian ternyata burung itu kakinya tidak patah, itu karena ia melatih dirinya dan jika Putri seharusnya juga mendapatkan terapi fisik, mungkin ia akan menyukai burung itu karena burung tersebut bisa bernyanyi.
Jae Shin merasa tersinggung karena mengira Shi Kyung mengejeknya. Tapi Shi Kyung tulus. Jae Shin berteriak padanya, menyebutnya di brengsek gila dan Shi Kyung panik lagi, ia pun menyuruh burung itu bernyanyi agar Jae Shin tidak marah lagi.


Shi Kyung bernyanyi agar burung itu mengikutinya dan burung itu hanya berkata, “Bodoh Idiot! Bodoh Idiot!” Jae Shin pun tersenyum dan berkata kalau burung itu lebih baik daripada Shi Kyung dan menyuruh Shi Kyung untuk membawanya mendekat.
Shi Kyung hanya melihat ketika Jae Shin mencoba berteman dengan burung kakaktua tersebut. Ia merasa lega.

22/04/12

ROOFTOP PRINCE EPISODE 9


Nenek terus menuduh Park Ha. Park Ha berkeras kalau ia tidak mengenal Tae Yong. Karena kesal, Nenek menamparnya sedangkan Sena terlihat senang adiknya menderita.


Ketiganya kemudian pergi, nenek masih marah, bagaimana bisa ada seorang gadis yang mengerikan seperti Park Ha. Sedangkan bibi berkata kalau Park Ha memanfaatkan Tae Yong yang lupa ingatan. Nenek menyuruh Sena untuk menghubungi Tae Yong dan ia pun berbicara dengannya.
Sena kembali masuk ke dalam rumah atap dan memberitahu Park Ha kalau Tae Yong akan pergi ke rumah nenek dan ia juga harus pergi kesana. Sebenarnya nenek sudah tidak percaya lagi padanya, tapi ia ingin menanyai Tae Yong didepan Park Ha.


Lee Gak memberi tahu nenek kalau semuanya salah paham. Nenek tidak setuju, ia hilang ingatan, bagaimana ia tahu kalau ia tidak mengenal Park Ha di Amerika. Park Ha mencoba menjelaskan walaupun sketsa itu yang membuat adalah Tae Yong…..nenek langsung memotongnya, jika bukan Tae Yong siapa lagi yang menggambarnya. Lee Gak terus membela Park Ha dan berkata kalau ia bukan orang seperti itu (orang yang suka menipu).

21/04/12

ROOFTOP PRINCE EPISODE 8


Park Ha dan keempat pria yang lain pulang ke rumah baru mereka. Mereka berlima kagum melihat rumah atap itu berubah menjadi bagus. Mereka pun mengambil foto untuk kenang-kenangan. Lee Gak bertanya apa mereka menyukai rumah itu, mereka menjawab kalau rumah ini sangat mewah.
Mereka kemudian pergi berbelanja untuk pesta rumah baru. Mereka berbelanja banyak sayuran sedangkan Lee Gak memasukkan banyak yogurt ke dalam keranjang belanjaan mereka, ia kemudian mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar semuanya.
 

Yong Sul, Chi San dan Man Bo sedang melihat sekotak gula kubus. Man Bo membaca di kemasannya dan ada tulisan “gak” yang artinya kubus, ia kemudian menatap Lee Gak, karena namanya sama dan kemudian memasukkan beberapa kotak kekeranjang belanjaan. Mungkin mereka ingin memakannya untuk menyalurkan emosi mereka seperti saat mereka makan permen Park Ha.
 

Lee Gak melihat biji bunga teratai kemudian teringat nama Park Ha yang sebenarnya, Boo Young. Park Ha mendekatinya dan melihat ikan dalam akuarium. Ia berkata kalau salah satu ikan itu mirip dengan Lee Gak. Lee Gak melihatnya juga dan berkata menunjuk ke beberapa ikan dan berkata kalau ikan tersebut mirip dengan Chi San, Man Bo dan Yong Sul. Park Ha menunggu Lee Gak menunjuk ikan yang mirip dirinya, tapi Lee Gak malah mengambil biji dan berkata kalau biji itu mirip Park Ha. Park Ha langsung cemberut.  Lee Gak membeli ikan-ikan itu.

19/04/12

THE KING 2 HEARTS EPISODE 8


Jae Ha tiba di istana dan suara terompet berkabung terdengar dari atap, menandai wafatnya raja dan seorang staff meratap meminta Raja untuk kembali. Jae Ha berhenti untuk melihat mereka dan kemudian meneruskan langkahnya.


Ia masuk ke dalam kamarnya yang kosong dan gelap. Ia melihat baju berkabungnya sudah tergantung, menunggunya. Saat ia berganti pakaian, kenangan akan Jae Kang membanjirinya, senyumnya yang manis, kata-kata terakhirnya.
Akhirnya ia menangis, tapi memaksa dirinya untuk menahan airmatanya.
Hang Ah mendapat telpon dari ayahnya yang panik. Ia mengkhawatirkan keselamatan Hang Ah, karena selama ini ia mempercayakannya pada Jae Kang dan sekarang, siapa yang akan melindunginya. Hang Ah bahkan tidak mendengar perkataan ayahnya karena ia ketakutan, tapi bukan untuk dirinya dan menutup telponnya.


Hang Ah berjalan melewati aula peringatan dimana ia berpapasan dengan Jae Ha. Ia memberi hormat, “Yang Mulia.” Jae Ha berhenti dan memandangnya, matanya merah karena ia habis menangis. Sekretaris Eun menyuruhnya bergegas, tapi Jae Ha berhenti untuk memberitahu Hang Ah, “Kau  jangan memanggilku seperti itu juga.”

17/04/12

THE KING 2 HEARTS EPISODE 7


Hang Ah dan Jae Ha ketahuan sedang berciuman. Ayah Hang Ah kaget melihat mereka berdua.
Jae Ha mondar-mandir  dengan gelisah. Akhirnya terdengar pintu yang dibuka, Jae Ha pun langsung berkata, " Hyung, tadi itu ........
Tapi ternyata yang masuk adalah ayah Hang Ah.
Jae Kang duduk dengan canggung bersama Hang Ah, yang terlihat sangat ketakutan. Jae Kang bertanya, "Apa kau sangat menyukai Jae Ha?" Hang Ah hanya bisa menunduk.
Jae Kang menambahkan, "Terima kasih. Dan aku minta maaf. Kau pasti sudah mengalami banyak kesulitan karena Jae Ha." Hang Ah ternganga. Jae Kang memberitahunya kalau segalanya akan bertambah sulit, jika Ia bertunangan dengan Jae Ha.
Jae Kang berkata kalau ia tidak begitu mengenalnya, baik secara personal maupun karena kebudayaan mereka yang berbeda. Orang- orang bisa berpikir yang tidak-tidak padanya, salah paham dengannya, menilainya kemudian menyerangnya.
Jae Kang, " Bagaimana jika kau membaginya denganku? Sampai kau terbiasa. Sampai Jae Ha bisa berpikir kembali. Bagaimana jika aku berdiri dibelakangmu dan terus mengawasi.
Mungkin ia tidak terlihat bisa diandalkan, tapi ia tetaplah seorang raja, "Aku sangat sempurna jika dijadikan pelindung." mata Hang Ah mulai berkaca-kaca, Ia merasa sangat berterimakasih.
Hang Ah, "Apakah akan baik-baik saja jika itu hamba?" Jae Kang, "akan baik-baik saja karena itu dirimu."


Pembicaraan Jae Ha dengan ayah Hang Ah berbeda. Jae Ha duduk dengan tegak sedangkan ayah terus mendesah. Akhirnya ayah bertanya apakah Jae Ha menyukai Hang Ah. Jae Ha tergagap kalau merka tadinya terlalu banyak minum.....
Ayah: " Jadi ketika keluarga kerajaan Korea Selatan minum, Ia akan menarik sembarang gadis dan melakukan hal itu?" Ketika ayah bertanya sekali lagi apakah Jae Ha menyukai Hang Ah, Jae Ha tidak bisa menjawabnya. Ayah pun kesal dan langsung berdiri, “Baik,! Aku akan melaporkannya begini: Pangeran Korea Selatan mabuk, menyerah pada naluri kehewanannya dan mengacaukan perdamaian.”


Jae Ha berlutut dan memeluk kaki ayah. Ia memandang ayah Hang Ah dengan pandangan berharap, tapi ia tahu kalau ia kalah. Ia kemudian menundukkan kepalanya.